Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Merasa lebih Baik


__ADS_3

"Iya Iyaa... Tentu saja, Jangan khawatir tuan. Saya akan segera memanggilnya." Ali pun tersenyum dan mengangguk lagi.  Kemudian, iya menoleh ke arah pelayan berkata.


"Pergilah, cepat panggil Vera." Kata Ali.


"Baik Boss Ali" Setelah mengangguk, pelayan itu buru-buru berbalik dan lari. Saat Talita melihat apa yang terjadi, dia sangat bingung. Dia hanya melihat Arsa yang mengeluarkan kartu ATM dan tiba-tiba, sikap bos pemilik bar tersebut menjadi snagat hormat. Tentu saja hal itu mmebuat Talita terkejut. Talita tidak mengetahui pentingnya kartu ATM kelas VIP itu. Di matanya, itu tidak lebih dari sebuah kartu ATM yang terlihat bagus. Jika misalnya Talita tahu apa kartu ini, dia tidak akan bingung.


"Bolehkah saya tahu nama Anda Tuan muda? " Ali, bertanya dengan senyum di wajahnya setelah pelayan itu pergi.


"Nama saya Arsa Kenandra." Arsa berkata dengan pelan.


"Arsa Kenandra? " gumam Ali. Bos tersebut bergumam karena dia merasa bukan baru kali ini mendengar nama itu disebutkan, tetapi dia tidak ingat kapan itu. Pada saat yang sama, Vera datang dengan langkah cepat. 


"Bos." Vera menyapa Ali dengan senyuman di wajahnya. Saat ini, Vera sepertinya tak kenal takut. Ia bisa menduduki posisi sebagai bar manager karena berselingkuh dengan bosnya, Ali Fernando.


"Vera, Kamu hanya perlu melakukan satu hal malam ini. Aku ingin kamu menghabiskan waktu bersama dua tamu terhormat kita." bos bar yang bernama Ali itu berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ali, kamu izinkan aku menemani mereka? Aku manajernya, bukan pelayan." Vera tampak marah.


"Tentu saja, aku tahu itu, dan aku mengerti kenapa kamu marah, oke." Ali berkata sambil tersenyum.


"Aku tidak mau melakukannya." Vera berkata dengan nada tegas. Bagi Vera, permintaan minum dengan Talita dan duduk bersamanya adalah sesuatu yang tidak ingin dia lakukan. 


Saat Ali Fernando mendengar kata-kata managernya, wajahnya menjadi gelap.


"Vera, jangan malu-maluin! Aku ulangi sekali lagi, tetaplah disini malam ini! " kata Ali dengan suara dingin.


"Ali, kenapa kamu membantu mereka seperti ini? Lihat baju yang mereka kenakan. Mereka terlihat tidak punya banyak uang. Paling-paling mereka hanya punya sedikit uang." Balas Vera. Begitu Vera mengatakan itu, Ali Fernandi melayangkan tangannya untuk menampar wajah Vera. Vera pun menatap Ali dengan heran. Mengapa bos menamparnya hanya untuk membela Arsa dan Talita.


"Jangan terlalu sombong, ******. Tuan Arsa meminta kamu untuk menemani mereka sambil minum anggur, berarti mereka sangat tertarik kepadamu! Jangan hanya karena aku memberimu posisi sebagai manajer. Kamu bisa berbuat sesukamu. Jadi, kalau meminta kamu untuk bersikap menjadi manajer, kamu harus melakukannya. Jika aku ingin kamu menjadi pelayan, maka kamu juga harus melakukannya!" Setelah merasa kesal karena dimarahi, Vera merasa terhina. Iya pun menangis. 


Namun, Ali tidak berhenti berkata sampai di situ. 

__ADS_1


"Kamu hanya mendapat posisi manajer sebagai imbalan tubuhmu, tahukah kamu? Kamu harusnya sadar, orang seperti apa kamuitu? Aku bisa mengeluarkanmu dari sini dalam sekejap. Ucap Ali. Begitu kata-kata ini keluar dari mulut oemilik bar sendiri, Talita hanya bisa menutup mulutnya, apa yang di lakukannya menunjukkan ekspresi yang sangat terkejut. Dia tidak menyangka posisi manajer Vera diperoleh dengan mengorbankan tubuhnya sendiri. Dan ketika Vera mendengar apa yang dikatakan oleh Ali, dia merasa semakin terhina. 


"Baiklah bos. Sekarang aku minta anda berhentilah bicara. Aku akan menuruti apa maumu." Vera hanya bisa mengangguk, dan dia tahu bosnya sangat marah sat ini, sehingga dia tidak punya pilihan sama sekali. 


"Yah, menyebalkan sekali kamu ini. Kamu ternyata butuh paksaan terlebih dahulu agar mau mendengarkan kata-kataku." Ali pun berkata dengan suara dingin. Di mata Ali, Vera hanyalah wanita yang iya gunakan sebagai mainan seperti biasa. Ali yang tidak mengetahui identitas Arsa yang sebenarnya hanya berfikir, kalau Arsa adalah orang yang tidak mampu dia sakiti. Dan Tentu saja Ali tidak akan menyinggung Arsa Kenandra hanya demi Vera.


Setelah diam beberapa saat, Ali berkata lagi dengan wajah datarnya.


"Kalian berdua, awasi Vera. Pastikan dia melakukan pelayanan terbaik untuk dua tamu terhormatku." Kata Ali kepada sworang pelayan di sampingnya.


"Jika mereka tidak puas sama sekali, aku bersumpah, kamu tidak akan menyukai apa yang akan saya lakukan kepadamu, mengerti? " Bentak Ali sambil menunjuk ke arah Vera.


"Saya mengerti bos" Vera punmengangguk lemah.


Boss bar itu sekarang sangat senang dengan situasi bisa iya kendalikan.  Dia memandang Arsa sambil tersenyum dan berkata.

__ADS_1


"Tuan Arsa, jika ada hal lain yang Anda butuhkan, silakan minta pelayan untuk datang atau menelepon saya."


"Baiklah... Silahkan, anda boleh meninggalkan tempat ini." Arsa Melambaikan tangan kepada Ali. Setelah itu pun Ali pergi dari tempat tersebut.


__ADS_2