
"Kamu... " Wajah Wasis Adiguna berubah masam, apa yang di ucapkan oleh Arsa barusan merupakan sebuah kata-kata provokasi baginya. Arsa menegakkan kembali pandangannya. Iya mengangkat dagu menatap ke panggung. Seutas senyum terukir di bibirnya.
"Saya menambahkan lagi 200 juta. Total keseluruhan 9,8 milyar." kata Arsa dengan tenang. Tanpa ragu iya menaikkan harga lelang sebanyak 200 juta. Semua yang hadir di sana mendengarkan apa yang di katakan oleh Arsa dengan seksama. Setelah jelas suara masuk ke gendang telinga semua hadirin, semua orang terkejut. Kenaikan harga yang sangat drastis, 200 juta bukanlah uang yang sedikit. Tapi untuk Arsa, uang itu tidak ada apa-apanya di banding harga diri dan kehormatan Kendi Grup. Semua ini menyangkut namanya dan sang kakek.
Bahkan pembawa acara di atas panggung pun kaget saat mendengar 200 juta, angka ini telah menetapkan sejarah lelang tanah di kota Surabaya. Harga tanah tertinggi yang dijual pihak pelelangan terakhir kali adalah 9,5 milyar. Dan lelang tanah hari ini baru saja dimulai. Tapi sudah memecahkan rekor sejarah? Bahkan seseorang yang saat ini duduk di samping Arsa juga ketakutan. Siapa lagi kalau bukan Fendi.
Setelah tersadar dari rasa terkejutnya, pembawa acara tadi buru-buru mengumumkan dengan lantang, "Dua... Dua ratus juta! Tuan Arsa menambahkan nomimal sebanyak dua ratus juta lagi. Jadi total keseluruhan ada 9,8 milyar. Apakah ada yang lebih tinggi lagi dari penambahan terakhir sebanyak 200 juta itu!" kata pembawa acara di atas panggung. Saat ini, semua yang ada di sana memandang Wasis satu demi satu. Mereka tahu kalau hanya Wasislah yang memiliki kualifikasi untuk bersaing dengan Arsa.
Di saat itu pula, wajah Wasis benar-benar terlihat sangat buruk. 9,8 Milyar itu sudah jauh melebihi harga asli tanah ini. Dia yang awalnya hanya menyiapkan 300 milyar. Menambahkan lagi 300 Milyar karena iya tahu kalau lawannya bukanlah orang yang mudah.
"Sialan, anak ini tidak menghitung biaya ! " kata Wasis menggertakkan giginya. Ternyata Arsa jauh lebih berani. Tidak seperti yang Wasis bayangkan. Tapi karena dia sudah mengatakan sebuah kata-kata yang menurutnya akan mempermalukan Arsa, dia tidak akan menyerah sampai di sini saja. Dia tidak ingin nama baiknya menjadi buruk di hadapan para pebisnis lain. Merasa seperti menunggang harimau, Wasis sial untuk menerkam dan menggigit dengan taringnya.
"Dua ratus lima puluh juta" Kali ini, Wasis menggigit bibirnya baru kali ini iya membeli tanah dengar harga sebesar itu. Hatinya benar-benar berkecamuk.
"Saya menambah 350 juta lagi." kata Arsa.
__ADS_1
"Tiga Ratus lima puluh juta? " Suara Wasis berdesis pelan. Padahal pembawa acara di atas panggung belum sempat bertanya. Tapi Arsa sudah menambahkan harga. Setelah mendengar nomimal ini, semua orang tidak bisa menahan nafas.
"Ya Tuhan, untuk tanah yang awalnya berharga 8 milyar, kini tembus 10,35 milyar." gumam seseorang dengan heran.
"Apa? Tiga ratus lima puluh juta? " Otot wajah Wasis berkedut hebat. Masuk akal juga, kalau semakin tinggi harga, semakin kecil kenaikan jumlah penawaran. Dia tidak menyangka harga tanah akan setinggi itu. Arsa juga menaikkan penawaran sebesar 100 juta sekaligus.
"Tuan Wasis. Sepertinya Arsa tidak peduli dengan biaya. Apakah kita masih akan menambahkannya? " Seno juga ikut panik. Mereka sudah mengantisipasi kalau Arsa akan menawar dengan harga tinggi di awalnya. Tapi mereka tidak mengharapkan Arsa untuk menaikkan harga begitu drastis. Wasis pun juga sangat ragu saat itu. Jika dia menambah lagi, dia akan kehilangan terlalu banyak uang. Tapi Jika tidak, dia tidak akan bisa tenang.
"Saya tidak akan menyerah." kata Wasis dengan nada marah.
"Empat ratus juta. Saya menambahkan empat ratus juta lagi." kata Wasis dengan geram.
"Oke, saya akan memberikan lima ratus juta." sahut Arsa sambil tersenyum dan langsung menambahkan harga. Arsa yang membuat penawaran. Tapi seluruh hadirin yang gempar.
"Lima ratus juta? Yaa Tuhan. Untuk sebidang tanah seperti itu harus di beli dengan harga yang sangat tinggi. Hebat sekali mereka." Suasana di ruangan tersebut seperti mendidih. Semua orang tahu harga normal dari tanah tersebut. Tapi 2 pebisnis teratas itu telah mencapai harga maksimal. Tidak heran, karena 2 grub itu adalah perushaan besar sekaligus memikiki banyak modal.
__ADS_1
"Tuan Arsa ini terlalu sangar. Hanya untuk melawan Wasis, anda berani menggelontorkan dana sebesar itu. " kata Fendi dalam hati yang merasa panik. Iya mau tidak mau harus berbicara kepada tuannya.
"Tuan Arsa, saya hanya menyiapkan total lima 500 M. Ini adalah sebidang tanah pertama yang di lelang. Dan anda memberi harga yang terlalu tinggi. Dan... Dan tidak ada gunanya membeli tanah ini dengan harga yang sangat tinggi." kata Fendi bersemangat memberitahu Arsa.
"Aku punya rencana sendiri." jawab Arsa sambil tersenyum. Setelah itu, Arsa bangkit dari duduknya dan menatap Wasis.
"Tuan Wasis, apakah Anda masih ingin menambahkan? Silahkan lakukan saja sebisa anda." Kata Arsa sambil tersenyum .
"Kamu... Kamu ..." Wajah Wasis membiru. Arsa terus membuat penawaran, dan harganya telah melampaui batas yang bisa dia tanggung. Jika dia tidak membuat penawaran lagi, dia akan bisa turun dari panggung dengan tersenyum.
Begitu banyak orang yang melihat kejadian ini.
"Tuan Wasis, lupakan saja tanah ini. Jangan di ambil. Biarkan untuk dia. Akan ada tanah yang lebih baik dari yang ini " kata Seno.
"Wasis Adiguna. Keluarlah kalau kamu sudah tidak mampu. Kamu memutuskan untuk bersaing lelang denganku, kamu tidak akan pernah bisa sebanding denganku." kata Arsa sambil tersenyum. Mendengar apa yang di katakan oleh Arsa barusan, membuat Wasis kembali marah. Tangannya spontan langsung menggebrak kursi lalu oya berdiri dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kalau aku tidak bisa mendapatkan tanah hari ini, jangan sebut nama ku Wasis Adiguna." kata Wasis dengan emosi.