Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kekhawatiran seorang sahabat


__ADS_3

"Kalau kita ingin makan tempat yang dekat dengan kampus, kita pergi saja ke restoran Joglo manis " kata Arsa pelan.


"Pernahkah kamu ke Jogli manis? Aku pernah ke sana sama Bayu. Apa kamu tahu kalau harganya sangat mahal?" mahasiswa berambut merah itu tersenyum.


"Tentu saja aku tahu. Kalau kamu tidak mampu, itu urusanmu." kata Arsa dengan entengnya.


"Kamu! Kamu menyombongkan diri seolah kamu mampu membelinya, setidaknya aku jauh lebih baik dari kamu." Kata Teman sekelas Arsa berambut merah tadi dengan sedikit membentak.


Di saat yang bersamaan, Helen pun langsung menyahut.


"Bukankah Arsa yang mengusulkan untuk makan di restoran Joglo manis? Oke, kita akan pergi ke joglo manis untuk makan malam. Terus gimana dengan makanan yang kamu makan nanti?" tanya Helen dengan Ketus.


"Ngga ada masalah dengan makanan yang akan aku makan. Ya aku akan membayarnya sendiri lah. Bukan cuma makanan aku, tapi makanan yang kalian makan juga. " jawab Arsa dengan tenang. dia pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Helen.


Di saat Helen mendengar jawaban Arsa, Dia sangat tertegun. Dia pikir kalau Arsa tidak akan mengatakan iya. Jadi dia bisa terus mengolok-olok temannya itu.


"Oke. Keputusan terakhir makan malam adalah di Joglo manis." teriak Helen dengan keras. Iya sudah bersiap untuk lebih mempermalukan Arsa kembali. nanti Saat Arsa menerima Bill bagaimana Arsa akan membayar makanan di restoran bergengsi tersebut. Dan semua mahasiswa yang hadir di situ setuju dengan catatan selama mereka tidak membayar makanan yang dimakannya. Mereka sangat bersedia untuk mengunjungi makan malam mewah itu.

__ADS_1


"Ayo semuanya pergi." kata Helen sambil berjalan terlebih dahulu menuju ke restoran joglo manis.


"Helen." Talita menghentikan langkah Helen. Iya sangat memperhatikan dan menimbang-nimbang kembali bagaimana keputusan akhir makan malam ini.


"Helen... Kamu benar-benar sudah keterlaluan. Arsa itu juga teman sekelasmu, kok bisa-bisanya kamu itu sengaja melakukan semua ini kepadanya." kata Talita dengan wajah kesal dan terdengar marah. Biasanya Talita selalu bersikap baik dan tidak akan mau bertengkar dengan siapapun. Dia dan Helen juga sahabatan. Tapi karena Helen mencoba untuk mempermalukan Arsa, membuat Talita merasa tidak terima.


"Talita, kenapa kamu masih juga membelanya? Apa kamu nggak bisa lihat kalau dia itu adalah orang miskin yang sombong. Aku merasa kalau kamu itu telah ditipu dengan sikap manisnya itu. Sebagai seorang teman, aku harus membantumu untuk melihat Bagaimana keadaan asli Arsa hari ini." kata Helen dengan penuh percaya diri sambil terus melangkah berjalan ke arah restoran Joglo manis. Sedangkan semua mahasiswa teman satu kelas itu mengikuti di belakangnya.


Di saat yang bersamaan Arsa berjalan ke arah Talita dan mendekatinya.


"Talita, aku minta maaf karena telah merusak persahabatanmu dengan Helen. Persahabatan kalian harus hancur karena aku." kata Arsa.


"Talita, apa kamu merasa kasihan sama aku? " Kata Arsa sambil tersenyum. Mendengar apa yang dikatakan oleh Arsa membuat Talita tersipu.


"Tidak, kita adalah teman, sahabat. Jadi aku ngga mau melihat kamu di tertawakan oleh siapapun." Jawab Talita.


"Ketua kelas ku yang cantik, aku pikir semakin hari kamu tidak seperti seorang teman. Tapi terlihat seperti seorang kekasih." Kata Adit sambil tersenyum. Nendengar apa yang dikatakan oleh Adit, membuat semburat merah timbul di pipi Talita. Sedangkan Arsa berdehem untuk menghilangkan rasa canggung.

__ADS_1


"Adit, Jangan bicara yang macam-macam." kata Arsa.


"Aku tidak bicara macam-macam. aku hanya menantikan saat-saat yang tepat. Dan aku juga merasa tidak sabar saat nanti berada di dalam restoran. Aku yakin mereka semua yang telah menghinamu akan Kehilangan wajah mereka. Aku ingin melihat siapa lagi yang berani menertawakanmu setelah ini." kata Adit sambil tersenyum gembira. Adit sudah tahu kalau Arsa adalah pemilik restoran Joglo manis saat ini. Adit yang tadi merasa suaranya tercekat dan tidak bisa berbicara apa-apa, kini akhirnya dia memiliki kesempatan untuk membiarkan para mahasiswa melihat dengan baik bagaimana Arsa yang sebenarnya.


"Ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan kepada mereka semua. kalau aku tidak pantas dipandang rendah." kata Arsya sambil tersenyum.


"Arsa, harga di restoran Joglo manis sangat mahal. Bahkan meskipun kamu mendapatkan undian jutaan, kamu tidak boleh menyalahgunakan uang tersebut seperti ini." Talita berkata karena merasa sangat khawatir kepada Arsa. dan dia juga tidak tahu kalau restoran tersebut adalah milik sahabatnya.


"Jangan khawatir, ayo! " Kata Arsa sambil tersenyum. Letak restoran Joglo manis hanya berjarak kurang dari 1 kilo dari kampus. Dan semua mahasiswa teman sekelas Arsa hanya berjalan kaki menuju ke restoran tersebut.


"Ini adalah gerbang restoran Joglo manis." kata seseorang.


"Ini adalah restoran paling bergengsi di dekat kampus kita. Lihat saja bangunan serta dekorasi ruangan yang sangat mewah seperti ini."


"Selama belajar di kampus ini selama 2 tahun, ini adalah pertama kalinya aku makan di tempat ini." banyak mahasiswa yang baru melihat tempat tersebut merasa sangat kagum.


"Arsa, Izinkan aku berkata sekali lagi kepadamu. Karena ini adalah hadiah dari kamu untuk makan malam di hari sumpah pemuda, kalau kamu tidak mampu membayar semua tagihannya, terserah bagaimana kamu akan menerima konsekuensi dari pihak restoran. Itu adalah urusanmu sendiri. Jangan pernah melibatkan kita dalam hal ini lagi." kata Helen dengan tegas.

__ADS_1


"Oke, kalau memang itu yang kamu inginkan. Silakan masuk." kata Arsa dengan tenang. Helen pun segera masuk ke dalam restoran dan diikuti oleh semua teman-temannya.


"Adit, Talita, ayo. Ayo kita masuk." Arsa melihat ke arah restoran tersebut dengan tersenyum dan mengajak kedua temannya. dia pun melangkah masuk ke dalam restoran.


__ADS_2