
" Kakek ! " Kata Aprilia. Aprilia Dewi terus bertingkah manja di depan sang kakek, tetapi kakeknya masih tetap memejamkan mata dan tidak berkata apa-apa. Ketika Aprilia melihat reaksi kakeknya, dia tahu tidak ada gunanya memohon pada sang kakek lagi.
"Aprilia, kembalilah ke tempatmu bekerja! " kata kakek.
"Oke kek, jika kakek tidak peduli akan hal ini, aku akan mengurus semua ini sendiri!" Setelah Aprilia mengatakan kalimat ini, dia keluar dengan rasa marah. Kakeknya buru-buru membuka matanya, dan berteriak pada Aprilia, tapi gadis itu tidak berniat untuk berbalik sama sekali.
Di Sisi lain.
"Aprilia, bukannya aku tidak mau membantu. Aku benar-benar tidak punya kemampuan. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah melindungimu." kata Kakek Aprilia sambil menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang. Sesaat kemudian, kakek Aprilia mengangkat ponselnya lalu menghubungi orang-orang kepercayaannya.
Di ruangan Ketua Kejora Grub.
"Tuan Wasis, Anda harus membalaskan semuanya untuk saya! " lelaki berkepala botak yang tadi dipukuli oleh Hudoyo berlari ke ruangan Wasis dengan terburu-buru. Pria botak itu berlari masuk sambil berteriak.
"Ada apa? Kenapa wajahmu bengkak begitu? Bukankah aku sudah memberitahumu untuk mendapatkan tanah di Panti Asuhan Kasih Bunda?" Wasis mengerutkan kening.
__ADS_1
"Tuan Wasis, muka saya seperti ini karena dipukuli di Panti Asuhan Kasih Bunda. Semua anak buah yang saya bawa, semuanya terluka." kata lelaki berkepala gundul itu dengan wajah sedih.
"Siapa yang berani memukul anak buahku? " Begitu Wasis mendengar apa yang di katakan orang suruhannya tadi, iya memukul meja dan langsung berdiri. Wajahnya terlihat menjadi garang. Siapa pria yang berani memukul orang-orang Wasis di Kota Surabaya? Apakah pria itu masih akan benar-benar baik-baik saja?
"Tuan Wasis, orang yang sudah berani melakukan hal itu adalah Arsa Kenandra dari Kendi Grub! Dia meminta pengawalnya untuk melakukan semuanya. Padahal saya sudah menyebutkan nama anda, tapi dia tetap melakukannya. Apa yang di lakukannya Itu tidak hanya memukul wajahku. Tapi sudah sangat jelas dia telah mencoreng wajah anda Tuan Wasis! " pria bertubuh besar dan berkepala botak itu berkata dengan suara keras.
"Sialan! Kenapa harus Arsa Kenandra lagi!" Mata Wasis berkilat marah ketika mendengar nama 'Arsa Kenandra'
Pria botak tadi melanjutkan ucapannya,
Sementara itu, Wasis menggeram dengan marah. Dia membanting cangkir di atas meja ke lantai di depannya si botak.
"Bajingan ! Bajingan, sialan si Arsa ini! " Wasis sangat marah sehingga dia merasa akan meledak. Urusan serta rencananya berulang kali dirusak dan di gagalkan oleh Arsa. Selain itu, amarahnya juga di picu oleh Arsa yang menitipkan pesan seperti itu kepadanya melalui anak buahnya, yang membuat Wasis merasa seperti dia tidak punya harga diri lagi sama sekali.
"Tuan Wasis, dia adalah seorang anak laki-laki yang sangat sombong. Anda harus membalas semua yang telah di lakukannya, atau dia akan melangkah lebih jauh lagi dari anda." Kata pria botak itu.
__ADS_1
"Aku akan melawannya sampai selesai hingga ke akar-akarnya dalam masalah ini. Bukankah dia akan melindungi Panti Asuhan Kasih Bunda? Aku tidak akan membiarkan wajahku di injak-injak seperti itu lagi!" Wasis yang marah, menggebrakkan tangannya di atas meja. Kemudian, Wasis menatap pria botak itu dan berteriak.
" Kumpulkan sepuluh ekskavator dan 500 orang lagi untukku secepatnya! Bawa semua peralatan serta orang-orang itu untuk bergegas ke Panti Asuhan Kasih Bunda. Aku akan merobohkannya hari ini juga! Aku akan lihat bagaimana Arsa bisa melindunginya!" kata-kata Wasis sebagai perintah.
"Ya! saya akan segera melaksanakan apa yang anda perintahkan tuan!" Setelah pria botak itu menjawab, dia buru-buru mundur dari ruangan Wasis Adiguna.
Di sisi lain, Panti Asuhan Kasih Bunda.
Aprilia bergegas pergi ke panti asuhan.
"Bagaimana Aprilia? Apakah kamu akan menyuruh seseorang untuk melindungi panti asuhan ini?" Devina bertanya dengan ekspresi penuh harap di wajahnya. Bu Kartini juga memandang Aprilia dengan ekspresi penuh harap di wajahnya.
"Bu Kartini, Devina, aku telah mengkhianati kepercayaanmu." Aprilia menggelengkan kepalanya dan menunduk sambil berkata. Ketika Devina dan Bu Kartini melihat ini, hati mereka berdebar. Mereka mengira kalau dengan bantuan Aprilia, mereka pasti bisa membuat pihak berwenang memperhatikan masalah ini dan mengirim seseorang untuk melindungi Panti Asuhan Kasih Bunda, tapi hasilnya tidak sesuai yang mereka harapkan.
"Saya juga melaporkan masalah ini ke departemen yang bertanggung jawab atas panti asuhan ini, tapi mereka mengatakan kalau semua ini harus di atur dan di koordinasi sendiri oleh kita. Mereka tidak peduli sama sekali." Bu Kartini juga berkata. Mendengar dan melihat semua ini, Wajah Devina semakin khawatir.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Meskipun mereka tidak peduli, aku sendiri yang akan mengurus semua masalah ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun, berani membuat masalah di Panti Asuhan Kasih Bunda! " kata Aprilia sambil mengeluarkan pistolnya. Pada saat itu juga, empat orang pemuda masuk ke dalam panti Asuhan.