Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Penolakan


__ADS_3

"Sial, bocah bodoh itu." gumam Rey sangat pelan hampir tidak terdengar. Dua Kakak beradik tadi, si Rey dan Arfan keduanya terlihat sedikit kesal, tapi itu adalah keputusan kakek mereka, dan mereka pastinya tidak akan berani mengatakan hal yang menyinggung secara langsung.


Pada saat ini, semua pandangan mata tertuju pada Arsa.


"Wow Arsa, ambillah hadiah dari kakek. Ini adalah pemberian kakek." Adeena berbisik sambil tersenyum.


Arsa melirik kartu ATM di depannya, lalu bangkit dan berkata dengan tenang, "Kakek, aku sangat terharu oleh niatmu, tapi aku tidak akan menerima uang itu, dan mengenai posisi executive yang kakek tawarkan pada aku di perusahaanmu, aku juga tidak tertarik." Saat Arsa selesai mengatakan ini, seluruh penghuni meja tiba-tiba berbisik-bisik, dan seketika, suasana di meja makan semakin memanas. Semua orang memandang Arsa dengan takjub. Terkejut pada sikap Arsa yang menolak uang sebanyak itu.


"Aku tidak salah dengar kan? Anak laki miskin itu bilang dia tidak menginginkan hadiah sebesar itu?" Tidak ada yang mengira Arsa akan menolak hadiah sebesar itu. Semua orang yang hadir menyadari kalau Arsa sangat miskin. Dan bahkan, beberapa tahun sebelumnya, dia dan ibunya datang kepada keluarga Kenandra untuk meminta bantuan uang.


Rey segera bangkit, menunjuk ke arah Arsa, dan berkata dengan nada mencemooh.


"Arsa, kamu tidak tahu apa yang terjadi dan bagaimana proses perusahaan bisa berkembang! Asal kamu tahu, kita masuk ke perusahaan dimulai dari staff yang paling bawah. Sedangkan kamu, kakek langsung membiarkanmu memulai dari awal dengan posisi tinggi. Posisi supervisor itu bukan posisi rendahan, tapi kamu menolak. Kamu jelas-jelas sangat mempermalukan kami, terutama kakek."


"Arsa, kamu sangat tidak tahu berterima kasih. Menurutku kamu belum puas dengan apa yang ayah berikan kepadamu. Makanya kamu menolak. Kamu ingin mengambil lebih dari itu bukan?" Han, sang paman yang paling di benci Arsa pun mencibir.


"Ya Tuhan, Plok plok plok... Aku kembali ke sini kali ini hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada kakek. Aku tidak sekotor menurut pemikiran licikmu itu! " Arsa menjawab sambil bertepuk tangan kembali.


"Mengapa anak sekecil kamu begitu kasar saat berbicara dengan orang yang lebih tua? Apakah kamu tidak tahu bagaimana caranya menghormati kami? " sahut salah satu paman Arsa lagi. Kedua pamannya membanting tangan mereka ke atas meja dan berdiri tegak, wajah mereka dipenuhi amarah. Siapa yang berani berbicara dengannya, seorang General Manager Kenandra Group saat ini, yang menjalankan seluruh proyek Kenandra Group, dengan cara yang tidak sopan seperti itu? Bahkan di antara teman-temannya, tidak ada yang berani berbicara dengannya seperti itu kecuali kakak laki-lakinya.


Mata Arsa menyipit.

__ADS_1


"Ya Tuhan, aku salut padamu hanya karena kamu adalah pamanku, tapi itu tidak berarti aku harus menghormatimu. Kamu pikir kamu ini siapa? Maafkan aku, tapi kamu tidak layak untuk aku hormati." jawab Arsa dengan santai. Saat kata-kata Arsa terucap, seluruh anggota keluarga kembali gempar, dan semua orang memandangnya dengan kaget.


"Arsa, kamu sudah menderita selama bertahun-tahun, tetapi sungguh salah kalau kamu berbicara kepada pamanmu Han seperti itu! " Roni, paman Arsa yang satunya, berbicara dengan nada kasar.


"Arsa, perhatikan kata-katamu. Kamu sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Kamu sangat tidak beradab." Bibinya juga berkata dengan dingin.


"Beraninya kamu berkata seperti itu kepada ayahku... Kamu lupa atau bagaimana? Dia itu juga pamanmu, adik dari papamu. Apa kamu tidak pernah di ajarkan sopan santun kepada yang lebih tua." Rey menatap Arsa dengan tatapan yanh lebih ganas lagi, dan kalau bukan karena para tetua yang hadir, dia pasti akan bergegas dan meninju Arsa. Menghajar sepupunya agar tidak sembarangan berkata. Dan untuk sementara ini, Arsa menjadi incaran semua tetua.


"Arsa!" Adeena juga terus menarik lengan sepupunya ke sudut, menyarankan agar dia tidak berkata apa-apa lagi.


"Paman? Aku kira kamu yang lupa siapa aku ini." jawab Arsa yang mengabaikan Adeena.


"Ya Tuhan... Kenapa jadi seperti ini." kata tuan Aji. Semuanya duduk dengan enggan. Terutama Rey dan Ayahnya. Mereka terpaksa duduk karena ketidaksenangannya terhadap Arsa.


Tapi, di saat itu juga, Rey masih berkata dengan suara dingin,


"Untung saja aku tahu bagaimana menghormati orang yang lebih tua, kalau tidak, aku tidak akan tahu apa yang akan kulakukan sama kamu.!"


"Yaa Tuhan..." Tuan Aji menghela nafas berat. Karena kata-kata lelaki tua itu, seluruh penghuni meja tidak bersuara. Keadaan menjadi sunyi saat ini.


Tuan Aji memandang Arsa dan berkata, "Arsa, karena kamu menolak lima milyar rupiah dan posisi eksekutif yang kuberikan padamu, kakek harus bertanya, mengapa kamu menolak?" tanya tuan Aji.

__ADS_1


"Kakek, aku sekarang punya bisnis sendiri, dan aku tidak bisa meninggalkan bisnisku." jawab Arsa dengan tenang.


"Perhatikan semuanya, meskipun Anda memberi saya lima milyar dan posisi eksekutif apa pun atau bahkan seluruh Grup Kenandra, itu tidak akan menarik minat saya sama sekali." Arsa menjelaskan. Saat ini, semua orang di sana mengira Arsa gila. Kenandra Group adalah grup nomor satu di Kota Malang dengan total aset belasan trilyun, dan di tingkat negara, mereka benar-benar perusahaan raksasa dalam dunia bisnis. Bahkan di Kota Surabaya, mereka mempunyai reputasi yang cukup baik. Beraninya dia bilang kalau Kenandra Group tidak bisa menarik perhatian dan minatnya sama sekali?


"Ngelawak sekali kalau pemuda ini mewarisi kekeraskepalaan ayahnya, dan dia juga belajar menyombongkan diri. Beraninya dia mengatakan bahwa perusahaan kita tidak bisa membuatnya berminat? " Kedua pamannya mengira kalau Arsa bersikap konyol.


"Arsa, kamu masih belajar, jadi bisnis apa yang bisa kamu jalani? Kamu terlalu gila untuk membicarakan hal seperti ini." Kata paman Arsa.


" Iya Arsa, kamu terlalu menyombongkan diri." Bibi Arsa juga menggelengkan kepalanya. Merasa heran dengan kelakuan keponakannya itu.


"Paman, mungkinkah dia benar-benar mempunyai bisnis sendiri? Apa mungkin itu membuka bisnis warung di kampusnya." ejek Rey. Semua sepupu Arsa yang hadir malam itu menutup mulut dan tertawa.


Tuan Aji juga sedikit menggelengkan kepalanya.


"Arsa, apa kamu yakin tidak mau menerima hadiah dari kakek?" tanya Tuan Aji.


"Aku yakin," jawab Arsa tegas.


"Yah, kalau begitu, aku menghormati pilihanmu." Kata lelaki tua itu. Sebagai hasilnya, Rey dan yang lainnya tentu saja merasa senang dengan hal itu. Karena di mata mereka, jika Arsa tidak mendapatkan uang atau jabatan sekecil apa pun, dia akan tetap menjadi orang miskin. Orang miskin yang tidak akan ada gunanya jika iya berada di keluarga Kenandra.


"Sampah seperti dia tidak akan bisa berkembang seumur hidupnya." gumam Arfan dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan. Iya juga tak menyukai Arsa, bahkan tidak berharap Arsa kembali ke Keluarga Kenandra, apalagi sampai masuk ke Kenandra Grup.

__ADS_1


__ADS_2