Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Hiburan tak Manusiawi


__ADS_3

"Arsa Kenandra, aku hanya ingin memberitahumu, jangan menjadi kura-kura dalam pertarungan bawah tanah tiga hari ke depan. Manfaatkan saja pertarungan bawah tanah ini untuk menyelesaikan perseteruan pribadi kita." kata Wasis dengan bangga.


"Preman andalan mu telah disingkirkan oleh pengawalku. Bagaimana kamu bisa sangat percaya diri untuk bersaing denganku lagi dalam pertarungan bawah tanah ini? " Arsa Kenandra mencibir.


"Ini bukan urusanmu. Aku akan menunggumu di pertandingan tinju bawah tanah tiga hari lagi." kata Wasis. Setelah Wasis Adiguna selesai berkata, dia langsung menutup telepon.


" Sepertinya aku masih belum bisa ikut pertarungan ini! " Arsa Kenandra memicingkan matanya. Bukankah sama saja dengan mengaku pada Wasis Adiguna jika Arsa Kenandra tidak mau pergi?


Saat ini, para bos Kota Surabaya, dengan aset lebih dari 100 Milyar pada dasarnya menerima undangan dari klub tinju bawah tanah. Tentu saja, mereka tidak boleh melewatkan pesta audio-visual seperti itu.


Tiga hari kemudian.


Tiga hari berlalu dalam sekejap mata. Dalam tiga hari ini juga, Arsa Kenandra pernah pergi menemui si cantik bunga kampus, Rita Maharani, namun sikap gadis itu masih sangat tegas, yaitu meminta kepada Arsa agar tidak perlu bertanggung jawab.


Ada gudang yang sudah lama tak di tempati. Arsa Kenandra berkendara jauh dari Kota Surabaya ke pinggiran kota yang terletak di sebuah daerah kecil. Tempat pertandingan tinju bawah tanah ada di sina.


Di luar gudang yang sudah terbelangkai itu, hari ini terlihat sangat ramai, dengan berbagai mobil-mobil mewah. Diparkir di ruang terbuka di depan gudang, jika seseorang tidak tahu situasi yang sebenarnya dan lewat di sini, mereka pasti akan terkejut, di luar gudang yang terbengkalai itu, mengapa banyak sekali mobil mewah yang diparkir?

__ADS_1


Arsa Kenandra tiba di luar gudang dengan Lamborghini dan Hudoyo.


"Halo, Tuan Arsa!"


"Halo, tuan Arsa!" beberapa saat setelah Arsa Kenandra turun dari mobil, semua bos yang ditemuinya akhir-akhir ini berjalan maju untuk menyapa Arsa Kenandra. Berdasarkan status Andi Sudiryo, sebagai cucu kandung, posisi Arsa Kenandra di kalangan kelas atas Kota Surabaya tidak tergoyahkan serta tidak bisa di kalahkan.


"Arsa Kenandra!" Terdengar suara yang sangat familiar. Arsa Kenandra melihat sekeliling. Di saat yang bersamaan pula, Wasis Adiguna berjalan datang ke arahnya, dengan Seno yang berada di sampingnya.


"Wasis Adiguna, kamu hanya membawa Seno sendirian? Kamu bahkan tidak membawa orang jahat yang akan kamu suruh untuk bertanding? Apakah kamu ingin menyuruh Seno, sang assistandmu ini untuk bermain game hari ini?" Arsa Kenandra menatap Wasis Adiguna sambil tersenyum di wajahnya.


"Apa? Mulyanto sudah di singkirkan?" kata salah satu dari para bos di dekat Arsa Kenandra dan Wasis Adiguna.


"Mulyanto adalah preman nomor satu di bawah pimpinan tuan Wasis. Beberapa tahun yang lalu, tuan Wasis selalu menyuruh Mulyanto untuk berperang di bawah tanah, dan dia selalu mencapai hasil yang baik. Sekarang dia telah di singkirkan oleh pengawal tuan Arsa." pembicaraan semakin menghangat di sana.


"Jadi pengawalnya Tuan Arsa pasti sangat kuat, kan?" kata salah satu bos itu lagi. Ketika Wasis Adiguna mendengar Arsa Kenandra menyebutkan skandal itu, wajahnya langsung berubah jelek.


"Arsa Kenandra, jangan bangga pada dirimu sendiri. Aku akan membuatmu tampil sangat bagus di pertarungan bawah tanah hari ini! " kata Wasis Adiguna dengan kejam. Dengan itu, Wasis Adiguna berjalan lurus ke depan dengan langkah cepat. Wasis Adiguna tidak membawa pengawal barunya, si Panjol bersamanya saat ini, hanya untuk menyembunyikan tangannya agar rencananya tidak meninggalkan jejak, dan menunggu panjol memulai tugasnya saat Arsa naik ke panggung nanti.

__ADS_1


"Ayo pergi juga." Wasis Adiguna berkata pada dirinya sendiri.


"Arsa Kenandra, tertawalah sekarang . Ketika Panjolku tampil di panggung, kamu akan menyesali sesuatu yang pantas untuk ditangisi." kata Wasis dengan kesal.


Arsa Kenandra tersenyum dan berjalan masuk bersama Hudoyo Ke dalam gudang yang terbengkalai itu, Arsa Kenandra melihat kalau ada dunia yang berbeda di dalam sana. Setelah memasuki arena. Seluruh ruangan gudang yang terbegkalai itu telah diubah menjadi arena tinju bawah tanah.


"Arsa, kamu. Kalau begitu, kamu tidak akan menyuruhku bermain, kan?" Kata Hudoyo.


"Aku tidak punya orang lain untuk yang bisa aku suruh selain kamu." Arsa Kenandra terhenti dari berjalannya sambil menjawab apa yang di tanyakan oleh Hudoyo. Lalu, Lone Wolf berbalik menatap Arsa.


"Arsa, ini adalag pertandingan tinju bawah tanah top di Indonesia. Aku telah memainkan pertandingan yang tak terhitung jumlahnya, hanya tinju bawah tanah Kota Surabaya yang saya tidak memperhatikannya sama sekali," kata Hudoyo.


"Tapi Arsa, ketika Tuan Andi Sudiryo membawa aku kembali dari Bandung, Aku bersumpah kalau aku tidak akan pernah naik ke panggung untuk melakukan pukulan hitam yang menjadi bagian dari tinju bawah tanah lagi dalam hidupku. Aku tidak bisa melanggar sumpah ku!" kata Hudoyo.


"Kamu... Kenapa kamu tidak bilang begitu?" Arsa Kenandra tiba-tiba menunjukkan senyum masam. Ide awal Arsa Kenandra adalah membiarkan Hudoyo bermain.


"Arsa, kamu tadi tidak bertanya." Hudoyo tidak punya pilihan selain melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2