
"Jangan khawatir. Meskipun mereka tidak peduli, aku sendiri yang akan mengurus semua masalah ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun, berani membuat masalah di Panti Asuhan Kasih Bunda! " kata Aprilia sambil mengeluarkan pistolnya. Pada saat itu juga, empat orang pemuda masuk ke dalam panti Asuhan. Sekilas Aprilia mengenali mereka berempat. Semuanya adalah rekan-rekan kerjanya.
"Aprilia, semua ini terserah padamu." kata Bu Kartini terdengar pasrah.
Setelah ke empat pemuda tadi masuk, iya mendekat ke arah Aprilia.
"Aprilia, komandan meminta kami untuk mengajak kamu kembali. Kakekmu meminta kami untuk menjagamu agar kamu tetap aman, meskipun harus dengan paksaan." Kata seorang pria dengan suara datar dan berdiri di paling depan.
"Aku tidak akan kembali!" Nada bicara Aprilia menolak dan bersikeras. Setelah pria bertopi itu mengatakan hal tersebut, dia menyuruh teman-teman yang datang bersamanya untuk langsung maju dan mengajak paksa Aprilia untuk di ajak pergi dari panti asuhan tersebut. Kemudian, setelah memborgol tangan Aprilia ke belakang, mereka membawa Aprilia keluar dari panti asuhan tersebut.
Aprilia berjuang keras melepaskan diri dengan berteriak, bagaimana dia bisa menghadapi empat laki-laki yang sedang memborgolnya itu?
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada panti asuhan Kasih Bunda di Kota Surabaya ini. Sama sekali tidak!" Aprilia berteriak dengan mata merah. Suaranya hampir pecah karena menangis, tapi tidak berhasil. Itu saja Aprilia dibawa keluar secara paksa. Jadi dia sudah tidak bisa berkutik.
Setelah Aprilia dibawa ke mobil, dia diborgol dan dikunci di dalam. Setelah mobil dinyalakan, perlahan-lahan mobil tersebut meninggalkan Panti Asuhan Kasih Bunda.
Akhirnya, setelah beberapa saat, Aprilia yang kelelahan berhenti berjuang dengan sia-sia. Iya hanya melihat ke Panti Asuhan Kasih Bunda dengan putus asa, dan air mata terus mengalir di sudut matanya.
Pada saat itu juga, Aprilia tiba-tiba melihat sebuah mobil Bentley dengan plat nomor 1111, diikuti oleh sepuluh ekskavator, dan ratusan orang menuju Panti Asuhan Kasih Bunda.
__ADS_1
"l... Itu mobil Bentley, itu mobil Wasis!" Sekilas Aprilia mengenali plat nomornya.
"Bajingan!"
"Wasis? Apakah dia akan menghancurkan Panti Asuhan Kasih Bunda?" Mata Aprilia membelalak. Aprilia yang bermata merah berteriak gila di dalam mobil, tapi tidak peduli berapa keras dia berteriak, hal itu tidak mengubah apapun. Aprilia tahu bahwa di bawah otoritas keji Wasis, hanya ada satu keajaiban yang bisa menyelamatkan panti asuhan tersebut. Kalau Tuhan tidak berkehendak, maka tempat terpuji itu akan hancur di tangan Wasis dengan segala kebengisannya.
Di Panti Asuhan Kasih Bunda.
" Bu Kartini, apa yang harus kita lakukan sekarang? " Devina tampak khawatir. Devina mengira semua akan baik-baik saja dengan bantuan Aprilia, tapi ternyata inilah yang terjadi.
Di Saat itu juga, seorang pemuda berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun berlari dengan tergesa-gesa.
"Pasti itu Kejora Grub, mereka datang untuk menghancurkan panti asuhan ini! " Bu Kartini tampak pucat dan putus asa. Bu Kartini tahu betul, jika Wasis benar-benar ingin menghancurkan Panti Asuhan Kasih Bunda, dengan cara apa dan bagaimana mereka akan menghentikannya?
Tiba-tiba saja, di saat itu juga Devina teringat akan apa yang di katakan oleh Arsa sebelum dia pergi.
"Kalau Aprilia tidak bisa mengatasi hal ini, maka aku akan menghubungi tuan Arsa." gumam Devina dalam hatinya. Devina tidak terlalu peduli dengan yang terjadi saat ini. Iya merasa ini adalah waktu yang tepat untuk menghubungi Arsa. Ada secercah harapan dalam hatinya, dia ingin mencobanya.
Di Kendi Grub cabang Kota Surabaya.
__ADS_1
Arsa mendapat telepon dari Devina.
"Apa? Kejora Grub membawa sepuluh ekskavator untuk menghancurkan panti asuhan?" Arsa menunjukkan ekspresi terkejut.
"Oke, kalau begitu. Jangan khawatir, sekarang setelah aku akan mengurus masalah ini, aku akan menjaga panti asuhan sampai masalah ini selesai." Arsa menjawab panggilan telepon tersebut.
"Bajingan itu akan menghancurkan mereka? Mereka harus dihentikan!" Setelah Arsa menutup teleponnya, Hudoyo berbicara. Iya mengertakkan gigi dan menajamkan matanya penuh amarah. Iya masih ingat dengan jelas Panti asuhan tempat nya pernah dibesarkan dulu, di hancurkan secara paksa. Jadi di saat dia mengetahui hal semacam ini lagi, tentu saja dia sangat marah. Hudoyo pasti akan membantu pasti asuhan kasih Bunda sampai masalah ini selesai.
"Jangan khawatir. Aku yakin, aku akan bisa melindungi mereka. " Arsa mengangguk dengan tegas.
Gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Sepuluh ekskavator diparkir di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Wasis berdiri di luar pintu dengan kepala terangkat tinggi. Lima ratus orang yang dipimpin oleh Wasis telah mengepung tempat itu. Seolah-olah, dia mengatakan, bahwa siapa pun yang berani mencampuri urusannya, akan mendapatkan balasan yang sangat berat. Dan Fakta kalau Wasis datang ke panti asuhan itu hari ini, untuk menunjukkan kalau dia bertekad untuk meruntuhkan Panti Asuhan Kasih Bunda.
Saat itu, Bu Kartini dan Devina bergegas keluar dari panti asuhan. Ketika mereka melihat orang yang sangat banyak di tempat tersebut, seakan iya sedang melihat pertempuran besar akan segera terjadi. Mereka berdua tampak pucat karena ketakutan. Panti asuhan itu sudah lama berdiri, dan semua penghuninya, mereka semua adalah bagian dari panti asuhan yang di gunakan sebagai tempat berteduh itu. Mereka benar-benar tidak ingin semua hilang. Kalau sampai hal itu terjadi, kemana anak-anak akan pergi?
Pria botak yang dipukuli di panti asuhan oleh Hudoyo pagi tadi melangkah maju ke depan.
"Ibu tua, apakah anda tahu siapa beliau ini? Ini adalah tuan Wasis Adiguna yang sangat terkenal itu! " Pria botak itu berkata dengan bangga sambil menunjuk Wasis.
"Apakah dia Wasis Adiguna? " gumam Devina dalam hati dengan terkejut.
__ADS_1
"Bahkan Wasis datang sendiri ke tempat ini?" Bu Kartini berkata dengan sangat lirih, terdengar gemetar karena ketakutan.