
Para penjaga keamanan dan staf di pintu perusahaan merasa takut, hingga bersembunyi di dalam gedung.
Di sekitar Arsa Kenandra, hanya ada Fendi dan Hudoyo. Dahi Fendi saat ini juga basah dipenuhi keringat dingin, wajahnya terlihat memucat, dan terlihat jelas dia juga sangat ketakutan.
"Arsa, aku tahu pengawalmu bagus, tapi aku turun tangan dengan sebuah mobil tank... Tank itu masih sanggup dan akan dengan sangat kalau untuk menghabisimu ! " Rafa Winston menyeringai muram. Rafa Winston berkata sambil mengarahkan pistolnya ke Hudoyo. Hudoyo mengulurkan tangan untuk menyentuh pistol yang terlihat mengerikan itu. Dan tiba-tiba, Rafa Winston langsung menembak Hudoyo di kaki nya.
"Jangan bergerak! Atau aku akan mengubahmu menjadi karung bekas yang tidak berguna sekarang juga! " teriak Rafa Winston. Hudoyo hanya bisa menarik tangannya kembali.
Jika hanya Rafa Winston yang membawa senjata, Hudoyo masih bisa menemukan cara untuk bertarung dan melawan. Tapi sekarang, ada lebih dari sepuluh orang terlatih dengan senjata yang di arahkan arahkan ke mereka bertiga dari segala arah, dan mustahil bagi Hudoyo untuk membunuh orang-orang ini dengan senjata ini dalam sekejap.
"Bukti apa yang baru saja kamu katakan? Akan kuberitahu, aku Rafa Winston, aku tidak perlu bukti apapun untuk mengetahui apa yang kamu katakan!" Rafa Winston berkata dengan bangga.
Ada jeda saat Rafa terdiam. Setelah itu, Rafa Winston melanjutkan sambil tersenyum,
"Merupakan masalah besar bagi aku untuk mengerahkan personel dan peralatan secara pribadi, tetapi keluarga Aku dapat mengatur untuk melindungku, dan Aku tidak dapat di pecat dan di hukum. Tapi, kamu harus membayar harga dengan nyawa Anda! Apakah kamu mengerti? " teriak Rafa Winston.
"Rafa, beritahu aku apa yang kamu inginkan! " Arsa Kenandra berkata dengan dingin.
"Arsa, aku akan memberimu kesempatan untuk hidup. Berlututlah di depanku, jadilah seperti anjing, jilat debu sepatuku, dan pergilah kamu dari Kota Surabaya ini " Rafa Winston tersenyum dengan jahat.
"Kamu! " Setelah mendengar kata-kata itu, wajah Arsa Kenandra berubah drastis. Bahkan jika Rafa membuat Arsa Kenandra masuk ke kubur, Arsa Kenandra tidak akan pernah melakukan itu. Ini adalah martabat seorang pria yang harus.
"Arsa, jika kamu tidak melakukan ini, tidak hanya kamu yang akan mati, tetapi kedua orang di sampingmu itu akan mati juga. Aku berjanji, Aku bisa melakukannya dengan mudah." Seru Rafa Winston. Arsa Kenandra tampak lebih marah, bahkan jika dia mati, dia tidak akan berlutut di depan Rafa. Tapi dia tidak ingin melibatkan Hudoyo dan Fendi.
"Aku akan memberimu sepuluh detik untuk berpikir tentang semua ini dan memilih, antara mati, atau berlutut di kakiku. Ketika waktunya habis, Aku berjanji, Aku akan memerintahkan mereka semua untuk menghabisimu!" Rafa Winston berkata sambil tersenyum muram. Bagi Arsa Kenandra, yang terbaik adalah dia menyelesaikan masalah tanpa menembak, baku hantam, ataupun dengan pertumpaham darah. Sehingga tidak ada orang lain yang harus menanggung akibatnya. Jika Rafa melakukannya, hukumannya akan lebih besar.
Sesaat Kemudian, Rafa Winston mulai menghitung mundur.
" Sepuluh."
" Sembilan." Saat Arsa mendengar Rafa Winston mengingatkan hitungan mundur, wajah Arsa Kenandra menjadi semakin jelek karena merasa khawatir.
"Arsa, hidupku seharusnya sudah hilang sejak di Bandung. Tuan Andi-lah yang membuatku masih mampu bertahan hidup hingga bertahun-tahun, dan sangat beruntung bagiku karena bisa bertemu Arsa denganmu." Kata Hudoyo.
Meskipun Fendi takut, dia mengertakkan gigi dan berkata, "Tuan Arsa, Saya selalu ditekan di perusahaan. Anda mempromosikan saya setelah Anda menjabat, dan Anda selalu mempercayai saya. Anda memiliki pemahaman yang baik tentang saya. Saya layak mati bersama Tuan Arsa!" Arsa Kenandra merasa lebih buruk lagi ketika mendengar kata-kata mereka.
"Tiga! "Arsa Kenandra tidak ingin menyakiti mereka berdua.
"Dua"
"Satu... " Rafa Winston masih mengucapkan hitungan mundur yang sudah sampai akhir. Dan hitungan itu sudah dihitung sampai akhir.
__ADS_1
"Arsa, sepertinya kamu punya banyak tulang punggung. Kamu lebih memilih mereka mati daripada berlutut di depanku? Kalau begitu, pergilah ke neraka bersamanya! Teman-teman, Lakukan! " Atas perintah Rafa Winston, rekan-rekannya yang mengenakan seragam militer itu, mereka semua menarik senjata dan mulai bersiap untuk menembak.
"Tunggu! Berhenti! Berhenti!" teriak Arsa Kenandra untuk menghentikan anak buah Rafa Winston.
"Rafa, ini adalah perseteruan di antara kita, jangan libatkan orang lain. Kamu bisa membunuhku. Tapi biarkan yang lain hidup karena mereka punya keluarga, mereka tidak ada hubungannya dengan kita!" Kata Arsa dengan gigi terkatup.
"Apakah kamu sedang memohon padaku? Jika kamu ingin mengemis kata maaf, berlututlah dan memohonlah! Mungkin aku bisa memikirkannya! " Rafa Winston menyeringai muram. Rafa Winston jelas berusaha mempermalukan Arsa Kenandra.
Rumah Rita Maharani di belahan lain di Kota Surabaya.
"Putriku, aku baru saja menerima berita besar. Maukah kamu mendengarnya? " Endrow bertanya.
"Tidak tertarik." Rita Maharani menghampiri sofa dan mengeluarkan ponselnya untuk bermain.
Endrow tersenyum dan melanjutkan,
"Ini tentang Arsa Kenandra dan Rafa Winston."
"Mereka?" Rita Maharani kaget.
Lalu, Rita Maharani buru-buru bertanya, "Apa yang terjadi dengan mereka?"
"Aku dengar Rafa mengirim mobil tank dengan beberapa pria bersenjata lengkap dan pergi ke Gedung Kendi Group. Dan dia juga berkata dia akan membunuh Arsa! Diperkirakan Arsa akan mendapat banyak kesialan kali ini, "kata Endrow.
"Papa... Apakah papa bercanda? Rafa, beraninya dia? " kata Rita Maharani penuh kecemasan karena khawatir.
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda? " kata Endrow.
Setelah terdiam beberapa saat, Endrow melanjutkan,
"Tapi sekali lagi, mereka juga bertengkar karena kamu, dan aku tidak menyangka sepuluh tahun kemudian, Rafa Winston ini akan kembali ke Kota Surabaya untuk mencarimu. Kalau saja aku tahu itu, aku tidak akan menjodohkanmu dengan Arsa Kenandra." kata Endrow. Rafa Winston dulunya berada di Kota Surabaya. Saat itu Endrow ingin menjodohkan Rafa Winston dan putrinya ketika mereka besar nanti, namun Rafa Winston meninggalkan Kota Surabaya selama sepuluh tahun lebih. Endrow mengira kalau Rafa Winston sudah melupakan semua tentang putrinya. Itu sebabnya Endrow tidak memikirkannya.
Terakhir kali, saat iya bertemu dengan Arsa Kenandra, dia berusaha dan berencana untuk menjodohkan putrinya dan Arsa Kenandra.
Endrow menatap Rita Maharani dan bertanya, "Rita, apakah kamu tidak menyukai Arsa? Apakah kamu masih membencinya? Sekarang Rafa akan membunuhnya, mengapa kamu begitu gugup?"
"Papa, itu bukan urusanmu." Setelah Rita Maharani mengucapkan kata-kata itu, dia berlari ke atas dan masuk ke kamarnya. Setelah Rita Maharani menutup pintu kamarnya, ia segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rafa Winston dengan tangan gemetar. Dia akan mencoba menghentikan Rafa Winston. Rita Maharani tidak tahu mengapa dia begitu mengkhawatirkan keselamatan Arsa Kenandra, namun jauh di lubuk hatinya, dia tidak ingin Arsa Kenandra mati.
"Aku tidak tahu kenapa perasaanku seperti ini." Rita Maharani berkata dalam hati. Dia mengira Arsa Kenandra mungkin dibunuh oleh Rafa Winston, dia sangat khawatir!
Di Kendi Grub Cabang Surabya.
__ADS_1
"Jika Aku berlutut dan memohon kepada kamu, kamu akan membiarkan mereka berdua hidup kan?" Arsa Kenandra menatap Rafa Winston dengan mata merah.
"Kamu tidak punya hak untuk menegosiasikan persyaratan denganku. Berlututlah dulu! Jika sikapmu baik, aku akan tinggalkan mereka berdua!" kata Rafa Winston dengan bangga. Arsa Kenandra menghela nafas panjang lalu mengucapkan sepatah kata,
"Baiklah."
Arsa Kenandra lebih baik mati daripada kehilangan martabatnya di hadapan Rafa Winston. Namun Arsa Kenandra rela menggadaikan harga dirinya, sebagai ganti nyawa Fendi dan Hudoyo,
"Arsa! Kamu tidak bisa melakukan itu!" Hudoyo meraih lengan Arsa Kenandra. Saat itu, ponsel Rafa Winston berdering. Ketika dia melihat siapa orang yang menghubnginya itu, dia langsung menjawab.
"Halo, Rita." Rafa Winston mengangkat telepon.
"Rafa, kudengar kamu akan membunuh Arsa Dengan senjata juga dan membawa anak buah. Benarkah? " Terdengar suara Rita Maharani di seberang telepon.
"Iya, dia ada di depanku sekarang, dan dia mau berlutut. Rita, maukah kamu melihatnya? Nanti aku buatkan videonya." Rafa Winston berkata sambil tersenyum.
"Rafa, maukah kamu berhenti main-main? Kita bicara tentang kehidupan manusia. Anggap saja aku mohon padamu. Jangan membentakku. Tolong, hentikan ini." Suara Rita Maharani terdengar cemas. Wajah Rafa Winston merasa aneh saat mendengar kata-kata itu.
"Rita, beraninya kamu bilang 'memohon' untuk laki-laki ini? Laki-laki itu adalah seorang yang pecundang. Dia tidak punya kemampuan selain mengandalkan jati diri kakeknya! Kualifikasi dan kemampuan apa yang harus dia punya agar kamu memohon padanya?" Rafa Winston berkata dengan dingin.
"Rafa, aku… Aku hanya tidak ingin kamu membunuh siapa pun karena aku! Kalau kamu berani membunuhnya, aku akan membencimu seumur hidupku! " Rita Maharani berbicara tegas di telepon. Dan panhhilan pun berakhir secara sepihak. Rita Maharani menhakhiri panggilannya.
Setelah menutup telepon, Rafa Winston tampak begitu marah. Arsa Kenandra juga sedikit terkejut. Meskipun Arsa Kenandra tidak tahu apa yang dikatakan Rita Maharani di telepon kepada Rafa Winston, sepertinya Rita Maharani tahu apa yang sedang terjadi di gedung Kendi Group. Rita Maharani sepertinya memohon pada lelaki di depannya itu.
Dalam benak Arsa Kenandra,
'Rita sangat membenciku, bukan? Bukankah dia ingin aku mati, kan? Tapi kenapa dia memohon pada Rafa? 'Arsa Kenandra tidak pernah menyangka Rita Maharani akan memohon pada Rafa untuk dirinya.
Pada saat itu, Rafa Winston yang merasa kesal menodongkan pistol ke Arsa Kenandra dan berteriak.
" Tunggu apa lagi? Kenapa kamu tidak berlutut! Apa kamu ingin aku membunuh dua orang di sampingmu? Berlutut lah sekarang agar mereka selamat! " teriak Rafa dengan geram.
"Dia tidak akan berlutut! " Hudoyo meraih lengan Arsa Kenandra.
"Ya, dia tidak boleh berlutut! "Fendi juga berkata. Saat itu, dua suara keras terdengar, dan Hudoyo serta Fendi masing-masing tertembak di kaki. Arsa merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ada orang lain yang mau berkorban untuknya. Bahkan, mereka tidak ada hubungan darah dan hubungnnya dengan masalah ini.
Pesan Author
"Diamlah saat emosimu memuncak. Karena jika kamu bertindak di saat emosi menguasai, kamu akan kehilangan banyak hal"
Insya Allah, mulai sekarang, author akan menyelipkan katta-kata motivasi.
__ADS_1
Thank's reader, semoga sehat selalu.