
Pada saat itu, Arsa Kenandra kembali ke gerbang universitas Surabaya, malam pun telah tiba. Adit, sahabatnya itu sudah menunggu Arsa Kenandra di gerbang sekolah.
"Arsa, sepupuku meminta Aku untuk mengucapkan terima kasih kepadamu." Adit berkata sambil tersenyum.
"Bukan masalah besar. Masuklah ke mobil. Ayo kita makan malam," Arsa Kenandra memberi isyarat kepada Adit.
"Baiklah." Adit pun langsung mengangguk. Lalu iya membuka pintu dan duduk di Lamborghini di samping Arsa.
Restoran terbaik di dekat kampus adalah Hoky restauran milik Arsa, yang telah dibeli oleh Arsa Kenandra dan dia berkesempatan untuk mencicipi semua makanannya. Tapi, Arsa tidak akan makan di sana. Dia akan mencari warung pinggir jalan favoritnya untuk makan malam hari ini. Banyak warung jajanan di jalan terbuka. Meskipun tidak terlihat sangat bersih, tapi baunya sangat enak. Arsa Kenandra biasa makan jajanan di pinggir jalan. Ini semua karena keluarganya miskin dan hanya bisa boros sesekali.
di Sebuah warung mie seafood yang masih buka di pinggir jalan.
" Bos, masing-masing dua mangkok mi seafood dan satu telur goreng." kata Arsa.
__ADS_1
" Baiklah , kalian berdua duduk saja dulu di dalam." kata penjual. Arsa Kenandra dan Adit pun Langsung pergi ke meja kayu sederhana di dalam dan duduk. Meja kayu kecil itu sudah sangat tua, dan meja itu bahkan tampak agak berminyak. Secara umum, generasi kedua yang kaya tidak akan tahan dengan lingkungan seperti ini, dan tentunya tidak akan datang ke tempat makan seperti itu. Tapi bagi mantan orang miskin, Arsa Kenandra, datang ke sini untuk makan adalah hal yang menyenangkan. Arsa Kenandra mengalami kehidupan miskin seperti itu dulu sebelum sang kakek datang. Dan sekarang, meskipun dia sudah kaya, dia masih menyukai lingkungan seperti ini.
"Dit, Aku dulu menyukai suasana warung seperti ini. Kalau dipikir-pikir, aku sudah lama tidak makan di sini." Kata Arsa Kenandra kepada Adit.
"Iya, aku dulu yang mentraktirmu dan membawamu ke sini untuk makan." Kata Adit sambil tersenyum. Arsa Kenandra pun tersenyum mengingat masa sulit yang dulu iya jalani. Saat itu, Arsa Kenandra sangatlah miskin, keluarga Adit juga tidak kaya. Tapi jauh lebih baik daripada keluarga Arsa Kenandra. Makanya dia sering mengajak Arsa Kenandra makan bersamanya.
Saat itu juga, seorang pria dan wanita juga masuk.
" Ini dia tempatnya." kata gadis muda itu.
Saat ini, Aprilia Dewi mengenakan pakaian santai dan rambutnya dikuncir kuda. Wajahnya yang bersih dan kemerahan, membuat dia sangat cantik sangat enak untuk dilihat. Dan juga dengan sosoknya yang tinggi dan berat badan yang ideal. Arsa harus mengakui, kalau setelah Aprilia Dewi ini melepas pakaian kerjanya, dan berganti pakaian kasual, dia terlihat sangat cantik jika dilihat lebih dekat.
Pada saat ini, Aprilia Dewi, dan pria yang bersamanya telah memesan makanan mereka dan masuk.
__ADS_1
"Aprilia, makanan di sini tidak higienis, lingkungannya terlalu buruk. Dan pasti akan ada banyak bakteri di mana-mana. Jadi kita harus makan lebih sedikit saja." Pria berkacamata itu menutupi hidungnya saat mengatakan itu.
"Jangan khawatir, kita hanya makan sekali saja. Aku tahu kamu tidak suka di sini, jadi tetaplah bersamaku." Kata Aprilia Dewi sambil tersenyum.
"Kalau kamu suka di sini, tentu saja, aku akan menemanimu." Jawab pria berkacamata itu. Aprilia Dewi duduk di meja di sebelah Arsa Kenandra. Keduanya sibuk berbicara, sehingga Aprilia Dewi tidak melihat Arsa Kenandra.
"Aprilia Dewi. Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini." Arsa Kenandra menoleh ke Aprilia Dewi di atas meja di sebelahnya dan berkata.
Setelah dia mendengar suara itu, Aprilia Dewi menoleh dan menatapnya.
"Itu kamu!" Ketika Aprilia Dewi melihat Arsa Kenandra, dia menatapnya dengan marah.
"Aprilia, siapa dia?" Pria berkacamata emas di sebelahnya menatap Arsa Kenandra dan bertanya. Setelah pria berkacamata emas itu melihat apa yang dikenakan Arsa Kenandra. Ada binar jijik di matanya.
__ADS_1
"Dia orang yang sangat menjijikkan," kata Aprilia Dewi dengan marah.
"Aku menjijikkan? Nah, kenapa kamu bisa merasa seperti itu? " Arsa Kenandra membalasnya sambil tersenyum. Kali ini, pria berkacamata emas itu langsung berdiri lalu berjalan ke arah Arsa Kenandra dan mengulurkan tangannya dengan senyum yang tak bisa di artikan tersungging di wajahnya.