Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Pemintaan Kakek Aji Kenandra


__ADS_3

"Arfan, kamu hanya memikirkan nilai secara fisik! Tapi kamu melupakan yang lain. Di dunia ini, ada kasih sayang juga." kata Adeena. Pada Saat keduanya sedang berdebat, pengurus rumah tangga turun dari lantai atas. Pengurus rumah tangga langsung mendatangi Arsa dan mengatakan sesuatu.


"Tuan Arsa, tuan besar meminta Anda untuk naik dan dia ingin melihat Anda sendirian." seorang kepala pelayan berkata.


"Oke. Kamu berjalanlah terlebih dahulu, dan tunjukkan jalan," kata Arsa dengan tenang. Setelah itu, kepala pelayan membawa Arsa ke lantai atas. Di belakang Arda dan kepala pelayan itu mendengar suara sepupunya.


"Kakek ingin bertemu dengannya dan kita tidak akan tahu apa yang akan dia lakukan." kata Rey.


"Diperkirakan dia ingin Arsa kembali ke keluarga Kenandra." jawab Arfan.


" Itu mungkin saja. Lagi pula, di tubuh Arsa mengalir darah keluarga kita." jawab Rey.


"Arfan, kalau orang ini kembali ke keluarga Kenandra, maka hal itu tidak akan mempengaruhi keberadaan kita kan? " bisik Rey pada Arfan.


" Apa yang bisa dilakukan sampah seperti dia hingga bisa mempengaruhi keberadaan kita? " Arfan menggeleng dengan nada menghina. Di antara generasi muda keluarga Kenandra, hanya dia dan Adeena yang merupakan kandidat paling mungkin untuk sukses. Tapi sejujurnya, MBA Stanford University tempatnya kuliah, masih jauh dari Harvard Business School tempat Adeena menimba ilmu.


Namun, Adeena adalah seorang gadis yang ditakdirkan untuk menikah dengan seorang lelaki di masa depan. Jadi, sudah ditakdirkan bahwa dialah, si Arfan, yang nantinya akan mengambil alih seluruh Grup Kenandra, dan dia tidak mengira Arsa yang tumbuh dan berasal dari pinggiran itu bisa menggoyahkan hal itu.


Ketika Arsa naik ke atas, dia pertama kali melihat paman dan bibinya di ruang tamu.


"Arsa, apakah kamu tidak tahu bagaimana harus memberi hormat ketika bertemu dengan orang yang lebih tua? " Paman kedua Arsa, paman Han, mengerutkan keningnya saat melihat Arsa datang tanpa menyapa. Arsa tersenyum dingin, lalu mengikuti pengurus rumah tangga tafi dan melanjutkan perjalanan. Hanlah yang paling menentang ayah Arsa hingga berselisih, yang menyebabkan Ayah Arsa memutuskan hubungan dengan keluarga Kenandra.

__ADS_1


Ketika ibu Arsa mengajak putranya menemui pamannya itu, dan meminta mereka membantu meminjam sejumlah uang untuk membayar uang sekolahnya, Hanlah yang paling banyak mengejek mereka, dan hinaannya terhadap ibu Arsa kini terpatri kuat dalam benaknya. Jadi, bagaimana Arsa bisa menghormatinya?


Ketika Arsa mengabaikannya, wajah Han tiba-tiba meredup.


"Sungguh kacau, aku tidak tahu bagaimana ibunya yang liar mengajarinya etika yang aku tidak mengerti dengan jelas. Ada kehidupan yang sia-sia. Jika bukan karena lelaki tua itu, aku akan mengeluarkannya dari sini sekarang juga." Han mengomel karena jengkel.


"Ya Tuhan, kamu hanya akan menyalakan api jika terus berbicara dengan anak liar seperti dia. Kita tidak punya waktu untuk itu. Bagaimana proyek renovasi desa di kota ini? " tanya salah satu Paman Arsa.


"Aku pastikan akan berjalan lancar." jawab Han.


Di pintu ruang kerja vila, pengurus rumah tangga berdiri.


"Tuan Arsa, Tuan besar ada di dalam. Anda boleh masuk." Katanya.


Pengurus rumah tangga melihat Arsa memasuki pintu, dan dia berkata, "Sikap Tuan Arsa terhadap kami sangat baik, dan di antara seluruh keluarga Kenandra, Nona Adeena adalah satu-satunya yang bisa bersikap sopan kepada kami seperti dia."


Arsa memasuki pintu dan menginjakkan kaki di dalam ruang kerja kakeknya. Lelaki tua berambut abu-abu itu memusatkan perhatiannya pada koran yang iya pegang, dan meskipun ia sudah tua, ia bukan orang biasa. Dia adalah kakek Arsa, Aji Kenandra. Mungkin karena darahnya, Arsa memiliki rasa keintiman yang tak bisa dijelaskan saat bertemu kakeknya.


"Arsa, silakan duduk." Aji menggerakkan tangannya.


"Tidak kakek. Jika ada yang ingin kakek katakan, katakan saja." Arsa berdiri teguh, tidak rendah hati din hadapan sang kakek.

__ADS_1


Setelah mendengar kata-katanya, Aji, yang sedang membaca koran, mau tidak mau meletakkan korannya dan menatapnya. Saat Aji melihat Arsa, matanya bersinar karena terkejut. Dengan sebagian besar hidup Aji dihabiskan di lautan perdagangan, ia mengalami banyak pasang surut sehingga sepasang matanya melupakan wawasan alami terhadap dunia dan perasaan manusia. Terakhir kali dia bertemu Arsa beberapa tahun yang lalu, ketika Arsa dan ibunya datang meminjam uang pada mereka. Arsa pada saat itu tampak rendah diri, penakut, dan lemah. Tetapi sekarang, saat dia melihat Arsa, dia merasa bahwa Arsa sekarang seperti pisau yang tajam, seorang pemuda yang kuat dan percaya diri bahkan ketika dia berdiri di hadapan kakeknya, dia tidak mau duduk.


Di antara cucu-cucunya, hanya Adeena dan Arfanlah yang sangat berharga baginya karena mereka membuatnya bangga.


" Arsa, sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu denganmu. Kamu sudah banyak berubah." tuan Aji masih terkejut.


" Dan seiring bertambahnya usia, perubahan adalah hal yang wajar." Arsa dengan tenang memberitahunya. Aji tersenyum saat mendengar jawaban Arsa.


"Belum tentu hal itu selalu terjadi. banyak orang sudah menua, namun masih kurang berminat untuk bisa mengembangkan diri, misalnya putra bungsu paman kedua kamu, Rey. Bahkan ketika dia sudah cukup umur, yang dia tahu hanyalah makan, minum dan bermain. Seumur hidupnya akan berakhir dengan kurangnya minat mengembangkan diri." jawab sang kakek.


" Kakek, kakek memanggil saya, namun bukan itu yang saya harapkan dari kakek untuk dibicarakan." Arsa tetap tenang.


" Kalau begitu, harus kukatakan, kamu juga cucuku, Hal apa pun yang dibuat antara ayahmu dan aku tidak boleh melibatkanmu. Aku ingin kamu mengenali leluhurmu dan memindahkan jenazah ayah kamu kembali ke keluarga Kenandra." kata Aji.


"Tidak masalah." Arsa mengangguk. Arsa pernah mendengar ibunya mengatakan bahwa keinginan terakhir ayahnya sebelum meninggal adalah suatu hari nanti, dia akan ditempatkan di aula keluarga mereka. Mungkin itu sebabnya ibunya membujuk Arsa untuk kembali kali ini. Jadi, dia langsung setuju. Ketika Arsa menyetujui tanpa menolak permintaannya, ada sedikit kejutan di mata Aji karena dia benar-benar mengira Arsa akan mengatakan tidak. Setelah itu, wajahnya menunjukkan senyuman. Lagipula, usianya sudah 80 tahun, dengan usianya yang segini, ia berpikir jika dibandingkan dengan kebahagiaan generasi muda mendatang, mengapa masalah kesah harus dihitung?


"Baiklah, saat makan malam keluarga nanti, aku akan mengumumkan beritanya di depan umum. Pergilah bersama sepupumu dan kenali mereka." Kata Aji.


Ketika Arsa turun, dia dengan santai mencari tempat duduk dan tidak pergi ngobrol dengan sepupunya. Bukan berarti Arsa tidak mau pergi karena meskipun dia pergi ngobrol, mereka pasti akan menolaknya. Bagaimanapun juga, dia dianggap bajingan bahkan jika dia kembali ke keluarga. Selain itu, mereka akan bertanya-tanya mengapa dia masih di sana.


Saat itu, Adeena mungkin melihat Arsa duduk sendirian di sudut. Takut Arsa akan merasa terlalu kesepian, dia berlari menghampiri Arsa untuk ngobrol dengannya. Tidak lama setelah Arsa turun, para tetua mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Makan malam keluarga akan segera dimulai, dan tuan-tuan sudah bisa untuk mengambil tempat duduk anda masing-masing." Kata pengurus rumah tangga. Perjamuan diadakan di ruang tamu, dan Aji secara alami duduk di kursi utama. Orang yang paling dekat dengannya tentu saja paman-paman Arsa, disusul para sesepuh lainnya. Setelah itu, baru para generasi muda Kenandra Grub.


__ADS_2