
Dan di saat yang bersamaan, seseorang baru saja datang dan masuk ke lobby perusahaan. Orang itu adalah general manager yang bernama Fendi. Iya baru saja kembali dari kunjungan ke lokasi bangunan, diikuti oleh beberapa exekutive senior dan para staf perusahaan.
"Wow... Kelihatannya yang datang itu adalah general manager, tuan Fendi." Pria berkacamata emas itu sekilas mengenali Fendi. Setelah Fendi telah masuk ke dalam, pertama kali yang di tujunya adalah meja resepsionis. Setelah itu, iya langsung menuju ke tempat Arsa berada.
"Wah, apakah General Manager itu sedang berjalan menuju ke arahku? " Pria berkacamata emas itu terkejut saat iya melihat Fendi yang berjalan ke arah tempat di mana dirinya duduk. Dengan ekspresi terkejut di wajahnya, pria berkacamata emas itu bergumam pada dirinya sendiri.
"Mungkinkah tuan Fendi baru saja di beri tahu oleh petugas resepsionis kalau aku datang untuk wawancara, jadi dia datang untuk melihatku? Pasti begitu." Gumamnya dengan bangga. Hanya ada dia dan Arsa di sana. Dia berpikir kalau vendi pasti akan menemuinya. Di Mata Lelaki itu, Arsa adalah orang miskin yang datang untuk interview sebagai satpam.
"Yang pasti, general manager itu tidak akan menemui kamu." Katanya mengejek Arsa. Dia sangat gembira ketika pikirannya membayangkan itu. Dilihatnya Fendi dengan semua yang datang tadi semakin mendekat ke arahnya dan saat ini sudah berada di tempat Arsa dan lelaki itu berada.
Kegembiraan tak terlukiskan di hati pria asing yang berada di samping Arsa itu. Setelah menantikan momen menggembirakan ini, lelaki itu sangat terkejut ketika melihat apa yanh terjadi. Iya terkejut karena sang general manager langsung mendekat dan menemui Arsa.
"Tuan muda."
__ADS_1
"Selamat pagi tuan muda." Fendi langsung memberi hormat kepada Arsa. Lebih dari sepuluh eksekutif dan karyawan perusahaan di belakang Fendi, semuanya membungkuk kepada Araa pada saat yang bersamaan. Pria berkacamata itu tertegun saat melihat ini, dia lalu menoleh dan menatap Arsa. Dia menelan ludah dengan susah payah. Kemudian, dengan suara gemetar, dia mencoba untuk bertanya kepada Aesa.
"Kamu bukan CEO Kendi Grup kan? " Tanya Pria itu.
"Beliau adalah CEO baru Perusahaan Kendi Grub cabang Surabaya." jawab Fendi tiba-tiba. Laki-laki tadi langsung saja ambruk dan duduk ke kursinya. Iya sangat tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar saksikan.
Lelaki berkaca mata yang tadi sangat gencar mengejek Arsa itu saat ini merasa depresi. Dia baru saja merendahkan CEO Kendi Grup yang di nilainya hanya melalui pakaian saja. Dia baru saja memamerkan keunggulannya di depan CEO Kendi Grup.
"Tuan, saya hanya bercanda. Anda tidak harus menganggapnya serius." Pria berkacamata emas itu menjelaskan lagi dengan rasa takut.
"Kamu memiliki gelar master, bukankah kamu sangat baik dengan semua kelebihan yang kamu miliki? Sekarang kenapa kamu berbicara dengan rendah hati kepada seorang yang hanya lukusan SMA seperti sampah ini? " kata Arsa dengan menekankan kata-katanya.
"Tuan, saya tahu saya salah! Saya benar-benar tahu saya salah." Lelaki itu sangat menyesal sehingga dia berlutut di tanah, dan dia sangat ketakutan. Karena dia tahu kalau ucapannya telah menyinggung Arsa yang statusnya adalah CEO srkaligus bos perusahaan Kendi Grub. Jika saja Arsa ingjn menyingkirkan orang itu, hanya semudah menginjak semut.
__ADS_1
"Aku sekarang secara resmi memberi tahu kamu atas nama pimpinan Kendi Grup. Anda... Tidak pantas bekerja di perusahaan ini. Keluar! Keluar dari gedung Kendi grub sekarang juga." Arsa berkata dengan nada dingin.
Di hadapan Arsa yang sedang berkata, pria berkacamata itu sangat ketakutan hingga seluruh wajahnya menjadi pucat pasi.
"Maafkan saya Tuan! " Lelaki itu tidak berani terus berada di depan Arsa. Iya berguling dan merangkak keluar dari gedung perusahaan.
Di satu sisi, Fendi terlihat bingung kenapa Arsa bersikap seperti itu. Iya tidak tahu apa yang terjadi.
"Dia hanya lelaki egois yanh bersikap semena-mena. Jangan terlalu di pikirkan. Ayo kita masuk. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," kata Arsa.
" Kebetulan sekali tuan, saya juga ada masalah yang sangat penting dan harus segera diberitahukan kepada Anda." ucap Fendi yang terlihat serius. Arsa merasa belum pernah melihat Fendi sangat serius seperti ini sejak mereka bertemu sampai sekarang. Arsa tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, firasatnya sudah tidak enak.
" Baiklah, ayo kita naik ke atas dan membicarakannya dengan detail." Kata Arsa. Mereka pun melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam Lift. Fendi mengikuti Arsa yang berjalan terlebih dahulu. Arsa pun penasaran dengan apa yang aakndi bicarakan oleh Fendi.
__ADS_1