
"Iya, saya sudah menyingkirkan bos berhati busuk yang menyuruh orang-orang untuk melakukan pembongkaran. Bukan hanya dia, tapi semua orang yang terlibat dalam kejadian itu. Setelah membunuh mereka semua, saya berhasil melarikan diri dari negara ini dengan berbekal pengalaman yang saya pelajari di dunia militer sebelumnya." Hudoyo mengakui kekhilafannya dengan pandangan kosong. Tatapannya tertuju pada langit-langit bar. Setelah membicarakan hal ini, Hudoyo mengambil gelas anggur di atas meja dan langsung meminum air yang ada di dalamnya.
"Lalu?" Arsa terus bertanya.
"Kemudian, saya melarikan diri ke sebuah kota di Amerika dan bergabung dengan organisasi militer ilegal disana. Tapi beberapa misi dari organisasi ilegal itu terlalu tidak manusiawi. Dalam beberapa misi yang mereka lakukan, warga biasa yang tidak berdosa, bahkan seorang bayi juga akan dibunuh. Saya memilih untuk berhenti dalam waktu yang singkat. Setelah itu, secara kebetulan, saya mengenal seseorang dari dunia hitam. Seorang bos Mafia, lagi-lagi organisasi ilegal." kata Hudoyo.
Setelah diam sejenak, Hudoyo melanjutkan.
"Lalu, bagaimana kamu bisa berada di bawah perintah kakekku?" Arsa tampak bingung.
"Saya telah berkecipung di dalam dunia hitam selama 4 tahun. Dan 4 tahun ini pula telah banyak meningkatkan kekuatan saya. Tapi hal itu juga membuat saya menjadi seseorang yang berdarah dingin. Saya jadi memiliki banyak musuh dan tidak ada teman sama sekali dalam 4 tahun ini."
"Setelah 4 tahun berlalu, Saya ingin berhenti. Awalnya terasa mudah untuk masuk ke bisnis semacam ini, tetapi sangat sulit untuk keluar. Karena saya sudah sudah memiliki ketenaran di lingkaran bisnis semacam itu. Saya layaknya sapi perah milik bos dari dunia mafia yang baginya sangat menguntungkan. Sehingga, bos saya tidak mau melepaskan saya," kata Hudoyo.
__ADS_1
"Setelah saya mogok beberapa kali, bos saya akhirnya setuju kalau saya akan berhenti, tapi sebelumnya, dia ingin saya menyelesaikan misi terakhir. Ternyata misi itu adalah sebuah permainan yang ternyata adalah jebakan. Dia ingin membunuh saya. Dia memberi saya obat yang membuat saya kalah sebelum pertandingan di mulai. Seluruh tubuh saya kehilangan kekuatan setelah permainan itu selesai. Dia ingin membunuh serta menginjak reputasiku. Cara jahat yang di lakukannya membuat saya benar-benar tak berdaya."
"Apa? " Arsa terkejut mendengar cerita Hudoyo, bosnya Hudoyo dulu ternyata sangat brengsek.
Hudoyo pun melanjutkan ceritanya.
"Setelah pertandingan itu dimulai, saya dipukuli habis-habisan dan tak bisa melawan sama sekali karena kehilangan tenaga. Saya terluka parah, hidup saya terasa hancur. Kakek anda, Tuan Andi Sudiryo, kebetulan juga ada di sana saat itu. Dia melihat semua kejadian itu dan menghabiskan 20 Milyar untuk menyelamatkan hidup saya. Membuat identitas baru untuk saya dan membawa saya kembali ke Indonesia untuk menjadi pengawal pribadinya." cerita Hudoyo. Arsa merasa seperti mimpi setelah mendengar pengalaman Hudoyo ini.
"Hudoyo, aku tahu kamu tidak punya teman. Ayo kita habiskan segelas anggur ini lagi! Mulai hari ini, kamu punya teman, dan temanmu itu adalah aku." kata Arsa sambil mengangkat gelasnya dan terlihat serius.
"Tuan muda, ini..." Hudoyo masih terlihat ragu-ragu.
"Jangan pikirkan hal apapun, ayo kita Cheers! Setelah minum segelas wine ini, jangan panggil aku tuan muda lagi kedepannya, panggil aku Arsa!" kata Arsa.
__ADS_1
"Oke, aku akan menghabiskan segelas wine ini!" setelah Arsa selesai berbicara, dia meminum anggur di gelasnya. Hudoyo tidak merasa ragu lagi, dia langsung mengangkat gelas anggur dan juga mengangkat kepalanya untuk minum alkohol di dalam gelasnya sendiri.
Setelah meletakkan gelasnya, Arsa dan Hudoyo saling tersenyum. Hudoyo bersedia meminum segelas anggur itu bersama Arsa, yang berarti kalau Hudoyo telah menjadikan Arsa sebagai temannya.
Pada saat yang sama, terdengar teriakan di dekat meja dimana Arsa dan Hudoyo duduk. Arsa menoleh untuk melihat apa yang terjadi. Tidak jauh dari tempatnya duduk itu, ada lebih dari sepuluh pria bertubuh besar dengan kaus hitam mengelilingi seorang pemuda dan seorang gadis kecil yang tampak masih polos.
"Bukankah itu... Andre Rama dan Juliana Ita? " Arsa mengenali pemuda yang terkepung itu, pemuda itu tidak lain temannya di sekolah menengah pertama. Meskipun dia tidak pernah bertemu selama bertahun-tahun, Arsa masih bisa mengenalinya walaupun sekilas. Arsa tidak menyangka akan bertemu teman SMP-nya di sini.
"Hudoyo, ayo kita kesana dan lihat apa yang terjadi." Setelah Arsa selesai berbicara. Dia langsung berjalan ke arah teman lamanya itu.
"Sialan, berani sekali kamu ikut campur dalam masalah besarku. Apa kamu sudah bosan hidup? " Seorang pria dengan tato bunga di seluruh lengannya berkata. Iya berkata sambil mengarahkan jarinya ke hidung Andre dengan sangat angkuh. Beberapa pria bertubuh besar dan berbaju hitam yang mengelilingi Andre juga mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi, mereka semua terlihat sangat sombong.
"Dika, bagaimanapun juga, kita semua melakukan hal-hal di atas komando dari Fiko, jadi kamu jangan berbuat sesukamu dan juga jangan menyalahkan ide adikku Julia." kata Andre sambil tertawa. Mendengar Andre yang tertawa, lelaki bertato di lengan tadi mendekati Andre dan langsung menamparnya.
__ADS_1