
"Benarkah? Dan saya juga berjanji, kalau hari-hari baik Anda akan segera berakhir! " Arsa Kenandra mencibir. Setelah Arsa Kenandra selesai berkata, dia berbalik dan langsung keluar dari ruangan tersebut. Setelah tugas Arsa Kenandra selesai, Arsa Kenandra tidak perlu takut pada semua excekutive perusahaan cabang lagi.
Ade Jefri memperhatikan tubuh belakang Arsa Kenandra yang sedang berjalan pergi. Wajahnya berubah menjadi merah karena marah.
"Jangan berani-beraninya kamu menantangku seperti itu, brengsek! Jika aku tidak memberimu pelajaran, kamu tidak akan percaya! " Kata Ade Jefri dengan kejam.
Di lantai empat perusahaan, Arsa Kenandra sedang membersihkan sebuah ruangan. Awalnya Arsa Kenandra dan Desita Mayasari bersama-sama bertanggung jawab atas lantai empat, namun Desita Mayasari dipindahkan ke aula di lantai satu untuk membersihkan di sana, sehingga hanya tersisa Arsa Kenandra di lantai empat tersebut.
Saat itu, Rico Ardian, seorang karyawan senior, bergegas menemui Arsa Kenandra.
"Arsa, Desita Mayasari, karyawan yang masuk ke perusahaan bareng kamu, Saat ini dia ada masalah di lantai satu!" Kata Rico Ardian.
"Apa? Desita dalam masalah? Ayo ke sana! " Arsa Kenandra segera menjatuhkan kain pel dan mengikuti Rico Ardian ke aula di lantai satu.
Di lobi lantai satu,
__ADS_1
"Tuan Arlando, saya minta maaf! Saya minta maaf! " Desita Mayasari terus meminta maaf kepada Aprian Arlando. Ternyata kejadian iru bermula ketika Desita Mayasari sedang mengepel lantai di lantai satu, dan Aprian Arlando yang kembali dari luar menginjak lantai yang baru saja di pel Desita Mayasari, dan tanpa sengaja terpeleset dan jatuh terbalik. Saat Aprian Arlando baru pulang dari restoran bersama Resita tadi, dia sudah dalam keadaan marah. Pasalnya, Resita Damayanti tiba-tiba mengubah sikapnya saat makan siang dan meninggalkannya sendirian di restoran tersebut.
Sekarang di aula lantai satu, di bawah pengawasan banyak karyawan, Aprian Arlando terjatuh, dia merasa sangat terhina, Desita Mayasari tentu saja menjadi sasaran kemarahannya.
"Haaa... Maaf? Maaf itu tak ada gunanya!" Teriak Aprian pada Desita. Malu dan marah, Aprian Arlando menampar wajah Desita Mayasari. Desita Mayasari yang ditampar pun langsung mundur beberapa langkah. Ada banyak karyawan yang diam-diam mengawasi di tempat tersebut dari kejauhan, dan mereka semua diam-diam merasa kalau Desita Mayasari sedang tidak dalam keadaan beruntung. Tentu saja para penonton ini hanya berani melihat secara diam-diam dari kejauhan, namun tidak ada yang berani mendekat dan menghentikan apa yang sedang terjadi. Jika tidak, mereka kemungkinan besar akan menjadi sasaran kemarahan Aprian Arlando.
Setelah tamparan di wajahnya yang membuatnya sakit jiwa raga itu, Aprian Arlando tidak berhenti sampai di situ.
"Berlutut! Berlututlah di sini selama satu jam! " Aprian Arlando berteriak marah pada Desita Mayasari.
Pada saat ini, saudara laki-laki Desita Mayasari berlari dengan tergesa-gesa.
"Tuan Arlando, kakakku, dia terlalu muda untuk bersikap bijaksana, jadi jangan memarahinya seperti itu tuan!” Adik Desita Mayasari memohon dengan senyum rendah hati.
"Minggir! Kamu itu hanya penjaga keamanan yang rendahan, apakah kamu memenuhi syarat untuk memohon belas kasihanku?" Aprian Arlando menendang saudara laki-laki Desita Mayasari. Dan kemudian, Aprian Arlando menoleh ke Desita Mayasari lagi.
__ADS_1
"Aku akan bertanya sekali lagi, kamu mau berlutut atau tidak!? Jika kamu tidak mau berlutut, kamu dan saudaramu akan segera aku keluarkan dari perusahaan ini," tegur Aprian Arlando. Aprian Arlando sangat marah pada Desita Mayasari, selain fakta bahwa suasana hatinya sudah buruk dan kejadian dia jatuh di hadapan banyak orang. Ada alasan mendasar, yaitu adalah Desita Mayasari menolak tawaran yang di berikan sebelumnya, itulah yang membuatnya juga kesal.
"Aku… Aku akan berlutut.” Desita Mayasari hanya bisa mengangguk dengan gigi terkatup. Meski Desita Mayasari merasa dirugikan, namun ia hanya bisa menurut, karena ia tidak boleh kehilangan pekerjaan, ia tetap harus mendapatkan gaji untuk membayar kembali uang Arsa Kenandra, ia dan kakaknya juga membutuhkan gaji tersebut untuk mengobati ayahnya.
Desita Mayasari bukan berlurut pada Aprian Arlando yang arogan itu, tapi dia berlutut pada kenyataan dan berkompromi dengan kehidupan!
"Tunggu! " Saat Desita Mayasari hendak berlutut, terdengar suara melengking. Kemudian, Arsa Kenandra datang.
"Tuan Arlando, petugas kebersihan hanya melakukan tugasnya mengepel lantai. Kalau anda terjatuh berarti Anda berjalan dengan sembarangan, tapi anda malah menyalahkan petugas kebersihan. Apakah Anda tidak bersikap terlalu berlebihan? " Kata Arsa Kenandra sambil berjalan. Arsa Kenandra memikirkan kejadian kemarin pagi, dia baru saja memulai pekerjaannya, Aprian Arlando sendiri tidak bisa membuka matanya meskipun iya salah. Dia tak berfikir dalam bertindak karena marah, dan sekarang dia lebih marah pada Arsa Dan Desita!
"Heh, kamu yakin tidak ingin mengurus urusanmu sendiri? " Aprian Arlando menoleh ke arah Arsa Kenandra. Aprian Arlando memandang Arsa Kenandra dengan jijik seolah-olah dia hanya memandang semut.
"Ya, aku hanya mengurus urusanku sendiri. Mengapa kamu harus marah padaku? Tidak ada gunanya melampiaskannya pada seorang wanita! "Arsa Kenandra berjalan ke arah Aprian Arlando. Kemarin, Aprian Arlando membuat Arsa Kenandra mendapat masalah. Dan Desita Mayasari membantunya. Manager keuangan itu tidak tahu kalau yang di hadapinya Itu adalah Arsa Kenandra, seseorang yang mendapatkan dukungan dari Pemilik Perusahaan tersebut. Jadi, Arsa Kenandra akan membantu rekan kerjana hari ini.
"Yah, kamu ingin mengurus urusanmu sendiri, bukan? Apakah kamu ingin menjadi pahlawan? Kalau begitu aku akan membiarkanmu! " Kata Aprian Arlando sambil menampar wajah Arsa Kenandra.
__ADS_1