Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pilihan Keluarga Adista


__ADS_3

"Kedua, bunuh keluarga Adista!” Arsa Kenandra berkata kasar dengan mata terpaku. Saat mendengar itu, mata Enda Adistadan putranya melebar sempurna karena terkejut.


Ketika Leo Adista dan Enda Adista mendengar kata-kata itu, matanya membulat sempurna, wajah mereka berubah drastis. Mereka mengira kalau Arsa Kenandra gila.


"Apa Kamu tidak percaya aku bisa membunuh Keluarga Adistamu? Aku bisa menghancurkan Tomi Sucipto. Apa menurutmu akan ada masalah jika aku membunuh Keluarga Adista?" Arsa Kenandra mencibir. Leo Adista dan Enda Adista gemetar ketika mendengar ini. Kata-kata Arsa Kenandra pasti membangunkan jiwa mereka. Keluarga Adista sedikit lebih rendah daripada Tomi Sucipto. Apa yang bisa iya lakukan jika Arsa Kenandra dapat menghancurkan Tomi Sucipto, pasti keluarga Adista akan dengan sangat mudah bisa iya injak?"


"Apakah ada cara ketiga Tuan Arsa?" Enda Adista tersenyum jelek.


"Bagaimana menurut kamu?" Arsa Kenandra tersenyum dingin.


"Baiklah, kita pilih cara pertama!" Enda Adista mengertakkan gigi dan mengatakannya. Cara pertama dan cara kedua, jika mereka harus memilih, selama dia tidak bodoh, dia harus memilih yang pertama.


"Papa... Tolong..." Leo Adista memandang ayahnya dengan ngeri.


"Kamu anak yang bodoh, siapa yang menyuruhmu memukul wanita Tuan Arsa? Sekarang aku ingin kamu membayar kelakuanmu itu." Enda Adista berkata dengan kejam.

__ADS_1


"Tuan Adista, Anda tampaknya sedikit rasional dan tahu bagaimana memilihm" Arsa Kenandra berkata dengan dingin. Jika Enda Adista tidak memilih yang pertama. Arsa Kenandra benar-benar berani membunuh keluarga Adista.


Lalu, Arsa Kenandra memberi isyarat kepada Hudoyo. Hudoyo mengangguk dan bergegas ke depan Leo Adista. Leo Adista menjerit kesakitan. Diiringi teriakan mirip babi, kaki Leo Adista ditendang oleh Hudoyo. Leo Adista tergeletak di lantai. Rasa sakitnya sangat menyakitkan sehingga dia merasa kesukitan hanya sekedar kmntukbmenghirup udara, dan wajahnya pucat dan tidak berwarna.


Ayah Leo Adista melihat semua ini, tetapi dia bahkan tidak berani berbuat apa-apa, karena dia tahu tentang latar belakang Arsa Kenandra, dia sama sekali tidak memenuhi syarat untuk menantang Arsa Kenandra.


Arsa Kenandra memandang Leo Adista dan berkata perlahan. "Leo Adista, ini adalah pelajaran untukmu. Aku akan mengatakannya di sini. Jika kamu berani melecehkan Resita Damayanti lagi, maka saat itu juga akan menjadi kecancuran Keluarga Adista." Setelah meninggalkan kalimat ini, Arsa Kenandra langsung keluar bersama massa. Dua ratus orang yang dibawa oleh Arsa Kenandra pun ikut keluar bersama dengan kepergian Arsa Kenandra.


Di dalam vila.


"Leo, ini adalah jalan keluar yang harus kita pilih, karena pilihan kedua sangat mengerikan. Kamu tidak boleh menyentuh Resita Damayanti lagi, di masa depan, jika tidak, Keluarga Adista kita akan hancur. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang." kata Enda.


Di hotel.


Setelah pergi dari rumah Keluarga Adista, Arsa Kenandra kembali ke hotel bersama Resita Damayanti. Begitu memasuki hotel, Resita Damayanti berinisiatif memeluk Arsa Kenandra.

__ADS_1


"Terima kasih, Arsa Kenandra. Aku merasa merepotkanmu karena harus membereskan Leo Adista demi aku." Resita Damayanti tersenyum menawan.


"Jangan menyebut orang lain saat ini. Malam ini, tidak ada orang lain yang bisa mengganggu kita!" Arsa Kenandra tersenyum nakal. Kemarin-kemarin, setiap kali Arsa Kenandra hendak melakukan sesuatu dengan Resita Damayanti, dia selalu merasa terganggu. Sekarang, segala sesuatu yang menjadi pengganggu itu susah beres, apa yang ingin dilakukan maka akan dilakukan.


Setelah itu, Arsa Kenandra langsung mendorong Resita Damayanti ke dinding dan menciumnya. Resita Damayanti mendengus, wajahnya memerah. Dia, yang sudah seperti menjadi makanan lezat ntuk Arsa, tampak semakin tak terhentikan. Saat Arsa Kenandra melepas pakaian Resita Damayanti, iya berhenti.


"Sayang, jangan khawatir akan ada gangguan lagi. Aku mau mandi dulu." kata Arsa Kenandra.


"Aku sudah tidak sabar!" jawab Resita Damayanti. Mau tak mau, Arsa pun mengangguk.


"Baiklah... Aku akan menuruti." Arsa Kenandra langsung membopong Resita Damayanti dan membaringkannya di tempat tidur. Melihat hidung Resita Damayanti yang tergeletak di depannya, iya merasa kagum. Bagaimana tidak, Resita Damayanti tak hanya cantik, tapi juga seksi.


Saat ini, Arsa Kenandra telah memadamkan api jahat yang selama beberapa hari ini terus mengganggunya, saat ini Arsa Kenandra telah menyerbu. Keduanya benar-benar terhanyut dalam kenikmatan. Ibaratnya, apa yang akan terjadi pada kayu kering jika terjadi kebakaran, di tambah dengan andanya bahan bakar yang membuatnya tersukut untuk berkobar lebih besar.


" Sayang, tunggu dulu ! " Ketika Arsa Kenandra hendak masuk ke inti, Resita Damayanti tiba-tiba menghentikan Arsa Kenandra.

__ADS_1


"Ada apa?" Arsa Kenandra menatap Resita Damayanti.


__ADS_2