
"Bagaimana menurut kamu? Coba perhatikan baik-baik. Kamu, Arsa Kenandra... Beraninya mengembangkan proyek di lahan terlarang. Apakah menurut kamu Kendi Grup kamu itu bisa melanggar hukum dengan mudah? Aku membawa Direktur Sony ke sini hari ini untuk menghentikan kamu." Rafa tersenyum puas Wajahnya.
"Apakah kamu yang melakukannya Rafa?" Arsa menatap Rafa dengan wajah biru.
Mengapa tanah di tempat ini tiba-tiba kembali dilarang untuk dikembangkan padahal sudah jelas bahwa larangan tersebut telah dicabut? Dan terakhir kali, Arsa membeli sebidang tanah ini, Arsa adalah pemilik sah tanah tersebut. Kalaupun pembangunan kembali dilarang, seharusnya Arsa, pemilik tanah, yang harus menerima dokumen larangan tersebut. Bukan orang lain. Namun, berkasnya malah ada di tangan Rafa. Jadi Arsa hampir bisa menyimpulkan bahwa itu semua pasti ada hubungannya dengan Rafa.
"Iya, aku yang melakukannya. Jadi, bagaimana kelanjutannya? Apakah kamu sudah memahami perseteruan di antara kita? Sudah kubilang, jika kamu benar-benar mau bersaing denganku, maka hal itu akan menjadi jalan buntu untuk semua urusanmu. Kamu adalah pecundang dari generasi ketiga. Tanpa kakekmu, kamu.bukan siapa-siapa." kata Rafa dengan sombongnya.
"Benarkan, kalau aku tidak ada tandingannya! Kalau kamu mau melawanku, aku ikuti kemauanmu. Ayo kita Bertarung!" Rafa tersenyum sinis.
"Bajingan! Jangan berani-beraninya kamu bicara seperti itu pada Arsa, aku akan memukulmu." Berdiri di samping Arsa Tiger, dengan marah langsung mengangkat tinjunya untuk bergegas melawan Rafa Winston.
"Tiger, jangan lakukan itu." Arsa menghentikan Tiger. Ketika Tiger melihat Arsa membuka mulutnya, dia kembali. Arsa pun juga ingin memukul Rafa saat ini karena amarahnya yang sudah memuncak, tapi Arsa tahu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membalaskan rasa amarahnya.
Kemudian, Sony Prabowo maju ke depan dan berkata,
"Tuan Arsa, dokumen ini diturunkan dari atas langsung, dan saya harus melaksanakan perintah dari atasan untuk menyampaikannya. Saya juga berharap Sekretaris anda, Tuan Arsa segera menghentikan pekerjaan dan mengevakuasi para pekerja dan fasilitas dari lokasi konstruksi."
"Aku akan mengurusnya." Arsa mengangguk. Meskipun Arsa tidak berdamai dengan hal yang baru saja terjadi itu, Arsa tetap harus menerimanya untuk saat ini. Arsa tidak cukup bodoh untuk melawan sistem licik dari musuh.
"Sial" gumam Arsa dalam hati.
"Hello boy, aku khawatir kamu akan mengalami kerugian yang sangat banyak tanpa lokasi pembangunan ini ya? Asal kamu tahu, ini cuma peringatan buat kamu, aku peringatkan sekali lagi, menjauhlah dari Rita di mulai dari sekarang. Kalau kamu masih bilang le aku lagi, kalau kamu sudah tidur dengan Rita, aku janji, aku akan memberimu pelajaran lagi yang jauh lebih dahsyat dari ini." kata Rafa dengan bangga. Setelah itu, Rafa tertawa terbahak-bahak dan berbalik.
Melihat punggung Rafa yang sedang berjalan pergi, serta mendengarkan tawa sombongnya, jiwa Arsa langsung di kuasani amarah. Jika proyek ini berakhir begitu saja, maka ini adalah kerugian besar bagi Arsa.
Pada saat ini, General Manager Fendi datang.
"Tuan Arsa, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Fendi dengan kekhawatiran yanh terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
"Kamu urus semua kekacauan ini. Evakuasi para pekerja dan urus semuanya dengan baik." kata Arsa
"Tuan Arsa, apakah kita akan menyerah begitu saja tentang proyek ini?" Fendi sepertinya tidak mau menerima hal itu.
"Aku tidak akan menyerah, tapi aku hanya mengalah untuk sementara waktu. Jika saatnya tiba, aku akan memulai kembali proyek ini." Kata Arsa Kenandra. Fendi mengangguk mengerti maksud Arsa.
"Baiklah, saya mengerti, Tuan Arsa percayalah kalau evakuasi lokasi ini, saya akan mengurusnya dengan baik." kata Fendi.
__ADS_1
"Rafa, berani kamu melawanku... Dan aku tidak akan tinggal diam menerima semua kekacauan ini. Akan aku memastikan kamu tidak akan pernah mendapatkan akhir yang baik dalam semua urusanmu." Arsa menyipitkan mata sambil berkata. Meski kali ini Rafa menang, namun kerugian ini akan dicatat oleh Arsa, dan akan dilunasi beberapa kali di kemudian hari oleh Rafa Winston.
Sepulang dari lokasi pembangunan, Arsa menelepon Kakeknya, Andi Sudiryo.
Arsa Sedang menelepon kakeknya. Itu semua di karenakan kakeknya telah membantu mencabut larangan terhadap tanah itu untuj Arsa Kenandra, dan kini tanah itu berhasil dilarang kembali, padahal sudah dalam proses pengembangan yang di atur oleh Arsa. Tentu saja, hal itu harus dilaporkan kepada Kakeknya. Arsa telah memberi tahu Kakek tentang hal itu.
"Kakek, maafkan aku karena belum bisa memenuhi harapanmu," kata Arsa dengan sedih. Arsa menundukkan kepalanya secara tiba-tiba.
"Tidak masalah, Rafa tidak akan tinggal lama di Kota Surabaya. Jadi dia akan kembali lagi menjadi tentara. Begitu dia pergi, kakek akan mencabut larangan itu lagi untuk kamu. Dan kemudian kita bisa melanjutkan pembangunan." Suara ramah Kakek datang dari seberang telepon.
"Omong-omong, kek. Keluarga Winston memiliki latar belakang yang kuat, dan aku telah menyinggung Rafa. Aku takut ini semua akan berpengaruh ke Kendi Grub. Apa yang aku lakukan salah kek? " Arsa bercerita karena merasa khawatir.
"Jangan khawatir, Keluarga Winston dan kakekmu ini selalu berselisih. Sudah lama perselisihan antara kita terjadi sejak dulu. Winston Group dan kakek telah bersaing bahkan juga pernah bertengkar selama bertahun-tahun. Meskipun kamu tidak menyinggung Rafa, itu juga tidak akan mengubah hubungan kakek dengan Keluarga Winston." Andi berkata sambil tersenyum.
Setelah terdiam, tuan Andi melanjutkan,
"Arsa, kakekmu ini, bisa sampai sejauh ini bukan perkara yang mudah. Kakek tidak hanya mengandalkan keberuntungan. Kakek juga mempunyai pendukung di belakang kakek, dan bahkan Keluarga Winston, tidak berani menyentuh Kakek dengan mudah." kata kakek Arsa, tuan Andi Sudiryo.
"Begitu ya kek. Ini semua karena Arsa belum berpengalaman seperti kakek."Arsa mengangguk dan berkata dengan jujur.
" Benar Arsa. Dengan perubahan dalam hidupmu yang tiba-tiba itu, seharusnya tidak mudah untuk di jalani. Tapi kamu mampu beradaptasi dengan sangat baik. Kakek yakin, suatu saat nanti, pasti kamu akan bisa menjadi seperti kakek." kata Kakek Andi. Arsa pun mengangguk.
"Arsa, ingatlah kalau Rafa akan segera kembali menjadi tentara setelah dia pergi. Jika kamu tidak bisa mengalahkannya saat ini, kamu bisa menahannya selama beberapa hari. Tak ada yang bisa dipermalukan jika orang bijak tahu bagaimana cara mengatasinya." Nasihat kakek Andi.
Arsa mengerti kalau Kakek khawatir kehilangan uang dan mengalami kerugian hanya karena seorang Rafa.
"Tapi ingat satu hal, kamu akan menjadi penerus Kendi Grub di masa depan, dan dia akan menjadi penerus Keluarga Winston di masa depan juga. Cepat atau lambat kamu pasti akan bersaing lagi. Dan sebelum kamu menghadapi semua itu, kamu harus menemukan cara untuk memperkuat dirimu sendiri, sebelum kamu bisa melawannya di masa depan," kata kakek Andi.
"Hmm... Iya kek" Arsa mengangguk keras.
Di rumah sakit .
"Tuan Wasis, pembunuh bayaran kita, sudah hilang kontak sama sekali tidak bisa di hubungi. Dan Arsa masih hidup serta sehat-sehat saja. Aku takut. Aku khawatir rencana ini gagal lagi." bisik Seno. Wajah Wasis Adihuna menjadi gelap mendengar berita tersebut.
"Kok bisa? Bukankah pembunuh itu sudah sangat profesional? Bagaimana dia bisa gagal? Apakah si bocah Arsa itu mengetahui semua dan menyingkirkan pembunuh ini?" kata Wasis Adiguna.
"Tuan Wasis kemungkinan besar seperti itu. sepertinya, kita masih meremehkan Arsa sebagai penerus Kendi, bahkan si pembunuh profesional pun tidak bisa menanganinya." Kata Seno.
__ADS_1
"Sialan! " Wasis Adiguna mengomel dan menggerutu dengan marah. Wasis menaruh harapan besar pada rencana ini. Dia mengira kali ini dia pasti akan membuat Arsa mati dan membalas kan dendamnya. Namun ternyata, rencana itu kembali gagal.
"Tapi, tuan Wasis, putra Keluarga Winston, Rafa Winston, Akhir-akhir ini datang ke Kota Surabaya dan saat ini sedang berselisih dengan Arsa. Proyek di kawasan lindung di batalkan oleh Rafa." kata Seno menyampaikan berita.
"Benarkah? " Wasis langsung duduk dengan terkejut. Proyek di kawasan lindung itu membuat Wasis sangat sakit hati. Mendengar kabar itu tentu saja dia sangat senang.
"Rafa Winston ini adalah pria terkenal. Jika kita bisa membuat mereka berkelahi, lebih baik kita gunakan saja kesempatan ini untuk melawan bocah itu Arsa sampai mati." ucap Wasis gembira.
Pov Arsa.
Arsa sedang makan malam bersama Tiger dan Hudoyo sedang berada di restoran dekat kampus saat ini.
Meskipun Arsa sangat kesal dengan Rafa hari ini, tapi karena Tiger baru keluar dari rumah sakit, dan iya bergabung dengan dirinya, jadi Arsa mengundang mereka berdua untuk makan malam besar untuk merayakan bergabungnya Tiger.
Di saat yang bersamaan, ponsel Arsa tiba-tiba berdering. Arsa terkejut ketika dia melihat nama ID penelepon.
"Talita! " Arsa tidak tahu. Dia tidak percaya Talita berinisiatif untuk menelepon dirinya. Lagi pula, setelah terakhir kali dia terpaksa menolak Talita, Talita berkata dia tidak akan punya apa-apa hubungan dengan Arsa. Setelah itu, bahkan saat mereka berada di kelas, Talita malah memilih untuk menghindari Arsa, meskipun dia tidak bisa. Dia juga berbicara dengan Arsa Kenandra. Hanya saja terakhir kali Arsa Kenandra berada di kelas, tiba-tiba Talita mendatanginya seolah ingin mengatakan sesuatu pada dirinya sendiri, namun tidak jadi dan malah segera pergi.
"Halo... Talita." Arsa memilih untuk menjawab telepon dari Talita.
"Apakah ada masalah? " tanya Arsa.
"Arsa. Aku ingin meminta bantuanmu. Aku tidak bisa memikirkan untuk meminta bantuan kepada orang lain orang lain selain kamu." Talita menangis. Jantung Arsa berdebar kencang mendengar perkataan Talita.
"Talita. Apa yang terjadi?" Arsa buru-buru bertanya.
"Bisakah kamu datang ke Rumah Sakit umum Daerah Surabaya sekarang? Aku mohon." seru Talita di seberang telepon
"Apakah kamu sedang membutuhkan sesuatu? Tunggu, aku akan segera ke sana." jawab Arsa. Hari sudah malam, dan setelah menutup telepon, Arsa langsung pergi ke rumah sakit dengan mengendarai Lamborghininya.
Saat sudah berada di rumah sakit. Arsa melihat Talita yang sayu di gerbang rumah sakit. Mata Talita memerah, dia pasti baru saja menangis, penampilannya saat ini sangat menyedihkan, Arsa bahkan memiliki keinginan untuk bergegas memeluk dan menghiburnya. Namun iya tidak bisa.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ceritakan padaku." Arsa bergegas menghampiri Talita dan bertanya dengan tergesa-gesa.
"Setelah operasi terakhir ibu ku, aku tidak tahu..." Talita menggigit bibir merahnya dan melanjutkan,
"Aku tidak tahu apa yang terjadi... Dia tiba-tiba kambuh beberapa hari yang lalu, dan kambuhnya itu jauh lebih serius dari yang terakhir." kata Talita.
__ADS_1
"Tetapi biaya operasinya terlalu mahal. aku tidak bisa membayar, sehingga operasinya harus berlarut-larut dan menunggu lama. Namun hari ini kondisi ibu ku kembali memburuk. Kata dokter, jika aku tidak membiayai operasinya, dia akan benar-benar kehilangan nyawanya. Aku hanya bisa memohon padamu." kata Talita dalam tangisnya.