Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Masuk Kuliah


__ADS_3

"Benar, Tuan Arsa. Kami di sini untuk mengirim Anda ke Alam kubur." Lelaki besar berbaju hitam itu tersenyum. Lelaki berbaju hitam itu langsung mengangkat pisaunya dan mengibaskannya langsung ke arah Arsa.


Begitu lelaki besar berbaju hitam itu mengangkat pisaunya, sebuah anak panah terbang lurus ke atas, dan mengenai kepala lelaki besar berbaju hitam itu.


Pria besar berbaju hitam itu langsung terjatuh. Arsa memandang pria besar berpakaian hitam di tanah dan tersenyum dingin.


"Siapa pun yang menyuruhmu, maka akan menjadi orang yang akan pulang tinggal nama, bahkan jika dia tidak mau! " kata Arsa. Pada saat ini, Hudoyo muncul dari belakang Arsa. Terbangnya anak panah itu adalah mahakarya dari Hudoyo.


"Hudoyo, urus orang-orang ini, yang lain juga. Terserah kamu! Tinggalkan saja satu orang sebagai pengirim berita kepada tuannya," kata Arsa pelan.


"Oke! " Hudoyo mengangguk. Lalu dia bergegas keluar.


Semenit kemudian


Hudoyo membawa satu-satunya orang yang masih hidup, dan melemparkannya ke depan Arsa. Yang lainnya semuanya sudah menjadi mayat. Satu-satunya lelaki yang tersisa itu sangat ketakutan, tampak pucat, dan gemetar.


"Kembalilah dan ceritakan apa yang terjadi pada Tuan Wasis. Jalannya masih panjang untuk mempermainkanku..dan bilang, trik yang dia mainkan, masih jauh dari kenyataan dan harapannya, oke?" Arsa menatapnya.


"Baik tuan, saya mengerti." jawab lelaki itu dengan jawaban terbata-bata. Lelaki itu langsung saja merangkak pergi.

__ADS_1


"Keluarlah dari sini! " Arsa melambaikan tangannya.


Di dalam rumah.


"Arsa, kamu pasti punya gambaran pasti kalau Wasis adiguna mungkin akan mengirim menyuruh seseorang ke sini malam ini." Hudoyo berkata. Arsa pun tersenyum saat mendengar itu.


"Wasis adiguna akan berpikir kalau kamu tidak bersamaku, dan itu adalah kesempatan besar untuk bisa membunuhku. Kesempatan yang bagus saat dia bisa memainkannya permainannya dengan benar. Kalau tidak seperti itu, maka dia bukan Wasis adiguna namanya. Sekarang aku sudah paham bagaimana Wasis. Dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk membunuhku ketika dia mengetahui kalau kamu tidak ada di sampingku." kata Arsa yang sudah menebak hal ini akan terjadi sebelumnya. Jadi, dalam perjalanan pulang tadi, Arsa memanggil Hudoyo dan memintanya untuk kembali.


Di dalam Rumah Wasis adiguna.


"Persetan... Bodoh sekali." teriak Wasis Adiguna. Pria yang dilepaskan oleh Arsa tadi itu berlutut di depan Wasis adiguna. Mereka gagal membunuh Arsa. Dia melaporkannya dengan jujur ​​kepada Wasis adiguna


"Dia berkata... Dia mengatakan bahwa trik yang tuan mainkan untuk membunuhnya masih terlalu jauh dari kenyataan." Pria itu berkata dengan hati-hati. Wasis menghancurkan yang cangkir di tangannya ke lantai. Wajahnya dipenuhi amarah. Dia bisa membayangkan betapa bangganya Arsa ketika mengatakannya.


"Kamu juga akan mati! " Wasis yang marah langsung menyentuh pistolnya, melepaskan tembakan ke arah pria berbaju hitam itu, seolah dia sedang melampiaskan amarahnya dengan cara tersebut.


Keesokan paginya.


Cuaca hari ini sangat mendung, memberikan kesan pada perasaan yang tertekan, seolah-olah akan turun hujan lebat. Arsa mengendarai Lamborghini-nya sampai ke Universitas Kota Surabaya. Arsa sudah lama tidak masuk kuliah.

__ADS_1


"Wah, itu Lamborghini Tuan Arsa!" kata seseorang saat melihat kedatangan mobil Arsa.


"Aku belum pernah lihat tuan Arsa selama ada di sini!" sahut seseorang yang ada din sampingnya. Dan di saat itu juga, Arsa baru saja turun dari mobil.


Saat mengemudi dari gerbang hingga memasuki are parkir, para mahasiswa yang melihat Lamborghini milik Arsa merasa iri.


"Tuan Arsa!" Dua gadis cantik mendatangi Arsa. Arsa melirik kedua wanita itu, yang tingginya sekitar 1,7 meter. Mereka sangat tinggi dan seksi. Keduanya memiliki aura kecantikan di lihat dari wajahnya. Dan dalam level model yang seperti itu, Tentu saja, bagaimana mungkin seseorang bisa sebanding dengan bunga kampus, si Rita Maharani? Kecantikan wajahnya masih belum sebanding, dan temperamennya lebih buruk dari Rita.


"Apakah kamu sedang memanggilku? " kata Arsa sambil memandang mereka berdua.


"Tuan Arsa, jangan bilang ini sulit. Kami di sini untuk bertukar perasaan." Kedua wanita itu berkata sambil memegang bahu Arsa. Arsa pun tampak bingung.


"Maaf, aku tidak tertarik." Arsa mendorong tangan kedua wanita itu dan langsung menuju di mana kelasnya berada. Arsa tahu bahwa para wanita ini datang untuk menarik perhatian Arsa dan berusaha menjalin hubungan dengannya, tidak juga lebih dari untuk mendapatkan uangnya. Mereka hanya ingin menukar tubuhnya dengan uang Arsa. Sayangnya, Arsa tidak tertarik dengan wanita seperti ini! Sejak Arsa berkembang, sejujurnya, dia sudah terlalu sering bertemu dengan wanita seperti ini.


Ketika Arsa berjalan ke ruang kelas, dia melihat Rita Maharani berdiri di luar pintu.


"Rita, kenapa kamu ada di sini? Apakah kamu datang untukku?" Arsa memandangnya dengan takjub. Rita mendongak ke arah Arsa. Dan dalam tatapannya, memancarkan secercah beban dalam jiwanya, seperti bulan tertutup mendung.


"Ya, aku baru saja mendengar kabar kamu masuk kuliah hari ini, dan aku langsung datang ke sin. Kamu sudah lebih dari sepuluh hari aku tidak masuk ke kampus." Rita berkata dengan tenang. Arsa menyeringai.

__ADS_1


"Kamu tidak terlalu membenciku kam. Bagaimana kamu bisa mengingat dengan jelas hari dimana aku tidak masuk ke kampus? Begitu aku tiba kembali ke sekolah, kamu datang kepadaku atas inisiatifmu sendiri." ucap Arsa. Sedangkan Rita tidak menjawab Arsa, tapi berbalik dan memalingkan muka. Melihat reaksi Rita, Arsa membuang senyuman di wajahnya. Arsa mendapati reaksi Rita sedikit berbeda.


__ADS_2