Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Sikap Teman Semasa SMA


__ADS_3

"Arsa, menurut kedua saudaraku ini, kamu rela memutari Kendi Square untuk membagi-bagikan brosur, benarkah itu? " kata Varo dengan begitu merendahkan. Suaranya terdengar mencibir.


"Ada apa? Apakah kamu punya masalah dengan hal yang aku lakukan itu? " Arsa bertanya dengan tenang.


"Yah, sebagai mantan teman sekelasmu, aku sungguh malu padamu. Jika kamu kekurangan uang, kamu bisa datang bekerja di perusahaan ki. Demi masa lalu yang indah, aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk." Varo berkata dengan bangga.


"Varo, apakah kamu sudah berhasil mendirikan sebuah perusahaan? " tanya Erika sambil menatap Varo dengan heran.


"Iya. aku mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa Penagih hutang tahun lalu, dan dari perusahaan itu, aku bisa mendapat untung ratusan juta hanya dalam setahun. Roni dan Febrian keduanya bekerja di perusahaanku, dan aku juga melengkapi mereka dengan fasilitas sebuah mobil BMW." Kata Varo bangga. Dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Varo, dia diam-diam pamer. Saat itu juga, Roni buru-buru membuka mulutnya dan berteriak.


"Makan malam acara kelas terakhir kali itu hanya di restoran biasa. Tahukah kamu kenapa kita memilih hotel bintang tiga untuk makan malam ini? Itu semua karena pembayaran makan malam hari ini semuanya ditanggung oleh Varo! " kata Roni dengan Suara yang terdengar hingga di seluruh pendengaran para tamu undangan. Setelah mendengarnya, semua yang lain di dalam ruangan itu mengarahkan pandangan mereka ke arah Varo dan teman-temannya.


"Aku mendengar dari ketua kelas sebelumnya kalau makan malam hari ini dibayar oleh Varo. Aku dengar dia baik-baik saja sekarang." kata seorang mantan teman sekelas Arsa.


" Aku tidak menyangka Varo memiliki nasib yang sangat baik sekarang. Nah, apakah dia adalah salah satu orang yang terbaik di antara sekarang? " sahut seorang lagi. Para hadirin acara reuni yang hadir itu mulai berbicara dengan suara pelan. Varo melihat semua orang memandang ke atas dan memujanya. Tentu saja, dia langsung berekspresi bangga di wajahnya.


Saat itu, sebuah suara sumbang tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


"Apanya yang luar biasa memiliki penghasilan ratusan juta dalam setahun? " Semua orang mendengarnya dan berpaling untuk melihat siapa yang bicara. Dan orang tersebut adalah Arsa.


Varo menoleh pada Arsa dan mencibir.


"Tentu saja bangga! Bukankah penghasilan ratusan juta jauh lebih baik daripada seorang pecundang seperti kamu, yang hanya tukang membagikan selebaran? Tidakkah kamu merasa malu jauh di dalam hatimu? " kata Varo.


"Maaf, aku hanya ingin tahu. Ratusan Juta itu hanyalah uang saku bagiku." Ucap Arsa dengan tenang. Perkataan Arsa membuat yang lain yang hadir menutup mulut dan tertawa begitu Varo, Roni, dan Febrian mulai menertawakannya. Jelas sekali, mereka semua menganggap Arsa bersikap konyol.


"Arsa, bagaimana kamu bisa bersikap begitu? Kamu apa tidak tahu malu berani bicara cerita bohong seperti itu, huh... Dasar distributor brosur bau." Varo menunjuk Arsa dan tertawa.


Pada saat ini, Roni tersenyum


"Apa yang dia katakan?" tanya Varo. Yang lain juga menatap Roni penuh harap dan ingin tahu apa yang akan dia katakan.


"Katanya dia sedang mengendarai Lamborghini Daniel. " Roni tersenyum.


"Apa? Lamborghini Daniel?" Varo kembali tertawa. Yang lain juga ikut tertawa lagi, karena mereka mengira ini hanyalah khayalan Arsa.

__ADS_1


"Apakah kamu benar-benar mengatakan itu Arsa? " tanya Varo sambil tersenyum


"Ya, aku memang bilang begitu, dan mobil punya ku memang Lamborghini Daniel." kata Arsa dengan tenang.


"Jika kamu benar-benar mengendarai Lamborghini, maka gelandangan yang lain juga benar-benar bisa mengendarainya. Apakah kamu tidak malu untuk menyombongkannya, padahal itu hanyalah khayalanmu saja? " Varo tersenyum .


"Itu benar. Memalukan sekali melihat betapa curangnya dia." Para mantan siswa SMA itu juga berbisik. Erika, gadis tercantik di kelas saat SMA, tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya ketika mendengar kata-kata Arsa. Jelas, dia juga berpikir bahwa arsa hanya berbohong dan menyombongkan diri.


Saat ini, mantan ketua kelas masuk dari luar.


"Aku mendengar semua orang tertawa dari luat sana. Apa yang terjadi? Mengapa semua orang tertawa begitu gembira? " tanya Nindira.


"Nindira, kami di sini untuk mendengarkan bualan Arsa yang mengatakan dia kalau mengendarai Lamborghini Daniel." Kata Varo sambil mencibir. Nindira menatap Arsa dengan heran.


"Arsa, kamu tidak sedang menyombongkan diri kan? " tanya Nindira.


"Jika kamu tidak percaya padaku, kamu bisa bertanya pada semua orang yang ada di sini, apa yang baru saja dia banggakan." Varo tersenyum.

__ADS_1


"Iya, aku memang mengatakan kalau aku mengendarai Lamborghini daniel, tapi aku tidak merasa menyombongkan diri." kata Arsa setelah mendengar apa yang di katakan oleh mantan teman sekelasnga dulu.


__ADS_2