Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Tak Terlihat karena bukan tempatnya


__ADS_3

"Aku? aku belajar di Universitas Surabaya," kata Arsa dengan tenang dan terus terang.


"Universitas Kota Surabaya? Kalau tidak salah kampus itu adalah universitas kelas dua di kota ini. Dan yang aku dengar, kampus itu tidak akan menjanjikan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari sana." Willy menepis kenyataan dengan ragu.


"Yah, itu benar sekali. Universitas Surabaya itu benar-benar biasa." Feri dan Sensen mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Willy. Di mata mereka, dari empat orang yang duduk di lingkaran meja tersebut, hanya Arsa yang paling tidak menjanjikan masa depannya. Dan selain itu, Arsa juga mengenakan pakaian yang lusuh. Arsa pun membalas dengan mencibir mereka dengan nada dingin.


"Tidak menjanjikan? Bukannya semua itu tergantung pada diri sendiri? Oh iya Willy, sejujurnya, kamu itu bahkan bukan orang yang terlihat sama sekali di mataku. Kamu bisa duduk satu meja saja denganku, itu merupakan suatu berkah besar buat kamu." kata Arsa dengan percaya diri.


"Apa? Kamu bilang aku bahkan tidak terlihat sama sekali di hadapanmu? " kata Willy dengan tertawa. Willy masih tersenyum dan tidak percaya Arsa akan berkata seperti itu.


"Tidak bisakah kamu melihat dan menyadari bagaimana dirimu itu? Betapa lusuh pakaian yang kamu kenakan, dan kamu hanyalah seorang mahasiswa miskin. Beraninya kamu mengatakan, kalau aku tidak terlihat di hadapanmu? Siapa kamu?" kata Willy terdengar menertawakan Arsa.

__ADS_1


"Ingin tahu kenapa?Tapi aku takut kalau aku mengatakan semuanya, hal itu akan membuatmu merasa takut setengah mati." Arsa mencibir.


"Apa? Aku? Kamu mau mencoba menakut-nakuti aku sampai aku takut setengah mati? " Willy tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Seolah-olah dia mendengar lelucon dari komedian ternama. Feri dan Sensen yang berada di meja itu pun juga menutup mulut karena takut tertawa terbahak-bahak, mereka berdua juga langasung ikut mencibir.


"Willy, aku jamin akan ada konsekuensi yang sangat menyedihkan, kalau kamu mencoba menyinggung perasaanku." Arsa berkata dengan tenang. Di antara Arsa dengan Willy, terdapat beberapa poin yang menyebabkan permusuhan di antara keduanya melekat di hati. Yang mana, bisa di lihat sejak masih bersekolah di SMP. Saat SMP, Arsa membenci Willy, bukan hanya karena lelaki merebut Felisa darinya. Tapi juga karena Willy memukuli Arsa dengan mengajak orang lain. Hanya saja karena bertahun-tahun waktu telah berlalu, Arsa mencoba melupakan. Iya pun sudah bertekat dalam hati, tidak ingin lagi mengenal Willy. Tapi kali ini, Willy yang baru saja bertemu dengannya, mengulangi hal buruk itu kepada Arsa. Iya kembali mengejek dan ingin menggunakan Arsa sebagai boneka yang akan diam saja saat di perlakukan buruk. Tapi Maaf, Arsa tidak akan pernah bersikap seperti dulu lagi. Itulah masalahnya, yang membuat Arsa tak suka kepada teman SMP nya dulu. Dan sekarang, Arsa telah mengambil keputusan. Hari ini, dia akan menyelesaikan kebencian yang sudah mengakar kuat sejak SMP kepada Willy.


"Apa? Kamu hanya berharap kalau Akhirnya aku tidak akan menyinggungmu kan? Boy, kamu sangat lucu. Melihat kamu yang sangat miskin ini, aku khawatir aku akan semakin menikmati lelucon ini." Kata Willy sambil tersenyum.


"Itu benar." Sensen pun juga berkata.


"Iya, bagaimana kita bisa melewatkan kesempatan bagus yang tidak akan datang 2 kali ini? " jawab Feri. Mereka bertiga memiliki niat yang sama. Datang ke pernikahan ini, selain atas undangan Felisa, mereka berniat untuk mengambil kesempatan dalam memperluas hubungan dengan orang-orang menengah keatas. Willy mengangguk, lalu mengikuti mereka berdua berkeliling

__ADS_1


Mereka meninggalkan Arsa dengab tidak bertanya sama sekali. Karena mereka tidak menganggap apa yang di katakan oleh Arsa adalah sebuah keseriusan. Dan sekali lagi, mereka tidak tahu sama sekali, kalau Arsa adalah orang terbesar di antara semua orang yang hadir di sini.


Arsa melirik ke sekelilingnya. Orang-orang yang ada disana, pada dasarnya berpenampilan glamor. Dan beberapa dari mereka terlihat seperti seorang bos. Tentu saja, karena pengantin pria hari ini adalah pengusaha yang memiliki Aset puluhan Milyar. Jadi beberapa orang yang datang ke pesta pernikahan itu juga adalah bos.


Sebagian besar pengusaha yang hadir di sana adalah bos dengan kekayaan puluhan milyar. Oleh karena itu, Arsa tidak mengenal mereka satu per satu. Alasannya sangat sederhana. Para pengusaha yang bisa membuat Arsa familiar, setidaknya memiliki aset sebanyak seratus milyar, dan bos yang hadir di pesta pernikahan ini, hanya memiliki Aset puluhan milyar saja. Pengusaha dengan aset puluhan Milyar, ingin bertemu dengan Arsa? Oh jangan harap bisa, kecuali mereka yang di harapkan oleh Arsa, dan tidak menutup kemungkinan juga, jika Tuhan menghendaki.


Termasuk dalam lelang terakhir itu, hanya para pengusaha dengan aset minimal 100 milyar yang bisa mengikuti. Sedangkan yang hanya memiliki aset di bawah 100 milyar tidak memenuhi syarat untuk mengikuti lelang. Oleh karena itu, bahkan jika para bos ini melihat Arsa, mereka mungkin tidak mengenal satu sama lain.


Arsa masih tetap stay di tempatnya tadi. Dan di saat yang bersamaan pula, iya melihat sosok yang agak familiar, yang tidak lain adalah Atma. Arsa ingat setelah pelelangan berakhir, Atma menyerahkan kartu nama kepadanya di tempat parkir. Atma ini memiliki aset yang bernilai lebih dari 100 milyar. Jika dia melihat Arsa di sana, dia akan sangat terkejut, bahkan sudah bisa di pastikan, dia akan berlari untuk menemui Arsa. Karena, Atma sudah mengatakan kalau dia ingin mengenal dan berteman dengan dirinya.


"Dia sangat sibuk, bagaimana dia bisa melihat aku yang duduk di kursi yang sederhana ini? " gumam Arsa. Tapi dia juga tidak ambil pusing dan memikirkan dengan kepala pening.

__ADS_1


__ADS_2