
Sore harinya, di rumah Arsa.
"Tidak! Ini jelas bukan perpisahan kita, Rita. Meskioun kamu berada di Ibu kota yang jauh di sana? Suatu hari nanti, aku akan ke sana!" janji Arsa dalam hati. Di saat itu, Talita datang ke rumahnya untuk menghabiskan waktu bersamanya. Arsa baru saja menyampaikan kabar itu pada kekasihnya.
"Benarkah Rita pergi ke ibu kota? " tanya Talita terkejut. Arsa mengangguk.
"Ya... Aku pikir dia memang harus keluar dari Kota Surabaya sekarang. Karena dia bilang, dia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang ayahnya." kata Arsa Kenandra.
"Arsa... Hal ini pasti sulit bagimu, tapi aku rasa itu tidak masalah. Ada aku di sisimu." Talita berinisiatif untuk memeluk Arsa dan mencoba menenangkannya. Talita mengetahui dengan pasti bahwa Arsa mempunyai hubungan dengan Rita, yang akan membuat Arsa merasa sedikit gila ketika Rita pergi.
Ini malam yang panjang dan udara dingin berubah menjadi dingin. Tak lama kemudian, Talita menawarkan diri untuk mencium Arsa.
Keesokan paginya, Arsa bangun dan mendapati bahwa Talita tidak lagi berada di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun." Talita masuk dengan senyuman di wajahnya dari luar.
"Aku buatkan sarapan untuk mu. Bangun dan sarapanlah." Talita berkata sambil berjalan menuju Arsa dan mencium bibirnya.
"Kamu baik hati sekali." Kata Arsa sambil tertawa.
"Talita, masakanmu enak sekali." Arsa menyantap makanan di depannya sambil memuji makanan yang telah di siapkan oleh Talita.
"Kalau begitu, makan lah lebih banyak lagi." kata Talita sambil tersenyum bahagia.
"Siapa di sana? " Arsa bangkit dan membuka pintu. Setelah pintu dibuka, yang terlihat adalah seorang pemuda berpakaian santai, seorang pria yang jelas-jelas terlihat hidup berkecukupan.
"Rey? " Arsa langsung mengenali orang itu.
__ADS_1
"Arsa, kenapa kamu terlalu kasar? Aku sepupumu." Rey mengerutkan kening saat Arsa baru saja membukakan pintu. Tak lama kemudian, Rey melirik ke rumah Arsa dan mencibir.
"Arsa, kamu tidak tinggal di tempat rusak ini selama bertahun-tahun, kan ? " tanya Rey seolah merendahkan Arsa yang hanya tinggakm di rumah sepertin itu.
"Iya, aku tinggal di sini selama ini. Apa ada masalah? " jawab Arsa pelan.
"Saat ayahmu mengesampingkan bisnis keluarga hanya untuk kawin lari dengan ibumu, dia meninggal di lokasi pembangunan, dan itu adalah sebuah sikap yang sangat bodoh! Dari hal Itu, juga membuatmu menjalani kehidupan yang sulit, kenapa bodoh sekali." Kata Rey.
"Kalau aku hidup susah, itu bukan urusanmu lagi. Permisi, aku akan tutup pintunya. Kamu tidak diterima di sini!” kata Arsa.
"Hei, aku sudah beberapa tahun tidak bertemu denganmu. Biar kujelaskan, kamu dan ibumu diundang untuk menghadiri ulang tahun kakek yang ke-80." Rey memberitahunya.
"Kamu sudah lama tidak mengakui kami sebagai bagian dari keluarga itu, tapi sekarang kamu menyuruh kami melakukan sesuatu?" ejek Arsa.
__ADS_1
"Oke kalau begitu, terserah kamu." Rey juga mengoceh saat iya mendengar jawaban Arsa.
"Kamu pikir aku suka berada di sini? Apakah kamu pikir aku akan berada di sini jika kakek tidak memintaku untuk datang dan mengatakan itu padamu? " kata Rey lagi. Setelah Arsa selesai mendengar perkataan dari sepupunya itu, dia membanting pintu hingga tertutup. Rey adalah putra bungsu dari adik ayahnya Arsa, atau paman Arsa. Namun, Arsa tidak terkesan padanya sama sekali. Karena dia pernah mengejek Arsa lebih dari satu kali. Setelah orang tua Arsa kawin lari, keluarga Arsa tidak lagi mengenali ayahnya atau bahkan dia. Khususnya, setelah kematian ayahnya, baik kakeknya maupun keluarga dekatnya tidak pernah memberinya bantuan apa pun. Dulu, saat masih di sekolah menengah atas, karena Arsa hampir tidak mampu menghidupi dirinya sendiri, ibunya mengajaknya untuk mengemis meminnta bantuan kepada kakek dan paman Arsa, namun mereka tidak memberikan satu sen pun kepada ibunya. Sebaliknya, mereka menunjukkan sikap sinis layaknya Arsa dan ibunya bukanlah keluarga. Arsa masih bisa mengingat semuanya dengan jelas! Bahkan, rasa sakit itu masih tersimpan rapi dalam hatinya.