
"Cepat! " ucap Arsa Kenandra. Pria yang di todong pistol oleh Arsa Kenandra itu sangat ketakutan hingga dia kencing di celana.
"Tolong jangan tembak saya! Saudara, tuan, tolong! Saya salah! Saya minta maaf! Saya mohon ampun!" Didorong oleh keinginan untuk hidup, pria yang berada di depan Arsa itu meneriakkan semua panggilan. Arsa Kenandra tidak mau repot-repot berbicara dengannya lagi, dan tembakan itu menjadi pelajaran baginya.
Kemudian, Arsa Kenandra menghampiri Resita Damayanti.
"Nona. Damayanti, Nona. Damayanti! " Arsa Kenandra memanggil dua kali. Resita Damayanti membuka matanya dengan lemah.
"Arsa. Ini benar-benar kamu! Tolong aku, bantu aku! " Resita Damayanti mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Arsa Kenandra dengan erat. Dia melihat Arsa Kenandra saat ini seolah-olah dia melihat fajar dalam kegelapan. Tiba-tiba Resita Damayanti meraih tangan itu dan Arsa Kenandra merasakan seperti sebuah sengatan listrik.
"Jangan khawatir, kamu aman," kata Arsa Kenandra sambil tersenyum.
Saat itu, pintu kotak itu tiba-tiba dibuka kembali. Seorang pria berkemeja kotak-kotak dan berkacamata hitam menerobos pintu. Dia bergegas masuk ke dalam ruangan bersama lebih dari selusin pria berpakaian hitam.
"Iko! Tolong!" Ketika pria yang berada di dalam ruangan itu melihat pria berkacamata dan lainnya datang, dia langsung berteriak seolah melihat penyelamat. Iko Ariandi, pria berkacamata, menjadi penonton atas kejadian saat ini. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas keamanan bar ini. Tepat setelah Arsa Kenandra masuk kembali ke bar dan mengancam penjaga untuk memberitahu dimana Resita, Penjaga meninggalkan bar dengan tergesa-gesa. Penjaga itu segera memberi tahu Iko Ariandi dan bergegas mendekat.
"Nak, beraninya kamu membuat masalah di tempat kami? " Kata Iko Ariandi sambil masuk.
"Iko Ariandi, dia punya pistol! " Kata pria yang tadi di ancam Arsa Krnandra. Ketika Iko Ariandi mendengar kata-kata itu, wajahnya sedikit berubah, dan dia melihat Arsa Kenandra memegang pistol di tangannya.
"Nak, kamu. Siapa kamu? " Iko Ariandi bertanya. Iko Ariandi tidak bodoh, orang yang bisa mendapatkan senjata bisa di pastikan dia berstatus baik.
"Anda adalah pemimpin tempat ini, bukan? Siapa pimpinan tertinggi kamu? Andre Rama?" tanya Arsa Kenandra. Setelah kematian Tomi Sucipto, Arsa Kenandra meminta Andre Rama untuk tinggal di Kota Jombang untuk mengambil alih, dan secara teori, tempat-tempat ini sekarang ditanggung oleh Andre Rama.
"Kamu. Bagaimana kamu tahu nama Andre? " Iko Ariandi terkejut. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arsa Kenandra meraih ponselnya dan menghubungi Andre Rama.
__ADS_1
"Andre. Aku sedang di Emerald Bar untuk melihat tempat itu dan seseorang ingin mengganggu saya. Kamu dapat berbicara dengannya secara langsung! " Ketika Arsa Kenandra. Setelah mengatakan itu, dia menyerahkan telepon langsung ke Iko Ariandi.
Iko Ariandi menjawab telepon dengan perasaan luar biasa.
"Tuan, Ini benar-benar kamu!” Begitu Iko Ariandi mendengar suara di telepon, dia langsung memastikan bahwa itu benar-benar Andre Rama yang menelepon.
"Apa? Dia. Dia. Andre, aku tahu aku salah! Aku akan meminta maaf! " Iko Ariandi mengangguk ngeri. Rupanya Andre Rama di seberang telepon sana telah memberitahukan identitas Arsa Kenandra kepada Iko Ariandi.
Setelah itu, dia menutup telepon.
"Tuan Arsa!" Iko Ariandi menyerahkan telepon kepada Arsa Kenandra dengan kedua tangannya dan memasang senyum jelek di wajahnya.
"Pasti Tuan Arsa sangat tersinggung dengan apa yang baru saja saya katakan. Saya harap Tuan Arsa memaafkan saya." Kemudian, Iko Ariandi berbalik dan meneriaki lebih dari sepuluh anak buahnya.
"Tuan Arsa!" Lebih dari sepuluh anak buah yang d bawa Iko Ariandi segera membungkuk kepada Arsa Kenandra.
"Karena kalian semua tidak tahu, aku tidak akan menyalahkan kalian," kata Arsa Kenandra dengan tenang.
"Terima kasih, Tuan Arsa! " Ketika Iko Ariandi mendengar ini, dia menghela nafas lega.
Di sisi lain, si pengunjung yang sudah menyinggung Arsa tampak cuek. Dia tadi mengira telah bertemu dengan penyelamat, tetapi mengapa hal ini tiba-tiba berbalik?
Arsa Kenandra menatap Iko Ariandi.
"Saya serahkan kepada kamu untuk mengurus semua yang terjafi di sini. Aku tidak ingin apa yang terjadi di sini malam ini terungkap, apakah kamu mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti! " Iko Ariandi mengangguk lagi. Setelah Arsa Kenandra memberikan perintahnya, dia berbalik dan berjalan kembali ke Resita Damayanti lagi.
"Nona Damayanti! Nona Damayanti!" Arsa Kenandra memanggil beberapa kali tetapi Resita Damayanti tidak terbangun. Saat ini Resita Damayanti sedang mabuk, sehingga seperti genangan lumpur busuk, aangat sulit berbicara. Jelas tidak realistis baginya untuk berdiri dan berjalan. Arsa Kenandra hanya bisa membopongnya dan berjalan keluar dari Ruangan tersebut.
Di dalam ruangan tadi, sebelum masuk, sebenarnya Arsa Kenandra sempat memanggil Hudoyo untuk menyelesaikannya, namun sebelum Arsa Kenandra masuk ke dalam ruangan tersebut dengan sebuah senjata, dia menyuruh Hudoyo untuk tidak masuk kecuali dia terpaksa. Arsa Kenandra ingin melatih dirinya sendiri dan menghadapi situasi ini sendirian.
Setelah Arsa Kenandra meninggalkan hotel.
"Iko, siapa dia sebenarnya? Aku tidak percaya kamu takut padanya! " Pria yang disapa tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kamu berstatus tinggi, tapi kamu tiba-tiba tidak mau tersinggung oleh anak ini, siapa dia? " kata salah seseorang di dalam ruangan tersebut.
"Dialah yang sudah menghancurkan Tomi Sucipto! Dia adalah pimpinan tertinggi di belakang pimpinan kita yang baru, Andre Rama! " Iko Ariandi berkata dengan dingin.
Apa? " Pria itu gemetar ketakutan.
Arsa Kenandra menghentikan taksi begitu dia berada di luar bar.
Di dalam mobil itu, Resita Damayanti baru saja berbaring di pelukan Arsa Kenandra. Sekilas Arsa Kenandra mengagumi kecantikannya. Resita Damayanti yang mabuk, wajahnya memerah dan rambutnya masih sedikit basah. Dia cantik. Di saat mabuk saja, dia memiliki pesona khusus yang sulit dikendalikan. Sebagai pria normal, wanita cantik yang sedang mabuk berat memang menarik baginya. Berbaring di pelukan seperti ini, Arsa takut dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya. Untungnya, Arsa Kenandra memiliki konsentrasi yang baik dan masih dapat mengendalikannya.
"Nona Damayanti, Anda tinggal di mana? Beritahu saya alamatnya dan saya akan mengantar Anda kembali!"Arsa Kenandra menepuk pipi Resita Damayanti. Tapi Resita Damayanti tidak menanggapi. Karena tidak tahu harus bagaimana, Arsa Kenandra harus menyuruh sopir taksi melaju ke hotelnya.
Arsa Kenandra harus menggunakan tangannya untuk menjaga Resita karena mobilnya tidak stabil. Dia memegangberat Resita Damayanti agar dia tidak terjatuh di bawah kakinya. Arsa Kenandra memeluk Resita Damayanti seperti ini karena dia sedikit gugup. Arsa Kenandra merasakan rasa kaku di sekujur tubuhnya. Ditambah dengan guncangan mobil, Resita Damayanti tak henti-hentinya mengerat di pelukan Arsa Kenandra. Arsa Kenandra tidak tahu apakah harus menikmati atau malah tersiksa! Lagi pula, keadaan seperti itu sungguh menyiksa, iya benar-benar harus bisa mengendalikan diri.
"Apakah kamu bercanda? " gumam Arsa yang merasa tak sanggup lagi. Arsa Kenandra juga pria normal! Dia juga semakin merasa kepalanya sedikit pusing. Pengaruh alkohol yang di minum Resita itu semakin tinggi. Tapi tidak dengan Arsa.Meskipun hanya Beberapa gelas dan setengah bom bacardi yang iya minum sebelumnya, membuat Arsa Kenandra sedikit kewalahan.
__ADS_1