
"Tuan, lakukanlah!" Sang Guru berkata kepada Hudoyo dengan senyum di wajahnya.
" Sang guru, mohon maafkan saya dan mohon jangan tersinggung." Hudoyo membungkuk ke arah master di depannya dengan senyuman di wajahnya. Meski reputasi sang guru sudah terkenal, Hudoyo juga sangat percaya diri dengan kekuatannya sendiri. Terlebih lagi, tadi, sang guru juga mengatakan kalau dirinya bisa menang melawannya, mereka bisa mengajaknya turun gunung. Tentu saja, Hudoyo ingin menang melawan sang guru demi Arsa Kenandra.
Ketika Hudoyo selesai, dia langsung memukul sang guru dan melakukan gerakannya. Tinjunya terlihat berat seperti sekarung pasir. Yang di mana, tinju itu langsung mengarah ke sang guru. Kekuatan tinju tersebut tidak hanya sangat dahsyat, namun juga sangat cepat, sehingga menimbulkan hembusan angin di udara yang di laluinya. Hudoyo berusaha dengan cepat untuk mengalahkan Sang Guru. Dia menunjukkan perilaku yang kejam dan tak kenal ampun.
Tapi, Ketika tinju Hudoyo hendak mengenai sang guru, sang guru itu langsung mengangkat tangannya dan mengecilkan pukulan lawannya. Hudoyo hanya merasakan kalau iya sedang melakukan pukulan keras pada kapas, dan kekuatannya langsung melemah. Setelah tindakan itu, Hudoyo sangat terkejut sehingga dia segera menyadari bahwa dia telah meremehkan sang guru. Hudoyo segera mengubah taktiknya dan menyerang sang guru lagi. Kedua pria itu saling menyerang dalam sekejap. Bahkan orang awam seperti Arsa Kenandra pun tahu.
Sang guru sejak tadi mengambil tindakan secara pasif untuk melindungi diri dan tidak mengambil tindakan untuk menyerang balik. Meskipun serangan Hudoyo sangat ganas, serangan itu dengan mudah bisa dijinakkan oleh sang guru. Dia menganggapnya enteng.
Setelah sepuluh gerakan,
__ADS_1
"Tuan, saya sudah tahu kekuatanmu. Selanjutnya, tuan, tolong imbangi kekuatan saya." Kata sang guru sambil tersenyum. Setelah itu, sang guru yang sudah lama bertahan, berubah menjadi penyerang dan melancarkan serangan terhadap Hudoyo. Serangan sang guru terlihat begitu lembut, namun Hudoyo juga sangat sulit dilawan. Setelah itu, pertarungan kembali terjadi lagi, Hudoyo terguncang kembali dan beberapa kali, dan dengan setiap langkah mundur, dia menginjak tanah batu dengan suara berdebar.
"Aku kalah! " Ketika Hudoyo menguatkan hatinya untuk menstabilkan tubuhnya, dia tidak lagi melawan.
Di sebuah batu yang terinjak oleh Hudoyo, tiba-tiba muncul retakan seperti sarang laba-laba. Setelah Hudoyo berhenti, dia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan beberapa kata dari mulutnya.
Setelah pertarungan singkat, Hudoyo tahu bahwa tidak ada ketegangan tentang kemenangan atau kekalahan, dan jika sang guru tidak menarik kembali serangannya, maka dia akan mempermalukan Hudoyo. Hudoyo pun akan dipukuli dengan lebih hebat lagi.
"Tuan, kamu juga sangat kuat. Setidaknya aku sudah lama tidak bertemu lawan sekuat ini! " jawab sang guru.
Ketika Hudoyo kembali ke Arsa Kenandra, dia berkata tanpa daya, "Arsa, aku minta maaf tetapi aku sudah melakukan yang terbaik. Sang guru ini benar-benar sesuai dengan reputasinya, dan dia adalah seorang pertapa yang berilmu tinggi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa." Arsa Kenandra tersenyum pada Hudoyo. Arsa Kenandra tentu saja tidak bisa menyalahkan Hudoyo.
Kemudian, Arsa Kenandra memandang sang guru. Dia tersenyum dan berkata, "Sang guru benar-benar baik, dan karena kami tidak bisa mengalahkan sang guru, saya tidak akan memaksa anda ikut bersama kami." kata Arsa yang berarti mengakui kekalahannya. Bahkan Hudoyo dengan mudah dikalahkan, yang menunjukkan betapa bagusnya ilmu pria ini. Arsa Kenandra tidak percaya ketika mendengar rumor bahwa dia bisa menangkap peluru dengan tangan kosong. Namun kini, Arsa Kenandra mempercayainya karena dia melihatnya dengan matanya sendiri. Eksistensi yang begitu kuat, Arsa Kenandra tahu bahwa hampir mustahil untuk membawanya ke bawah dan mengajaknya bekerja sama. Dan sang guru sudah berkata, bahwa mereka tidak bisa mengajaknya keluar dari gunung itu keluar sampai mereka mengalahkannya.
"Tuan guru, kami masih memiliki urusan yang harus segera kami selesaikan, jadi kami tidak akan mengganggu tuan guru lagi. Kami akan mengucapkan selamat tinggal untuk saat ini." Arsa Kenandra mengucapkan kata-kata itu sambik berdiri.
"Tunggu sebentar, tuan." Sang guru melambaikan tangannya.
"Tuan guru, apakah ada hal lain yang dapat kami bantu? " Arsa Kenandra bertanya dan memandang orang di depannya itu.
"Saya jarang sekali melihat pengunjung secara terang-terangan tuan. Tahukah Anda alasan saya memutuskan untuk bertemu dengan Anda? " sang guru bertanya dan dia hanya tersenyum.
__ADS_1