
Di Universitas kota Surabaya, lantai 1 Asrama putri. Sebuah mobil Audi A4 berwarna silver terparkir di depan pintu. Seorang lelaki keluar dari mobil dan membawa buket mawar merah yang terbuat dari uang 100 ribuan dengan ukuran besar berbentuk love, berdiri di depan mobil setelah mengayunkan kakinya beberapa langkah. Ia mengenakan setelan jas dan sepatu. Di dalam buket bunga mawar tersebut, terdapat uang sebanyak 100 juta yang berada di dalam sebuah kartu ATM. Karena laki-laki tersebut berpose di depan mobilnya tepat di depan asrama putri, jadi iyamenyita perhatian banyak mahasiswa penghuni asrama tersebut.
"Wow... Dia sangat romantis. So sweet banget"
"Mobil mewah, bunga mawar dan uang. Jika ada yang merayuku seperti ini, aku mungkin tidak akan bangun dari mimpiku." Banyak mahasiswi yang melihat lelaki tersebut langsung mencari perhatian. Sebagian besar mahasiswi di kampus tersebut, yang tidak terlibat dengan dunia luar, sangat mudah tergoda dengan yang namanya uang.
Pria berjas yang berdiri di depan mobil itu terlihat sangat percaya diri. Ditambah dengan satu buket bunga mawar yang ia pegang di tangannya, membuat rasa percaya dirinya semakin meningkat. Hanya beberapa mahasiswi yang mau menolak uangnya, dan dia yakin langkah yang diambilnya ini ini bisa merebut hati wanita yang di incarnya.
Di saat yang bersamaan, seorang wanita cantik keluar dari asrama. Tidak lain wanita cantik tersebut adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh lelaki tadi. Siapa lagi kalau bukan Talita.
"Talita, kamu akhirnya mau turun juga. Aku tahu kamu akan tersentuh oleh ketulusanku, dan aku tahu kamu pasti akan turun untukku." kata lelaki tadi. Setelah melihat Talita, diapun langsung memegang buket bunga mawar di tangannya dengan erat. Iya tersenyum dan langsung berjalan mendekat ke Talita. Pria berjas itu adalah putra dari pemilik usaha kecil bernama Dimas. Talita pernah berhubungan dengannya saat dia masih menjadi anggota serikat mahasiswa. Sejak saat itu, Dimas meminta Talita untuk menemaninya makan malam beberapa kali. Karena Dimas sudah mensponsori acara kampus, Talita menjanjikannya dua kali makan malam untuk menghormati lelaki tersebut.
__ADS_1
Tapi, saat makan kedua, Dimas tiba-tiba mengeluarkan sebuah kartu ATM dan berkata kalau dia akan menjaga Talita. Saat itu, Talita sangat kaget. Iya langsung menolak Dimas dan juga langsung pergi. Talita memutuskan kalau itu adalah akhir dari hubungan mereka.
Tapi, semua tidak berhenti sampai di situ saja. Beberapa saat setelah kejadian itu, Dimas kembali menelepon Talita untuk mengajaknya makan malam lagi. Iya mengatakan kalau malam itu ada sebuah kesalahan. Dimas berkata kalau dia hanya mengkhawatirkan Talita. Dia kemudian meminta gadis itu untuk memaafkannya, dan sebagai buktinya, iya meminta Talita untuk menemaninya makan di luar lagi. Tapi, Talita tidaklah bodoh, dengan segera iya langsung menolaknya. Tapi saat ini, Talita tidak menyangka kalau Dimas tiba-tiba datang ke Kampusnya.
Talita benar-benar tak ingin di ganggu. Tapi Dimas telah memanggil-manggil namanya dan menunggu di bawah selama satu jam, dan sepertinya lelaki itu tidak akan pergi sebelum bertemu dengan wanita yang di carinya. Demi kenyamanan semua mahasiwi di asrama itu, Talita harus turun dan menolak Dimas secara langsung.
"Talita... Akhirnya kamu turun juga." kata Dimas saat melihat Talita yang turun. Iya berjalan dengan cepat ke arah Talita dan berdiri di depannya. Kedua tangan yang melingkari buket itu terangkat, iya langsung menyerahkannya kepada gadis pujaannya.
Banyak mahasiswi yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Beberapa gadis di antara para mahasiswi itu berharap, kalau mereka adalah Talita yang saat ini.
"Tuan Dimas, saya benar-benar minta maaf... Saya tidak bisa menerima anda." kata Talita dengan perasaan kesal. Iya tidak menyentuh buket mawar itu sama sekali. Dan sudah pasti, penolakan Talita itu mengejutkan banyak penonton di sekitar mereka.
__ADS_1
"Dia tidak mau menerima? "
"Cowok tampan ini tidaklah buruk, dan dia mengendarai mobil lo. Aku ngga tahu lelaki seperti apa lagi yang iya cari. Lelaki seperti itu masih di tolak juga."
"Ia, jika itu adalah aku, aku akan langsung menerimanya!" Di mata para mahasiswi lain, pria tampan ini sangat sempurna. Ada banyak pria tampan di tempat ini, tapi pria ini terlihat keturunan orang kaya.
"Menurut saya, gadis ini tidak mencintainya. Jadi dia menolaknya hanya karena cinta itu tidak ada."
"Aku sangat yakin kalau pada akhirnya dia akan menerima cinta lelaki itu. Ngga ada alasan untuk menolak lelaki sesempurna dia."
"Sangat masuk akal apa yang kamu katakan tadi." Banyak mahasiswa disana yang mengangguk.
__ADS_1
Kembali lagi ke Dimas, Dia melihat sendiri bagaimana Talita menolaknya. Tapi dia tidak menyerah begitu saja. Senyuman tetap terukir di bibirnya.
"Talita, tolong pikirkan semua ini sekali lagi. Ada sebuah kartu ATM di buket mawar ini. Aku akan memberi mu uang seratus juta. Jika kamu mengambil buket bunga mawar ini, uang di kartu itu akan menjadi milik kamu semuanya. Dan aku akan menyetir Audi milikku untuk menjadi sopirmu dan membawamu jalan-jalan. Kemana pun kamu memintanya, aku akan menurut." kata Dimas. Setelah mengatakan itu, iya pun langsung mengulurkan tangannya yang memegang buket bunga mawar itu. Menyerahkan lagi ke Talita.