Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Keresahan di Hati


__ADS_3

"Aku hanya bisa mengharapkan sebuah keajaiban terjadi." Waktu berlalu dan saat ini waktu sudah menunjukkan jam satu siang, tapi Tim Handal masih belum juga muncul.


Waktu berlalu dan sekarang waktu sudah hampir sore. Selama waktu itu, Adit dan anggota tim lainnya menunggu dengan cemas. Namun, Tim Handal tetap belum terlihat. Saat itu juga, Adesta berjalan ke arah Arsa dan berkata sambil mencibir.


"Hey boy, waktunya telah tiba. Apa kamu mau mengatakan kalau Tim Handal masih terjebak macet di jalan." kata Adesta dengan sombongnya.


"Iya, mereka masih dalam perjalanan." jawab Arsa. Para pemain dari tim SMK di belakang Adesta menutup mulut mereka dan tertawa. Adesta melambaikan tangannya dan berkata kembali.


"Oke, waktunya habis, apa pun yang kamu katakan sebagai alasan, percuma saja. Dalam 1 menit, jika kamu tidak mau bermain, maka otomatis tim kalian akan didiskualifikasi." Setelah Adesta selesai berbicara, dia mengambil tempatnya di mana. Para pemain dari tim nya langsung ke arena lapangan.


"Arsa, apa yang harus aku lakukan? " tanya Adit cemas. Anggota tim basket Universitas yang lainnya juga tampak sangat cemas. Adit mengangguk. Arsa berpikir sejenak.


"Tidak ada cara lain. Dengan keadaan yang seperti ini, kamu harus bermain melawan mereka terlebih dahulu. Saat mereka tiba, aku akan meminta timeout dan menggantikanmu. Saat kamu berada di lapangan, kamu tidak perlu memikirkan bagaimana cara mencetak point, tapi mencobalah yang terbaik untuk tidak membiarkan mereka mencetak point. Jangan biarkan mereka mencetak terlalu banyak poin. Itu saja." kata Arsa.

__ADS_1


"Oh, semoga mereka bisa mengejar waktu dan datang tepat waktu. Jika mereka ketinggalan sampai permainan selesai, maka semuanya akan berakhir hari ini juga." Para pemain basket Universitas semuanya merasa khawatir.


"Tinggal tiga puluh detik lagi. Kalau kalian tidak mau bermain, berarti kalian menyerah!" teriak Adesta dari arena basket.


"Desta, kupikir mereka takut bermain lagi melawan kita" Para pemain di belakang Adesta langsung tertawa. Wajah Arsa menjadi muram saat mendengar tawa keras mereka.


"Aku memberi kalian waktu untuk tertawa bahagia saat ini. Dan setelah itu, aku akan melihat betapa buruknya kalian saat menangis nanti! " Gumam Arsa sambil menyipitkan mata ke arah tim lawan. Setelah Adit mendengar kata-kata itu, wajah mereka tampak jelek karena khawatir.


"Mereka kalah telak terakhir kali bertanding. aku ngga tahu bagaimana cara mereka akan menghadapi pertandingan kali ini, aku rasa tim Universitas tidak mungkin menang melawan tim Sekolah menengah Kejuruan Kota Surabaya." kata salah satu penonton.


"Iya, rasanya kalau seperti ini adalah permainan tanpa ada keseimbangan. Aku masih tidak ngerti, kenapa Arsa pergi untuk menantang mereka... Dan itu, benar-benar terlihat menakutkan." Banyak mahasiswa tidak memahami niat Arsa yang sebenarnya. Beberapa mahasiswa juga mengatakan,


"Karena Arsa berani menulis surat tantangan, dia mungkin punya cara sendiri. Bagaimana jika mereka bisa menang melawan tim dari SMK itu setelah bermain? Masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan. Mari kita bicarakan saat pertandingan dimulai." kata salah satu penonton yang bersikap bijaksana.

__ADS_1


Di arena lapangan, Adesta berkata, "Bajingan, karena kamu berani menantang kami, kami tidak punya pilihan selain memberimu pelajaran!" kata Adesta dengan geram.


"Kamu. Berkatalah dengan sopan." Teriak Tim basket universitas. Para pemain tim SMK Surabaya di belakang Adesta berteriak dan tertawa aneh. Kebanggaan mereka terbukti dengan sendirinya dan terlihat dari tawa dan kata-kata mereka.


Sedangkan kemarahan para mahasiswa kembali mencuat lebih tinggi. Setelah Adit dan yang lainnya mendengar kata-kata yang memalukan itu, wajah mereka membiru dengan penuh kegeraman.


"Kenapa? Tidak bisakah kamu menerimanya? Kalau kamu tidak bisa menerima apa yang aku katakan, maka menanglah dalam pertandingan kali ini!" Adesta menggerakkan ibu jarinya menghadap ke bawah dan membuat gerakan menghina. Setelah Adesta mengatakan kalimat ini, wasit resmi meniup peluit dan pertandingan langsung dimulai.


Adit dan yang lainnya sangat marah, sehingga mereka berusaha dan berjuang untuk menunjukkan kekuatan mereka semakximal mungkin. Namun, ada celah besar dalam kekuatan yang mereka pertahankan. Meskipun Adit dan yang lainnya bertahan mati-matian, Adesta tetap memiliki kemampuan yang kuat untuk menghancurkan pertahanan lawan.


Pada menit pertama sejak pertandingan di mulai, Adesta berhasil mencetak dua angka, dan dalam sekejap mata, Adesta membuat point tiga angka lagi. Lima menit setelah pertandingan dimulai, skor menjadi 12 banding 0. Sedangkan para mahasiswa dari universitas Surabaya yang sedang menonton pertandingan, mereka semua mulai merasa tidak enak hati.


"Kalau begini terus, Universitas kita akan kalah lagi, ah!" Gumam seorang penonton.

__ADS_1


__ADS_2