
"Sampah seperti dia tidak akan bisa berkembang seumur hidupnya." gumam Arfan dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan. Iya juga tak menyukai Arsa, bahkan tidak berharap Arsa kembali ke Keluarga Kenandra, apalagi sampai masuk ke Kenandra Grup.
Karena Arsa, suasana makan malam keluarga Kenandra menjadi sedikit aneh. Makan malam keluarga berakhir dengan tergesa-gesa. Lelaki tua itu memerintahkan Arfan dan Rey untuk mengajak Arsa, Adeena, dan sepupu mereka yang lain untuk datang malam itu di Kota Malang dan menunggu pesta ulang tahunnya besok. Hari ini hanya makan malam keluarga, tapi pesta ulang tahun Tuan Aji yang ke 80 akan diadakan besok. Lokasi pesta ulang tahunnya bukan disana, di rumah Keluarga Kenandra, melainkan di kampung halaman Tuan Aji, desa keluarga Kenandra. Dengan ulang tahun tuan Aji yang ke 80, dia telah mengundang hampir seluruh pemilik bisnis Kota Malang, dan besok pasti akan ada jamuan makan malam yang sangat besar.
Karena lelaki tua itu meminta Rey dan Arfan untuk membawa semua cucu-cucunya bersama mereka untuk menikmati hari dan bersenang-senang di Kota Malang. Mereka berdua tidak ada yang berani menolak perintah dari sang kakek, tuan Aji Kenandra.
Pada saat itu, ketika yang lain berjalan mendekat ke arah pintu vila. Arsa tidak ingin bergerak, tapi Adeena menyeretnya dan mengatakan, kalau iya tidak ikut, itu berarti dia tidak menganggapnya saudara, apalagi jika Arsa tidak ikut bersamanya.
Adeena mengatakan semuanya dengan sedikit ancaman, jadi Arsa harus menjawab ya. Dia tahu bahwa Adeena menemaninya untuk membantunya meringankan hubungan kakunya dengan semua orang yang menjadi bagian dari keluarga Kenandra.
"Arsa, saat makan malam di rumah semalam, kamu benar-benar gila, dan kamu berani bicara seperti itu pada ayahku. Kalau bukan karena kakek, aku pasti sudah menghajarmu!" Rey menatap Arsa dengan wajah sombong.
"Sejauh yang kalian semua tahu, akan sulit bagimu untuk mengatakan siapa yang mengalahkan siapa." Arsa mengejeknya. Dengan Rey yang terlihat sangat kurus, pada pandangan pertama orang akan tahu bahwa dia dilubangi oleh sifat buruknya, dan jika dia benar-benar bertarung dengan Arsa, Arsa dapat menjamin bahwa kekalahan itu sepenuhnya milik Rey.
"Sial, menurutku kamu benar-benar sedang mencari masalah! " kata Arfan kepada Arsa.
"Rey..." panggil Arfan. Arfan menghentikan adiknya.
__ADS_1
"Rey, apa yang kamu lakukan dengan orang bodoh itu. Kenapa kamu harus membuang waktumu dengan percuma?" kata Rey selanjutnya
"Hei... Arfan, kamu benar ! " Rey menyeringai. Rey mencibir dan memancarkan kemarahan di matanya.
Arfan memandang Arsa lagi dengan acuh.
"Arsa, kamu benar-benar bodoh hidup dunia ini. Kakek menawarimu uang dan status yang sama sekali tidak bisa kamu miliki seumur hidupmu, tapi kamu menolak semuanya. Kamu mungkin belum mengetahui semuanya, tapi kamu ditakdirkan untuk menjadi miskin. Maka, jadilah miskin seumur hidupmu, dan setelah ini, nanti kamu akan diusir dari keluarga Kenandra. Jangan pernah bilang kalau kamu punya hubungan keluarga dengan kami. Bantulah kami dan selamatkan harga diri kami sebagai keluarga Kenandra yang terhormat."
"Benar! Jangan membuat kami malu." Rey menggema keras-keras.
"Arfan, Rey, masa depan kalian hanya ada di sini, di Kota Malang saja. Sedangkan masa depanku adalah menaklukkan seluruh Jawa timur dan komunitas bisnis Indonesia secara keseluruhan. Kita jelas tidak berada pada level yang sama dan juga tidak memiliki kepentingan yang sama." jawab Arsa dengan tenang.
"Apa? Menaklukkan seluruh komunitas bisnis Indonesia?" Rey dan sepupunya yang ada di sana menertawakan Arsa. Arfan juga menggelengkan kepalanya dan mencibir, matanya penuh penghinaan.
Hanya Adeena yang bangkit dan menepuk bahu Arsa.
"Arsa, senang rasanya punya mimpi, aku akan selalu mendukungmu." Adeena mengatakan ini, mungkin, untuk membantu Arsa menyelamatkan dirinya dari rasa malu.
__ADS_1
"Yah, kita tidak perlu membuang waktu dengan bocah sombong ini," kata Arfan.
" Kota Malang baru saja membuka klub menembak baru, ayo kita pergi ke sana untuk bermain. Mereka punya senjata sungguhan." Rey melompat keluar dan berkata.
"Klub menembak? Dengan senjata sungguhan?" Ketika mereka mendengarnya, mereka semua menjadi sangat tertarik. Terutama anak laki-laki, mereka sudah pasti menyukai senjata, mereka berpikir kalau mereka bisa membawa senjata sungguhan, maka mereka akan bisa dengan mudah menggunakan senjata. Dan hal tersebut pasti akan membuat mereka kecanduan. Mereka sangat bahagia!
"Aku mendengar bahwa klub menembak ini dibuka oleh seorang pensiunan kolonel. Di bukanya klub itu karena hobi dan minatnya memang ada di sana. Dan iya juga menginvestasikan 30 milyar untuk pembangunan. lengkap untuk seluruh perlengkapannya. Tinjauan keanggotaan sangat ketat. Tempat itu tidak terbuka untuk umum, dan rata-rata orang biasa tidak bisa masuk." Kata Rey.
"Kok gitu? Tapi kita tidak punya kartu keanggotaan." Orang-orang mulai mengeluh. Tidak mungkin menjadi anggota klub menembak ini karena status mereka di bawah umur.
"Jangan khawatir, ada Arfan! " gumam salah satu sepupu Arsa.
" Arfan pasti bisa membantu kita mendapatkan kartu keanggotaan. Arfan, bisakah kamu mencoba memikirkan sesuatu untuk semua ini? " Rey menoleh ke arah Arfan.
"Tidak masalah. Aku kenal sama bosnya, jadi aku akan membuat klub tembak itu menerima semua orang-orang kita. " Kata Arfan perlahan. Semua yang mendengar perkataan Arfan pun bersorak kegirangan.
Arfan, Wakil Presiden dan pewaris Kenandra Group, tentu saja kenal baik dengan para pengusaha Kota Malang. Sudah pasti iya akan mengusahakan yang terbaik agar para sepupunya bisa masuk ke dalam tempat latihan menembak itu meskipun mereka masih berada din bawah umur.
__ADS_1