
Di saat mereka sedang tertawa, ponsel Arsa tiba-tiba berdering. Tetapi bukannya menjawab, dia malah menyerahkan ponselnya kepada manajer dan memaksanya untuk menjawab panggilan tersebut. Manajer itu merasa ragu-ragu, tapi tepat di saat dia akan berbicara, dia melihat ke layar dan melihat si penelepon. Setelah melihatnya, dia menyadari bahwa nomor itu milik bosnya. Manajer restoran dengan cepat menjawab telepon. Manajer tersebut tampak sangat hormat.
"Oh, bagus kamu menjawab teleponku. Aku sudah mencoba untuk menghubungimu sejak tadi, tapi ngga bisa. Aku hanya ingin mengatakan kalau pemilik ponsel ini adalah pemilik baru Restaurant." Pria di telepon itu berkata. Wajah manajer itu tiba-tiba menjadi pucat. Dia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun dari apa yang baru saja dia dengar.
"Tunggu dulu tuan. Anak ini membeli tempat ini? Tapi kenapa? Restorannya selalu untung besar! Kenapa tuan malah menjualnya?" protes manager tersebut.
"Alasannya sangat sederhana, aku tidak punya alasan untuk tidak menjual restoran." Seru bos mantan pemilik restoran tersebut.
"Dia adalah pimpinan kendi Group cabang Surabaya, dan dia menawarkan harga yang sangat mahal, jadi aku tidak bisa mengatakan tidak sama sekali. Selain itu, kamu berada di tangan orang yang baik sekarang." Kata orang di seberang telepon itu lagi. Dan pada saat itu juga, manajer restoran tersebut merasa bingung. Dia semakin bingung karena setiap detik berlalu. Sedangkan kenyataan masih terus terjadi. Tapi, jauh di lubuk hatinya, dia perlahan menyadari banyak hal. Hatinya seakan jatuh ke dalam jurang dalam sekejap ketika dia memikirkan betapa dia tidak menghormati pimpinan Kendi Grub cabang Surabaya. Manager restoran itu tidak bisa melihat wajah Arsa. Dia hanya memegang telepon dengan tangannya yang gemetar panik.
" Kalau kamu masih di sana, aku akan menutup teleponnya sekarang. Aku akan berbicara denganmu di lain waktu. Semoga berhasil dan pastikan bos baru mu betah. Dan selama ini adalah waktu yang menyenangkan bisa bekerja dengan kalian semua." Kata orang di seberang telepon lagi. Panggilan berakhir karena suara bip telah membangunkan manajer dari ketidaksadarnnya. Tapi, manajer restoran itu terjebak di tempat yang dalam waktu yang lama. Iya pun terdiam tak bisa berkata apa-apa.
Arsa mengambil ponselnya dan bertanya.
"Apa yang dia katakan padamu? Apakah kamu masih mengira kalau aku berada di sini adalah hal yanhsangat memalukan?" Kata Arsa.
__ADS_1
"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya tuan." Kata manager itu.
"Saya sedang tidak waras karena sudah bertindak seperti itu. Tolong tuan, saya harap Anda mengerti." ucap manager dengan suara gugup memohon maaf. Arsa melangkah maju dan melanjutkan kata-katanha dengan suaranya yang dingin.
"Terakhir kali aku di sini, aku mengatakan kalau dompetku dicuri. Tapi kamu terus bersikeras kalau aku hanyalah orang miskin yang mengambil keuntungan darimu. Apakah kamu pikir aku bodoh untuk percaya pada tindakan serta omong kosong yang kamu katakan ke aku?" Arsa mendengus kesal. Manajer itu pun meminta maaf karena tidak mengenali orang yang begitu mengesankan. Wajahnya dipenuhi dengan penyesalan. Dia bahkan tidak berani menatap Arsa dengan wajah datar seperti itu.
"Kalau begitu, kamu bisa keluar dari sini," Arsa menuntut sambil menunjuk ke luar pintu sekali lagi.
"Tolong tuan. Jangan keluarkan saya. Saya tahu saya salah, dan saya minta maaf atas sikap saya. Tolong jangan memecat saya tuan. Saya butuh pekerjaan ini." Manajer restoran itu memohon belas kasihan.
"Apakah menurut kamu itu mungkin? " Arsa menoleh ke pria di sampingnya dan tersenyum dingin. Pria itu meraih lengan manajer dan menariknya keluar supaya pergi dari pandangan Arsa.
"Apakah kamu tidak mendengarku? Keluar!" Teriak Arsa dengan marah. Nada suaranya kasar, tetapi dia tidak bisa membiarkan manajer resto itu tetap ada di sana. Perilaku dan sikapnya adalah sesuatu yang tidak bisa Arsa toleransi sama sekali. Reputasi mereka akan buruk jika dia membiarkan orang seperti dia tetap bekerja di restoran. Akhirnya, Manajer restoran itu berjalan keluar dengan penyesalan yang telah membasuh kesombongannya.
Setelah manager itu pergi, Arsa menatap wanita di sebelahnya.
__ADS_1
"Siapa namamu?" Arsa bertanya.
"Bos, Nama saya Firda." Pelayan itu tergagap.
"Baiklah kalau begitu. Senang bertemu denganmu Firda. Mulai sekarang, aku akan mengangkatmu menjadi manajer restoran." kata Arsa dengan tatapan yakin di matanya.
"Saya... Manajer restoran?" Rahangnya menganga kaget.
"Tapi tuan, saya tidak yakin apakah saya bisa melakukannya dengan baik." Pelayan itu berkata dengan lemah lembut.
"Jangan khawatir. Aku percaya padamu dan kamu akan bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik. Ada banyak hal yang bisa dikatakan tentang karakter seseorang. Dari apa yang kamu lakukan sebelumnya, itu sudah menunjukkan betapa kamu bisa menghargai orang lain." Arsa sambil tersenyum dan menepuk pundak wanita di depannya.
Sesaat kemudian, Arsa menoleh dan mengamati pelayan yang berada di sekitar ruangan itu. Mereka semua membungkuk dan menyapa bos barunya. Saat Arsa melihat dan mengangguk kepada semua pelayan, dia tersenyum dan mengatakan kepada mereka semua untuk memberi hormat kepada pria di sampingnya juga. Adit pun tampak tercengang saat dirinya menyapa para pelayan kembali dengan senang hati. Dia merasa tersanjung karena tak disangka Arsa tiba-tiba memberinya perlakuan seperti ini.
"Jangan mengkhawatirkan hal ini Dit. Kamu dan aku adalah saudara! Aku berhutang banyak hal padamu dalam hidupku, dan aku hanya ingin mengatakan bahwa separuh dari restoran ini adalah milikmu. Kamu pria yang baik dan aku ingin kamu ada di sisiku untuk menjalankan tempat ini." kata Arsa dengan ekspresi gembira. Adit pun hanya bisa tersenyum lebar saat Arsa mengucapkan kata-kata ini. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain "terima kasih". Arsa tahu kalau Adit ingin berbicara lebih banyak lagi. Tapi untuk Arsa, dia sangat bersyukur atas semua yang telah Adit lakukan untuk mereka berdua. Semua Itu adalah tindakan yang tak ternilai untuk bisa dibayar dengan apapun.
__ADS_1
Setelah itu, dengan pelayanan terbaik dari sebagian besar pelayan di resto tersebut, Arsa dan pria gendut itu duduk untuk makan malam. Beberapa menit kemudian, saat mereka tengah menikmati makan malam, Adit menerima panggilan telepon dari Zef.
"Tolong bantu aku! Aku dipukuli di Planet Cafe. Tolong cepat!" Keheningan pun terjadi di seluruh ruangan. Arsa mendengar suara di seberang meja yang sekeras guntur, dipicu oleh kepanikan dan disorientasi.