Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Ulah Si Bandot Tua lagi


__ADS_3

Hanya matanya yang berputar. Mereka tidak tahu bagaimana dia meninggal.


Hudoyo masuk melalui pintu toserba itu. Rupanya, anak panah itu berasal dari tangannya. Saat itu, Hudoyo berada di luar, dan kareba iya melihat situasi menjadi buruk. Dia langsung saja melakukan apa yang perlu dia lakukan! Melihat orang tersebut meninggal, Arsa pun menghela nafas lega. Jika dia benar-benar bertarung dengannya, dia hanya memiliki tongkat, dan senjata musuh adalah pisau, dia tidak dapat memikirkan apa yang akan terjadi.


Setelah menyelesaikan masalahnya, Arsa segera berbalik dan berlari ke arah Om Om Budi.


"Arsa, bagaimana keadaanmu... Bagaimana kamu bisa punya pistol ?!" Om Budi mengertakkan gigi dan matanya penuh keterkejutan.


"Om, Om Budi, jangan memikirkan apapun saat ini. Kita bisa bicara lagi nanti. Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu ke rumah sakit ! " kata Arsa.


"Adit, ayo! Ayo kita bawa Om Budi ke dalam mobil! " Arsa menoleh ke Adit.


"Oke! " Adit bergegas bersama Arsa membawa Om Budi ke dalam mobil. Mereka pun melaju kencang menuju rumah sakit.


Mengenai mayat yang berada di toko, Arsa memanggil Fiko Reliso dari Keamanan Kendi untuk menanganinya.


Di ruang gawat darurat rumah sakit.


"Adit, apa yang terjadi? Siapa orang-orang itu? " tanya Arsa.


"Arsa, aku tidak tahu. Aku ada di ruang belakang saat mereka datang. Aku berlari keluar ketika mendengar perkelahian itu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi." Adit berkata dengan nada tak berdaya. Jadi, hanya ayahnya yang tahu apa yang sedang terjadi. Arsa tidak tahu apakah ayah Adit bisa melewati masa krisisnya.


"Mudah-mudahan Om Budi bisa melewatinya." Arsa berdoa dalam diam. Adit menoleh ke Arsa.


"Aku yakin ayahku akan berhasil melewatinya!" Adit mengertakkan gigi. "Arsa, pasti ada seseorang yang mendukung di belakang orang-orang ini. Biasanya aku tidak memberitahumu, tapi kali ini, aku mohon, tolong bantu kami mengetahui siapa yang melakukan ini! " Wajah Adit dipenuhi amarah.


"Jangan khawatir, meskipun kamu tidak melakukannya. Aku akan membalaskan dendam Om Budi juga! " kata Arsa. Arsa sangat marah melihat usus Om Budi menyembul keluar. Arsa langsung membunuh orang-orang itu, tapi itu tidak cukup untuk menenangkan amarahnya.


Setelah beberapa jam operasi, dokter keluar dari ruang operasi.


"Dokter gimana keadaannya?" Arsa dan Adit sama-sama berdiri.

__ADS_1


"Pasien sudah keluar dari masa kritis, namun ia masih perlu dirawat untuk sementara waktu." Kata dokter. Adit dan Arsa lega mendengarnya.


Di unit perawatan intensif, Arsa dan Adit bertemu Om Budi.


"Mengapa kalian berdua memasukkan saya ke unit perawatan intensif ? Cepat pindahkan saya ke bangsal umum." kata Om Budi. Om Budi mengetahui betapa mahalnya biaya unit perawatan intensif. Dia bahkan tidak punya uang untuk biaya operasinya sekarang.


"Om Budi, aku sudah membayar semuanya. Om tidak perlu khawatir.” Kata Arsa.


"Arsa, puluhan juta rupiah untuk semua biaya. Dimana kamu biaa mendapat uang sebanyak itu?" Om Budi tampak terkejut. Ayah dari Adit itu belum mengetahui identitas Arsa yang sebenarnya. Di mata Om Budi, keluarga Arsa miskin, apalagi harus mampu membayar puluhan juta. Bahkan ratusan ribu pun sulit didapat.


Om Budi melanjutkan, "Dan Arsa, kamu... Bagaimana kamu bisa punya senjata? Kamu seharusnya tidak membalas atau melawan mereka untukku, aku tidak mati. Jika kamu membunuh mereka, mereka pasti akan membunuhmu" Katanya. Om Budi menggeleng dan menghela nafas. Dia tidak ingin mengkhawatirkan Arsa.


"Ayah, Arsa tidak sama seperti dulu lagi sekarang ! Kata Adit.


"Tidak sama? Apa maksudmu? " tanya Ayah Adit. Om Budi tampak bingung.


"Om Budi, apakah Om kenal Andi Sudiryo kan? " kata Arsa.


"Dia adalah kakekku. Aku baru mengetahuinya beberapa waktu lalu. Aku belum sempat memberitahumu. kata Arsa.


"Maksudmu... Kamu cucu Andi Sudiryo?" "Wajah Om Budi kaget.


"Betul! " Arsa mengangguk.


"Arsa. Kamu... Kamu pasti membohongi dan bercanda kan? " Om Budi tampak bingung.


"Om Budi, kenapa aku harus berbohong padamu? " Arsa serius. Arsa menyentuh kunci Lamborghini.


"Lihat, ini kunci Lamborghini saya. Jika saya adalah anak miskin seperti dulu, saya tidak akan mampu membeli mobil sebagus itu, bukan? " Kata Arsa. Om Budi melihatnya. Ternyata itu kunci mobil Lamborghini.


"Om Budi, kalau dilihat lagi saldo rekening saya, tidak mungkin saya berbogong." Arsa menyentuh ponselnya dan menunjukkan kepada Om Budi saldo bank rekeningnya.

__ADS_1


"A... Apakah ini jumlah trilyunan? " Om Budi terpesona sedikit dengan saldo rekening Arsa.


"Ayah, aku juga bisa membuktikannya! Arsa adalah cucu dari Andi Sudiryo, Pimpinan Kendi Grup cabang Surabaya. yang kini perushaaan itu diwariskan kepadanya oleh kakeknya,” kata Adit.


"Saya tidak menyangka cucu orang terkaya di Surabaya adalah Arsa." Om Budi menarik napas. Om Budi kenal denganArsa. Dia tahu bahwa Arsa bukanlah tipe orang yang suka menyombongkan diri. Ada bukti saldo rekening di depannya, jadi dia memilih untuk mempercayainya.


"Anak baik, karena kamu adalah cucu dan Andi Sudiryo, kamu akhirnya tidak akan menderita lagi. Akhirnya tiba saatnya untuk memiliki kehidupan yang baik. Aku turut berbahagia untukmu! " Om Budi tersenyum. Om Budi selalu menganggap Arsa sebagai putranya sendiri. Tentu saja dia senang melihat Arsa tidak lagi harus hidup dalam kemiskinan.


"Om Budi, jika kamu mengatakan apa yang terjadi hari ini, tentang hal ini, aku akan membantumu dengan cara apa pun!" Arsa memiliki nada tegas.


"Aku butuh bantuan kamu. Aku akan jujur. Orang-orang itu hari ini, mereka pergi ke toko untuk memungut biaya pajak. Mereka adalah anak buah Tuan Wasis. Setiap bulan, mereka datang untuk memungut biaya pajak sebagai upeti, Satu Juta setiap kali datang." Kata Om Budi.


"Apa? tuan Wasis? Maksud Om Wasis Adihuna?" Arsa terkejut.


"Ayah, kenapa Ayah tidak memberitahuku tentang hal ini? " Adit juga terkejut.


"Tidak ada gunanya menceritakannya padamu. Itu hanya akan menambah masalahmu, jadi aku tidak mau melakukannya." Kata Budi.


"Benar juha." Adit mengangguk.


Om Budi melanjutkan, "Adit juga tahu bahwa kami bermaksud membuka supermarket besar di dekat rumah kami tahun ini, yang menyebabkan buruknya pendapatan usaha kecil kami. Sekarang, kami hampir tidak dapat menghasilkan dua atau tiga ribu dolar sebulan, tidak termasuk sewa dan utilitas."


"Itu dia!" Arsa sadar.


"Mereka datang untuk mengambil uang itu hari ini, tapi mereka menaikkan biaya pajak menjadi dua juta. Aku memberi tahu mereka tentang keadaan kami, tetapi mereka tidak mendengarkan sama sekali. Mereka malah menghancurkan toko. Aku mencoba menghentikan mereka untuk tidak menghancurkan toko, tapi mereka menikamku." Om Budi menggelengkan kepalanya dan mengatakannya. Arsa memandangnya.


"Wasis Adiguna sialan! Beraninya dia memungut biaya pajak! Dua juta dalam sebulan? Omong kosong ini jelas-jelas perampokan uang yang dikemas dalam bentuk lain!" ucap Arsa Kenandra serius.


"Jangan khawatir, Om Budi. Aku bisa melindungi diri ku sendiri," kata Arsa. Selama ini, pikiran Arsa tertuju pada hal lain. Ia masih sedikit lupa dengan gerakan kecil Wasis Adiguna sendiri. Dia bertekat tidak mau berurusan dengannya lagi. Kecuali Wasis membuat masalah dengannya. Arsa memiliki lebih banyak kekuatan di tangannya sekarang daripada saat dia baru saja mewarisi Kendi Grub Cabang kota Surabaya. Arsa Kenandra tidak kehabisan kesabaran menghadapi Wasis Adiguna. Tapi sekarang, dengan segala yang dimiliki Arsa, dia cukup percaya diri untuk menyingkirkan Wasis Adiguna.


"Wasis Adiguna. Ini adalah saatnya mencari cara untuk membunuhnya!" Arsa menyipitkan mata dan bergumam pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2