Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kedatangan Trio Arsa


__ADS_3

Arsa Kenandra membawa Hudoyo dan Tiger ke gunung. Tujuan Arsa Kenandra mendaki gunung hari itu sangat sederhana. Dia ingin mengunjungi pertapa itu. Arsa Kenandra ingin mengetahui apakah dia adalah master sejati atau tidak.


Setelah sampai di tempat tujuan.


Mereka keluar dari mobil. Seorang anak buah baru Arsa yang mengetahui jalan mengendarai mobil hingga sampai ke kaki gunung, kemudian tiba saatnya mereka harus berjalan kaki karena jalannya terlalu sempit untuk bisa di lalui mobil.


"Dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk berjalan di sepanjang jalan setapak ini jika tuan Arsa ingin langsung ke rumah master tersebut." Kata sang penunjuk jalan. Seorang laki-laki ini dulunya adalah anak buah dari Tomi Sucipto.


"Baiklah... Kalau begitu, kamu yang sudah tahu jalan, berjalanlah di depan." kata Arsa Kenandra. Di bawah kepemimpinan lelaki tadi, mereka harus berjalan sekitar setengah jam lagi.


Setengah jam telah mereka lalui. Dan di saat itu, mereka akhirnya bertemu dengan sebuah rumah. Hanya saja rumah ini sudah agak tua. Arsa Kenandra langsung berjalan menuju ke rumah itu bersama Hudoyo dan Tiger, sedangkan orang yang mengantarnya tadi menunggu di luar rumah.


"Kalian bertiga, tetap di sini dan jangan berani masuk lebih dalam! " Ucap seorang pria. Begitu Arsa dan yang lain ingin memasuki rumah itu, seorang pemuda berjubah menghalangi trio Arsa Kenandra.


"Halo, kami datang ke sini untuk mengunjungi pemilik rumah ini." Arsa Kenandra berkata dengan sopan.

__ADS_1


"Maaf. Kami tidak menerima tamu di rumah ini, begitu pula dengan tuanku. Kalian bertiga, silakan kembali." Penjaga rumah itu memberi isyarat kepada Arsa dan yang laim.


"Saya Arsa Kenandra, Pimpinan Kendi Group cabang Kota Surabaya. Saya cucu dari Andi Sudiryo, orang terkaya di Surabaya. Saya di sini bermaksud untuk menemui pemilik rumah ini, dan tolong beri tahu dia kalau saya di sini." Arsa Kenandra mengidentifikasi siapa dirinya.


"Tuan, saya tidak tahu apa-apa tentang Andi Sudiryo, Dan juga saya mendapat perintah, kalau tuan saya tidak menerima tamu, tidak peduli siapa pun dia." Penjaga rumah itu berkata.


"Selain itu, ada begitu banyak tokoh besar yang ingin bertemu dengan tuanku. Namun, beliau belum melihat satupun dari mereka." pejaga rumah itu berhenti sejenak lalu menambahkan,


"Mohon maaf sebelumnya, Arsa datang menemui gurumu karena dia sangat menghargai gurumu. Bisakah kamu bertanya terlebih dahulu apakah dia setuju atau tidak? " Tiger maju ke depan dan memberitahu penjaga rumah itu.


"Menyuruh kami keluar? Mengapa Anda ingin menyuruh kami pergi? Apakah kamu benar-benar ingin melakukannya? Baiklah, biarkan aku mencobanya. Kalau boleh saya tahu, Apakah ada yang bisa Anda lakukan? " Kata Tiger sambil tersenyum. Setelah mengatakan itu, Tiger langsung menghampiri Penjaga rumah itu itu, menyingsingkan lengan bajunya dan bersiap bertarung dengannya.


Arsa Kenandra tidak menghentikan Tiger. Sebaliknya, Arsa Kenandra tertawa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Penjaga rumah itu, bahwa tuannya tidak akan pernah menemui pengunjung karena statusnya. Oleh karena itu, percuma saja mengukur identitas dan latar belakang dirinya.


Dalam hal ini, jika mereka ingin bertemu dengan pemilik rumah itu, mereka mungkin harus memikirkan cara lain.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak akan melawanmu." Kata Penjaga rumah itu.


"Jika kamu tidak melakukannya, terus bagaimana kamu bisa mengusir kami? " Kata Tiger sambil tersenyum.


"Karena kamu tidak mau keluar, jangan salahkan aku karena bersikap kasar! " Wajah Penjaga rumah itu itu menjadi gelap. Tanpa peringatan apa pun, Penjaga rumah itu itu langsung menyerang Tiger.


Dalam sekejap, kedua orang itu saling berkelahi. Begitu saja, mereka melawan satu sama lain sekuat tenaga.


"Apakah kamu masih mempunyai sesuatu yang lain di balik bajumu? " goda Tiger. Penjaga rumah itu tampak terkejut. Dia mengira Tiger hanyalah pengawal biasa. Yang membuatnya bingung, dia menyadari bahwa keahlian lawannya melampaui harapannya.


Tiger juga berkata, "Saya sangat terkejut karena kamu bisa begitu terampil di usia yang begitu muda." Keduanya tiba-tiba saling bertarung dalam satu waktu.


"Aku tidak menyangka kalau seorang Penjaga rumah saja bisa memiliki keterampilan seperti itu. Tampaknya Penjaga rumah rumah ini memiliki beberapa keterampilan! Dan tuannya mengajari dia dengan cukup baik," kata Arsa Kenandra. Hudoyo mengangguk saat iya mendengar apa yang di katakan oleh Arsa Kenandra.


"Itu benar. Saat ini, aku khawatir mereka berdua akan seri dalam 100 pukulan. Adapun siapa yang kalah dan siapa yang menang, setelah 100 pukulan, sangat sulit untuk mengatakannya, tapi aku melihat kalau di antara keduanya, Tiger lebih unggul. Karena Tiger sudah punya lebih banyak pengalaman tempur yang sebenarnya, dan setelah bertarung hingga 100 pukulan, pentingnya pengalaman tempur yang sebenarnya dapat terlihat." kata Hudoyo.

__ADS_1


"Hentikan! " Terdengar suara teriakan keras dari belakang. Saat itu, sebuah suara datang dari arah aula utama.


__ADS_2