
"Aku juga mengatakan kepada kamu, kalau kamu pasti akan berlutut di depan ku dan memohon belas kasihan. Tapi kamu pikir itu senua sangat lucu." Arsa berucap seolah-olah mengingatkan Andika.
"Aku ... Aku berjanji akan segera meninggalkan Rita Maharani ! " Bibir Andika bergetar dan ada keringat dingin di dahinya. Arsa menggelengkan kepalanya.
"Aku memberimu kesempatan kemarin, tetapi kamu tidak menghargainya dan malah membuatku kesal. Apakah menurutmu kata-katamu bisa memadamkan amarahku? Apakah menurutmu ini bisa berakhir tanpa membayar harga tertentu?" kata Arsa
" Tuan Arsa, beritahu aku cara meredam amarah Anda." kata tuan Adi di sebelahnya Andika.
"Apa?" Arsa berbalik dan melihat ke luar jendela, dia berkata perlahan.
"Potong jari anakmu dan beri dia pelajaran!" Baik tuan Adi maupun Andika terkejut ketika mendengar kata-kata itu.
" Tuan Arsa, itu ... Itu sangat berlebihan bukan? " kata tuan Adi dengan bibir terkatup.
"Jika menurutmu itu terlalu berlebihan, maka kembalilah. Pergilah dari sini. Tidak ada yang mengundangmu datang ke sini. Ingatlah kalau kamu itu datang ke sini untuk memohon padaku," kata Arsa dengan tenang.
"Ini..." Wajah tuan Adi semakin jelek karena takut. Tuan Adi mengetahui hal ini dengan baik. Dia benar-benar tidak punya modal untuk berdebat dengan Arsa. Jika dia tidak menyetujui persyaratan Arsa, maka Grup Sucipto mereka akan benar-benar kacau. Sebaliknya, jari yang terputus masih bisa menempel kembali. Tuan Adi hanya bisa menggertakkan giginya. Dia berkata dengan penuh keyakinan,
"Baiklah! Lakukan saja apa yang dikatakan Tuan Arsa." kata tuan Adi.
__ADS_1
"Ayah! Tidak!" Setelah mendengar apa yang di katakan oleh ayahnya, Mata Andika langsung melebar karena terkejut.
"Kenapa kamu berteriak? Siapa yang menyuruh kamu menyinggung Tuan Arsa? Sekarang kamu hanya bisa menyalahkan diri sendiri. Dan Ini akan memberi kamu pelajaran. Aku akan melakukannya sendiri ! " kata tuan Adi dengan kejam. Lalu, tuan Adi mengambil pisau buah di atas meja. Jari kelingking Andika terputus, dan jeritan sedih terdengar dengan jelas. Andika menghirup seteguk udara yang terasa panas dan dahinya dipenuhi keringat.
"Ini..." kata Arsa yang berjalan mendekati Andika, lalu mengambil jari kelingkingnya yang patah dan membuangnya ke tempat sampah di sebelahnya. Tuan Adi dan Andika merasa bingung. Mereka berencana akan membawa jari yang terputus itu ke rumah sakit dan menyambungnya kembali.
"Jangan berpikir untuk menyambungkan kembali jari-jarimu, kalau tidak, bagaimana bisa dianggap sebagai pelajaran?" kata Arsa perlahan. Tuan Adi dan Andika yang merasa kebas di hati hanya bisa mengertakkan gigi.
"Tuan Arsa, kami telah melakukan apa yang Anda katakan. Bagaimana dengan larangan itu?" kata tuan Adi.
"Silakan pergi. Tentang perintah untuk melarang Grup Sucipto mu, aku akan menariknya dalam tiga hari." kata Arsa dengan tenang.
Arsa menatap dan berkata dengan suara dingin.
"Aku berkata tiga hari kemudian. Dan itu berarti tiga hari lagi. Tidak akan ada tawar-menawar untukmu! " kata Arsa dengan tegas. Tuan Adi hanya bisa mengangguk dan pergi dengan pasrah bersama putranya.
Setelah kejadian ini, postingan yang di-posting oleh Andika di media sosial kampus, yang memfitnah Arsa, tiba-tiba dihapus. Dan Itu rupanya dihapus oleh Andika sendiri.
Keesokan paginya, Universitas Kota Surabaya. Adapun alasan penghapusan, tentu saja tidak ada seorang pun di kampus yang tahu.
__ADS_1
Di luar kelas tempat Rita Maharani berada.
" Apa yang bisa aku bantu ? " Rita Maharani melirik Andika di depannya. Andika tampak pucat dan jari kelingking kirinya terbungkus kain kasa.
"Rita, aku di sini untuk meminta putus denganmu." Nada suara Andika sangat pelan. Andika tidak berdamai dengan kejadian ini, tapi dia juga tidak bisa bertahan. Saat memikirkan latar belakang Arsa, dia merasa takut.
"Apa? Kamu mau putus sama aku? " Rita Maharani terkejut.
"Andika, apakah kamu bercanda? Kamu mengejarku dalam waktu yang sangat lama dan aku sudah menjawabmu. Tapi sekarang, kamu mau putus denganku? " Rita Maharani menatap marah ke arah Andika.
"Tidak ada alasan aku bisa menerimamu. Lagi pula, mulai hari ini, aku tidak ada hubungannya lagi denganmu lagi. Dan juga, beri tahu Arsa untuk berhenti menggangguku." Setelah Andika selesai berkata, dia segera berbalik dan pergi. Andika sangat tidak sesuai antara mulut dan dalam hatinya, namun akhirnya iya memutuskan untuk putus dengan Rita Maharani. Saat memikirkan latar belakang identitas Arsa, dia tidak lagi berdamai dengan hatinya dan tidak punya pilihan selain menerima semuanya.
Saat melihat Andika pergi, Rita Maharani menghentakkan kakinya dengan marah. Kemudian, Rita Maharani tertegun sejenak. Dan dia tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan Andika
"Beri tahu Arsa untuk berhenti menggangguku."
"Andika baru saja berkata, 'Katakan pada Arsa untuk berhenti menggangguku." gumam Rita.
"Apakah ini semua di sebabkan oleh kesalahan Arsa? Tapi bagaimana anak itu bisa bersaing dengan Andika? " Rita pun merasa bingung. Rita Maharani kembali memikirkan Arsa yang datang ke rumah untuk menemuinya kemarin. Dan Rita berpikir kalau Arsa peduli padanya. Dia memiliki perasaan yang tak terkatakan di dalam hatinya.
__ADS_1