Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pengaruh Kendi Grub


__ADS_3

Arsa, salah satu tugas kita di departemen pembelajaran ini adalah untuk memeriksa jam absen mahasiswa. aku telah mencatat semuanya. Kalau aku melaporkan kepada pihak kampus, maka pihak kampus akan segera mengeluarkan kamu." kata Daniel sambil tersenyum. Iya mengangkat buku absensi di tangannya.


"Karena kamu sudah berani menentang Serikat mahasiswa di kampus ini, Dan menganggap kalau Serikat mahasiswa ini tidaklah penting. Kami akan memberikan pelajaran berharga untuk kamu. Kamu tahu, Serikat ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu remehkan. Apalagi melihat keadaan dirimu yang seperti itu." setelah berhenti berbicara beberapa saat, Daniel kembali berkata.


"Sungguh? " Arsa tersenyum. iya jelas tahu kalau kedua orang ini datang untuk membalaskan dendam temannya.


"Bagaimana mungkin kamu masih bisa tertawa. Tapi apa kamu tidak tahu kalau kamu akan segera dikeluarkan dari kampus ini." mahasiswi berambut pirang itu berkata sambil tertawa.


"Kalau begitu, aku akan melihat bagaimana kalian akan mengusahakan aku di keluarkan dari kampus ini. Kalau kalian bisa, aku akan dengan sukarela keluar sendiri dari kampus ini." kata Arsa dengan tegas. Yang ada di dalam benak Daniel adalah selama dia menunjukkan buku absen yang di pegangnya sertamengamcam Arsa, Arsa akan takut dan bahkan tunduk dengan apa yang di katakannya. Bahkan dalam ekspektasinya, Arsa akan memohon belas kasihan terhadapnya. tapi Arsa benar-benar tidak peduli dengan apa yang di lakukannya, benar-benar di luar dugannya.


"Tentu saja tidak! "jawab Arsa dengan santai sambil merentangkan kedua tangannya.


"Kamu masih bisa bicara dengan lantang ya. Tunggu saja, aku akan melaporkan ke pihak kampus hari ini juga supaya kamu dikeluarkan." kata Daniel dengan kejam. Ia pun berbalik untuk pergi meninggalkan Arsa. namun saat ia berbalik ia melihat seorang pria paruh saya yang menggunakan setelan jas lewat di depannya.


"Itu pak Rektor." kata Daniel. Deni Daniel dan temannya Tadi pun mengenali siapa yang lewat di depannya tersebut. Yang tidak lain adalah Rektor Universitas Surabaya. Jadi Daniel pun buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi senyum.


"Selamat siang pak rektor. Saya Daniel, ketua Serikat mahasiswa dari departement pembelajaran." kata Daniel menyapa.

__ADS_1


"Selamat siang pak." Kata Teman Daniel tadi juga ikut menyapa dengan senyum ramah. Rektor tersebut mengangguk santai lalu melanjutkan perjalanannya.


Di langkahnya yang Baru beberapa ayunan itu, dia melihat Arsa yang tengah berdiri di depannya.


"Bukannkah ini tuan Arsa? Aku ngga salah lihat kan? " gumam pak rektor saat melihat Arsa di sana.


"Selamat siang tuan Arsa." sangat wajar Rektor tersebut hanya menyapa Ala kadarnya ketika ia bertemu banyak mahasiswaa.


"Lihat deh, Arsa pura-pura tidak melihat pak rektor yang ada di sini." kata Daniel kepada teman perempuannya tadi.


"Lihat saja, dia bahkan nggak mau menyapa Rektor. Dia itu memang pantas untuk dikeluarkan dari kampus ini." jawab teman Daniel. Sesaat kemudian, Rektor tersebut mendekat ke arah Arsa. Iya tersenyum dan berinisiatif untuk menyapa Arsa lebih dekat lagi.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Pak rektor malah menyapa anak itu dengan sikapnya yang begitu hormat." gumam Daniel dengan rasa penasaran.


"Pak rektor, Anda terlihat sangat baik hari ini." saat Rektor tersebut sudah berada di depan Marsha, Arsa pun menjawab sapaannya.


"Saya merasa baik karena telah melihat Tuan Arsa hari ini." balas Rektor tersebut sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ii... Ini tidak mungkin." Kata Daniel dengan beberapa rasa penasaran yang menggerogoti perasaanya.


"Apa? Yang benar saja? Kenapa pak Rektor malah menjabat tangan Arsa?" Gumam teman Daniel. Semua yang di lihatnya benar-benar membuat Daniel dan temannya itu hancur. Hancur karena mereka telah melakukan kesalahan.


"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel dalam hatinya.


"Maaf tuan Arsa, Apa yang anda lakukan di sini?" tanya Rektor tersebut kepada Arsa.


"Karena mereka mau mengeluarkan saya dari kampus ini. Karena Pak Rektor ada di sini, kalian bisa langsung melaporkan, saya jadi di keluarkan arau tidak." Arsa tersenyum penuh kemenangan.


"Mengeluarkan? Tuan Arsa maaf, apa yang sedang anda bicarakan? "


"Kalian tidak bisa mengeluarkan Tuan Arsa dari kampus ini meskipun kalian bisa mengeluarkan siapapun yang kalian mau." kata kepala sekolah dengan senyum dipaksakan.


Arsa telah menyumbangkan uang sebesar 1 miliar kepada kampus. Dan Pak rektor pun sudah berjanji kepada ar2sa dia tidak akan mengeluarkan mahasiswa itu berapapun jumlah absen yang telah kosong. Ini adalah alasan dulu kepala sekolah tidak mengeluarkannya saat Bayu memintanya. Tapi karena saat ini Rektor sudah tahu siapa sebenarnya Arsa. Jadi ceritanya seperti ini, saat Arsa mendonasikan uang sebesar 1 miliar itu, Rektor meminta sekretarisnya untuk mencari tahu identitas Arsa kenandra. Tapi informasi yang didapatkan menunjukkan kalau Arsa tidak memiliki identitas dan pengaruh yang kuat karena berasal dari keluarga miskin. Karena ia tidak puas sampai di situ saja, pak rektor menyuruh sekretarisnya untuk memeriksa kembali. Dan beberapa hari yang lalu, akhirnya sekretaris Rektor itu berhasil mendapatkan informasi kalau Arsa kenandra adalah cucu dari orang yang bernama Andi sudiryo, seorang CEO di perusahaan Kendi grup. Di saat pak rektor mengetahui identitas ini, Dia sangat terkejut. Arsa adalah cucu orang terkaya di Indonesia, dan betapa kuat pengaruhnya di sini.


Rektor tersebut berbalik dan memandang ke arah Daniel dan temannya.

__ADS_1


"Kalian ingin mengeluarkan Tuan Arsa? Apa benar kalian mengatakan hal itu?" Rektor tersebut memasang wajah datar serius dan berbicara dengan nada mencela. dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu, tentu saja kedua mahasiswa tersebut sangat ketakutan. meskipun menjabat sebagai ketua Serikat mahasiswa di kampus tersebut, mereka sangat Jarang bertemu atau bertegur sapa dengan Rektor. Dan apa yang baru saja dilihatnya itu, membuat kedua mahasiswa yang tadi menyombongkan jabatannya terdiam tak berkutik.


__ADS_2