
"Tuan Arsa, beri saya waktu dan kesempatan! Jika Anda memaafkan saya, saya akan melakukan apa pun yang ingin anda lakukan!" Sekretaris yang berwajah pucat itu memohon belas kasihan.
Sekretaris itu dengan jelas bermaksud kalau Arsa Kenandra bersedia melepaskan dan memaafkannya, dia bersedia melakukan hal itu dengan Arsa Kenandra.
"Apakah menurutmu aku akan tertarik padamu? "Arsa Kenandra mencibir.
Setelah mengatakan itu, Arsa Kenandra melanjutkan.
"Sekarang ayah dan anak Keluarga Arlando sudah tidak ada di sini, aku rasa kamu tidak perlu lagi bertahan di perusahaan. Ajukan pengunduran diri kamu. Hormatilah orang lain dan diri kamu sendiri." Setelah itu, Arsa Kenandra hanya berbalik dan berjalan pergi, iya mengabaikannya. Orang seperti dia tidak pantas mendapatkan belas kasihan dari Arsa Kenandra.
Arsa Kenandra berjalan ke arah Ade Jefri. Saat ini, wajah Ade Jefri menjadi pucat karena jantungnya berdebar-debar, dan keningnya juga berkeringat dingin. Apalagi setelah Arsa Kenandra menghampirinya. Kakinya tidak bisa berhenti gemetar, yang menunjukkan betapa takutnya dia sekarang.
"Saya Arsa Kenandra, si petugas kebersihan, datang untuk melapor kepada Anda tuan Ade Jefri. Saya sudah menyiapkan rokok dan anggur Anda. Apakah Anda ingin sekarang juga? "Arsa Kenandra menatap Ade Jefri dengan senyum yang tak bisa di artikan. Dalam dua hari terakhir, Ade Jefri ini paling banyak membuat masalah dengan Arsa Kenandra. Dua hari Arsa Kenandra bertahan dalam kesabaran untuk menghadapinya. Sekarang adalah waktunya untuk menuntut. Meminta pertanggungjawaban atas segala sikap buruknya.
Mendengar perkataan tersebut, Ade Jefri gemetar karena rasa takut.
__ADS_1
"Tuan Arsa! Saya tahu saya salah. Tolong beri saya kesempatan!" Ade Jefri begitu ketakutan sehingga dia langsung berlutut di tanah dan bahkan tidak memiliki keberanian untuk melihat langsung ke arah Arsa Kenandra. Iya berlutut dengan kepala tertunduk. Dia tersadar dan kembali memikirkan hal-hal yang pernah dia lakukan, yaitu ketika iya bertindak semena-mena kepada Arsa Kenandra sebelumnya, dan kata-kata yang di ucapkan Arsa Kenandra, dan ketika dia mengetahui Arsa Kenandra adalah cucu Andi Sudiryo, hatinya bergetar, dan bulu kuduknya berdiri tegak.
Ade Jefri tahu betul bahwa dia telah bertindakm semena-mena kepada para karyawan yang memiliki jabatan di bawahnya selama ini. Dan sekarang, mungkin Arsa Kenandra ingin melumpuhkannya dan menyingkirkannya, dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membela diri karena besarnya kesalahan yang telah iya perbuat. Dan ini semua bukan soal pekerjaan, ini soal kelangsungan hidup.
Melihat Ade Jefri, Arsa Kenandra berlutut di depannya sambil tersenyum dingin.
"Ade Jefri, aku masih ingat kelakuanmu yang merajalela. Kenapa sekarang kamu berlutut seperti anjing? Dimana kesombonganmu yang kemarin melambung tinggi? " tanya Arsa.
"Tuan Arsa, saya benar-benar tahu kalau saya salah! Tolong beri saya kesempatan! " jawab Ade Jefri dengan suara gemetar terus-menerus.
"Apakah kamu tadi bilang kalau kamu salah? Kalau begitu beritahu aku dimana kesalahanmu ? " ucap Arsa Kenandra sambil menatap mantan supervisornya itu.
"Jangan bodoh dalam menjawab." Arsa Kenandra menendang Ade Jefri dan mengatakan. Wajah Ade Jefri yang ditendang pun berubah menjadi merah hitam. Ia ambruk ke tanah, takut melawan dan membantah, seperti anjing mati di pinggir jalan, sangat kontras dengan kesombongan dan kuasanya di depan Arsa Kenandra beberapa hari lalu. Orang-orang seperti Ade Jefri adalah tipikal pengganggu.
Arsa Kenandra menatap Ade Jefri dan berteriak kasar.
__ADS_1
"Kesalahan terbesar kamu adalah menyalahgunakan kekuasaanmu untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan menindas bawahanmu! Apakah petugas kebersihan itu bukan manusia? Perusahaan menjadikan kamu supervisor karena mempercayai kamu. Tapi kamu malah menggunakan jabatan itu untuk berbuat semaumu. Bagaimana menurut kamu sendiri? Apakah kamu layak untuk masih bertahan di perusahaan ini? Apakah masih layak untuk menaungi karyawan yang jabatannya berada di bawahmu? " ucapan Arsa Kenandra seolah menjadi cambuk pembelajaran bagi Ade Jefri. Tak ada yang berkata saat melihat kemarahan tuan Muda Kendi Grub. Ade Jefri menundukkan kepalanya dan tidak berkata apa-apa.
"Jika aku bertanya padamu, jawablah aku! " Arsa Kenandra menendang Ade Jefri lagi. Ade Jefri menggunakan jabatannya sebagai atasan untuk menindas Arsa Kenandra sebagai petugas kebersihan rendahan di perusahaan itu. Dan kini, Arsa Kenandra kini balik menindasnya, dia hanya ingin
Ade Jefri merasakan bagaimana rasanya tertindas.
"Saya minta maaf kepada perusahaan. Saya minta maaf kepada seluruh staf yang pernah saya tindas tuan Arsa!" Ade Jefri mengertakkan gigi dan menjawab, tubuhnya masih menggigil karena ketakutan.
Arsa Kenandra terus bertanya kepadanya,
"Bagaimana rasanya ditindas oleh atasanmu?"
"Tidak bagaimana-bagaimana tuan!"
"Ade Jefri, beraninya kamu mengatakan tidak? Kamu sudah merasakan apa yang lain rasakan saat kamu menindas mereka. Aku sudah bilang padamu untuk mengatakan yang sebenarnya! " Arsa Kenandra menendangnya lagi.
__ADS_1
"Iya tuan... Saya... Saya merasa tidak karu-karuan." Ade Jefri menjawab dengan tergesa-gesa.
"Benar... Aku memberi kamu gambaran bagaimana rasanya ditindas oleh atasanmu! " Arsa Kenandra berkata dengan rasa jengkel di hatinya.