
"Tuan Arsa tidak akan tahu jika anda tidak mencobanya! " Rena mengangkat kepalanya. Setelah Rena selesai mengatakan itu, wajahnya menjadi merah karena malu. Bagaimana Dirinya bisa mengatakan hal yang salah karena dia sedang gugup, tidak sadar dan terlalu cemas. Dan saat itu pula, Arsa merasa malu saat mendengarnya.
Sekalipun Arsa Kenandra ada kesempatan untuk mencoba, dia tidak akan berani, dan dia ada di sana untuk membantu Mela mendidik adiknya.
"Pokoknya... Cuma aku gak senekat itu sih. Walaupun biasanya aku bergaul dengan mereka, tapi aku tidak bodoh. Aku berjanji pada si Rambut Kuning itu untuk menjadi pacarnya karena menurutku dia ikut serta dalam rombongan para preman di jalan. Dia bisa membawaku ke jalan dan bertemu dengan mereka semua! Itulah tujuanku. Aku tidak akan membiarkan dia memanfaatkanku!" kata Rena.
"Kamu itu perempuan. Apa pendapatmu tentang sekelompok mafia? " Arsa terdiam.
Rena juga terdiam beberapa saat, lalu berkata, "Kalau aku menemukan pacar yang berada di jalur mafia, aku tidak perlu takut untuk di-bully di sekolah!" jawab Rena. Saat Arsa mendengarnya, hatinya sedikit bergetar.
" Itukah sebabnya kamu ada di sini? " gumam Arsa. Ketika Arsa mendengar jawabannya, hatinya berempati pada gadis di dalam mobilnya itu. Hal ini mengingatkan Arsa pada masa SMA-nya, ketika ia masih seorang anak miskin tanpa uang dan tanpa latar belakang. Dia selalu diintimidasi. Arsa juga sangat ingin memiliki latar belakang identitas agar tidak ditindas di sekolah!
"Tuan Arsa, jaga keselamatan anda!" Rena melambaikan tangannya dan m3bgatakan itu di depan Arsa.
Setelah meninggalkan rumah Rena dan Mela, Arsa pergi ke rumah sakit untuk menemui Adit dan Om budy. Arsa memberitahu mereka berdua kalau dia sudah bersiap untuk membunuh Wasis Adiguna, tapi semua itu akan memakan waktu. Om Budi dan Adit sama-sama berkata bahwa mereka mengerti. Dan bahkan keduanya tidak ingin Arsa bertindak enteng sampai dia benar-benar yakin.
Ketika Arsa keluar dari rumah sakit, terdengar suara familiar yang menyapanya.
"Bukankah ini Tuan Arsa?!" Arsa mendongak, dan melihat kalau yang.menyapanya itu adalah Wasis Adiguna.
__ADS_1
"Tuan Arsa, apakah anda datang untuk menemui ayah dari teman baik anda? Kudengar dia di hajar habis-habisan oleh anak buahku. Aku benar-benar minta maaf! " Wasis tampak seperti sedang mengejek.
"Oh ya? Apa kamu tidak merasa malu? Kalau iya, kamu bisa aku beri beberapa juta sebagai kompensasinya." Kata Arsa sambil tertawa.
"Tapi setahu saya tuan Wasis, Anda miskin ya sekarang?" Arsa berbelok ke arah Wasis dan tertawa sambil mengatakan itu. Wajah Wasis tenggelam dan matanya berbinar marah ketika Arsa seakan-akan melempari wajahnya dengan beberapa kotoran. Arsa sebelumnya telah menantang lelaki paruh baya di depannya itu dengan harga lebih dari satu trilyun di lelang saat itu. Dan di tinju bawah tanah, Arsa juga telah mengambil haknya yang telah di janjikan oleh Wasis. Dengan jumlah besar uang yang di serahkan Wasis Adiguna karena Kalah, menyebabkan masalah dalam rantai modal perusahaannya.
Baru-baru ini, Wasis sedang merekrut karyawan. Bahkan sejumlah besar uang dipinjamnya di bank.
"Arsa Kenandra, kamu berhasil!" Wasis mengamuk. Wasis melihat sekeliling dan tersenyum.
"Wah, sepertinya pengawalmu sedang tidak ada di sini! " kata Wasis Adiguna. Setelah Arsa mendengar apa yang dia katakan oleh Wasis, wajahnya tiba-tiba berubah sedikit. Karena itu benar-benar diucapkan oleh Wasis Adiguna. Saat ini, hudoyo membantu dirinya untuk menghubungi seseorang atas permintaan Arsa!
Delapan pengawal berkemeja hitam di belakang Wasis langsung menemui Arsa setelah mendengar perkataan dari tuannya. Kedelapan pengawal tersebut mampu melindungi Wasis Adiguna, yang secara langsung dipilih olehnya. Meskipun mereka semua jauh lebih buruk dari Hudoyo. Tapi, saat ini, sangatlah mudah untuk menghadapi Arsa Kenandra karena Hudoyo tidak ada di sini. Arsa tidak bisa menanganinya sama sekali! LYang terburuk, pistol Arsa saat ini sedang kehabisan peluru!
"Wasis Adiguna, kita ada di gerbang rumah sakit. Meski sudah malam, masih banyak saksi dan pengawasan di sini. Jika kamu membunuhku di sini, kamu pasti tidak akan lolos! Orang-orangku pasti akan membunuh kamu!" Arsa mengertakkan gigi. Sekarang, itulah rencananya. Arsa harus mencarin cara agar Wasis tidak membunuhnya, Dia tidak mungkin menggunakan nama kakeknya untuk mencegah Wasis di saat seperti ini.
"Tuan Arsa, sebelum Anda mengatakan itu. Saya benar-benar takut." Wasis tertawa.
Wasis Adiguna memalingkan suaranya dan berkata, "Tapi sekarang, saya memikirkan solusi yang baik! Pengawasan rumah sakit ini akan saya hancurkan. Saksi akan dibunuh tanpa menyisakan sama sekali! Anda tidak bisa membodohi saya! Hari ini adalah kesempatan besar untuk membunuh Anda, saya akan melakukannya, saya tidak akan melepaskan apa pun!" Ketika Arsa mendengarnya, pupil matanya terguncang. Tampaknya Wasis Adiguna sangat berhati besi untuk membunuhnya sekarang. Cara dia menakutinya tidak lagi bagus.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan?! Cepatlah ! " Wasis mendesak pengawalnya.
Apa yang harus Arsa lakukan? Ekspresi Arsa tampak semakin jelek ketika dia melihat pengawal yang berlari ke arahnya.
"Tenang! Pastikan untuk tenang!" Arsa terus berkata dalam hatinya.
"Aku harus tenang ! " Arsa masih berkata dalam hati. Arsa tahu betul, bahwa semakin tenang dia menghadapi keadaan krisis seperti ini, dia bisa menemukan suatu cara. Begitu otaknya berada dalam keadaan panik, semuanya akan benar-benar berakhir.
Arsa mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke Wasis.
"Kalau kalian berani melangkah lebih jauh, aku akan menembak kepalanya hingga pecah!” seru Arsa,
"Kamu tahu kan bagaimana kekuatan pistol yang sangat luar biasa ini!” Kedelapan pengawal yang hendak bergegas tiba-tiba berhenti. Wasis pun mengubah wajahnya saat melihat pistol di tangan Arsa.
"Wah, kamu punya senjata palsu..." Wasis mengertakkan gigi dan menatap Arsa.
"Senjata palsu? Apakah menurutmu sulit bagiku untuk mendapatkan senjata asli? Apakah menurutmu, aku memerlukan senjata palsu untuk menakut-nakuti orang?" ejek Arsa. Arsa berkata dengan benar tentang senjata yang di pegangnya ini, namun, yang pasti, tidak ada peluru di dalamnya. Arsa sangat sadar bahwa dia harus menjadi seperti seseorang yang pemberani dan tidak boleh takut dalam berakting. Dia harus bersikap tidak berperasaan di depan orang jahat seperti Wasis. Arsa berkata sambil menarik senjatanya. Ketika Wasis mendengar apa yang di katakan oleh Arsa, otot wajahnya bergetar. Dia tahu Arsa benar dan tisak mungkin mengatakan hal yang tak sebenarnya.
"Wasis Adiguna, jika kamu tidak percaya, kamu akan mengetahuinya dalam.waktu dekat. Tentu saja, ini adalah eksperimen dengan hidupmu." ucap Arsa. Ekspresi wajah Wasis menjadi pucat saat pistol berbunyi.
__ADS_1
"Jangan ! Jangan ! Jangan ! Jangan tembak ! " Wasis berteriak pada Arsa . Dahi Wasis dipenuhi keringat. Sudah jelas dia sangat ketakutan.