Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Trik Arsa


__ADS_3

"600 juta. Total keseluruhan 10,95 milyar" kata Wasis. 


"Yaa Tuhan, enam ratus juta." gumam para bos yang hadir di sana. Mereka benar-benar terkejut. Tanah yang di lelang itu sudah tembus 10 milyar 950 juta. Jumlah uang itu membuat mereka semua merasa pusing. Sebelum pelelangan dimulai, semua orang mengira akan terjadi pertumpahan darah. Namun ternyata tidak. Dan tidak ada yang menyangka acara tersebut akan mencapai titik ini. Sebuah harga yang melebihi batas maksimal dari harga aslinya.


Di saat yang bersamaan, Arsa tiba-tiba berdiri. Dia memandang Wasis.


"Oke, 10,95 milyar. Tanah ini milikmu." Kata Arsa kepada Wasis. Setelah itu iya mendongak ke atas panggung dan mengatakan kepada pembawa acara.


"Tuan Edie menawar dengan harga 10,95 milyar. Saya tidak akan menambahkan lagi. Saya kira tidak ada orang lain yang akan menawar lagi. Ketuk kan palu dan tetapkan dia sebagai pemilik tanah." kata Arsa.


"Oh, baiklah" Setelah mendengar kata-kata Arsa, pembawa acara yang masih terlihat linglung, iya langsung mengangguk dengan cepat. 


Setelah itu, pembawa acara benar-benar mengetukkan palu.

__ADS_1


"Tanah Di pelelangan pertama sudah terjual dengan harga 10 milyar 950 juta. Dan sekarang tanah itu milik Tuan Wasis." kata pembawa acara di saat yang bersamaan. Iya mengumumkan dengan suara lantang. Harga ini langsung mencetak rekor tertinggi dalam sejarah lelang kota Surabaya. Saat itu tuan Wasis langsung tercengang.


"Waah... Kamu ... Kamu tidak mau mengambilnya? " Wasis memelototi Arsa di sebelahnya. Baru saja Wasis sangat bersemangat melawan Arsa. Ia mengira Arsa akan terus melawan dirinya untuk bisa mendapatkan tanah tersebut.


"Apa? Uang sebanyak itu hanya untuk membeli tanah ini? Hanya orang bodoh sepertimu yang mau membelinya. Aku bahkan tidak ingin membeli dengan tawaran harga terendah pun." Arsa tertawa. Setelah berhenti sebentar, Arsa tersenyum dan melanjutkan.


"Aku menaikkan harga hanya untuk menipu kamu. Kata-kata yang aku ucapkan sebelumnya hanya untuk memancingmu dengan sengaja. Aku tidak menyangka kalau anda ternyata sangat bodoh. Saat saya merasa begitu gelisah, Anda benar-benar jatuh ke dalam perangkap yang telah aku buat." Setelah mengatakan itu, Arsa tersenyum dan bertepuk tangan, "Selamat kepada Tuan wasis. 10 milyar 950 juta hanya untuk memenangkan tanah yang penting. Sebuah rekor tertinggi sepanjang sejarah." kata Arsa. Saat itu, semua orang langsung bertepuk tangan. Begitu Wasis mendengar apa yang dikatakan oleh Arsa, dia merasa emosinya memuncak kembali. Arsa sengaja menipu dirinya dengan terus menaikkan harga.


"Bajingan, aku akan membunuhmu! " Wasis tiba-tiba berdiri. Seolah-olah dia akan bergegas untuk membunuh Arsa. Matanya melotot karena marah. 


"Tuan Wasis... Jangan lakukan itu! " kata Seno sambil merangkul Wasis agar tidaj emosi.


"Tuan Wasis, lelang ini di adakan secara resmi. Kalau anda melakukan hal di kuar batas, maka tidak akan ada yang bisa membantu kita. Kita harus bersabar." kata Seno dengan nada khawatir. Suaranya bergetar karena takut kalau Wasis akan melakukan hal di luar batas. Setelah mendengar apa yang di katakan oleh Seno, perlahan hati Wasis menjadi tenang.

__ADS_1


"Arsa, urusan kita belum selesai. Dan tidak akan pernah selesai. Kamu ingat apa yang aku ucapkan ini." kata Wasis seakan mengibarkan bendera perlawanan kembali. Iya berteriak di dalam ruangan tersebut hingga suaranya memantul. Setelah itu iya kembali duduk. Wajahnya membiru karena amarah yang tak bisa di luapkan. Bagaimana bisa iya tertipu oleh bocah itu. 10 milyar 950 juta melayang karena trik dari Arsa. Bukan hanya itu, saat ini Wasis menanggung malu yang teramat sangat di depan umum karena kecerobohan dirinya sendiri. Dan suasana di tempat itu semakin bising.


"Aku sudah lama bergelut di dunia bisnis. Dan baru kali ini melihat trik sebagus ini. Pimpinan kendi grub sengaja menaikkan harga untuk memancing tuan Wasis."


"Anak semuda itu sudah bisa menipu orang pandai tanpa di ketahui sama sekali. Tuan Wasis telah tertipu milyaran rupiah."


"Di kota Surabaya, hanya tuan muda dari kendi grub yang berani menantang tuan Wasis tanpa rasa takut sama sekali. Aku rasa, kemarahan tuan Wasis sudah di ambang batas." Dan masih banyak lagi kalimat yang di dengar oleh Wasis. Tubuhnya bergetar karena menahan amarah setelah mendengar cemoohan dari beberapa orang.


"Tuan Arsa, langkah yang anda ambil sangat bagus. Kita tidak kehilangan uang sepeserpun. Anda malah membuat Wasis kehilangan begitu banyak uang dan membuatnya malu di depan umum. Dia terlihat geram kepada apa yang anda lakukan." kata Fendi kepada Arsa sambil mengacungkan kedua jempolnya. Tadi saja iya merasa sangat khawatir karena Arsa menaikkan harga dengan begitu drastis. Kepanikannya bahkan tidak di dengar oleh Arsa. Tapi saat ini iya bisa menghembuskan nafas lega karena apa yang di lakukan oleh tuan mudanya itu hanyalah sebuah trik untuk mengelabuhi lawan.


"Setelah dia menghabiskan uang segitu banyaknya, saya rasa uangnya sudah semakin menipis. Saya rasa dia tidak akan menawar lagi tuan." kata Fendi"


"Aku berjanji, ini akan menjadi satu-satunya tanah yang dia menangkan di pelelangan hari ini. Aku tidak akan membiarkan dia memenangkan kembali di masa depan." Senyum muncul di bibir Arsa. 

__ADS_1


__ADS_2