Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kedatangan Para Penyelamat


__ADS_3

"Kalau begini terus, Universitas kita akan kalah lagi, ah!" Gumam seorang penonton.


"Aku berpikir ketika Arsa berani menulis surat tantangan itu, dia mungkin yakin kalau pasti menang, tapi ternyata begini!"


"Karena belum ada kepastian menang, mengapa dia harus menulis surat tantangan sih? Mulai hari ini, aku khawatir aku tidak bisa mengangkat kepala dengan tegak lagi karena aku adalah warga universitas ini."


Pada saat itu juga, di saat para penonton melihat situasi dari pertandingan saat ini, semua harapan dan fantasi mereka telah hancur lebur. Para mahasiswa meratap. Adesta kembali mencetak point lagi. Banyak di antara mahasiswa yang ada di sana menyalahkan Arsa di dalam hati mereka. Mereka menyalahkan Arsa karena dia pergi dan mengeluarkan surat tantangan itu. Dia tahu kalau tim Universitas akan kalah, tapi dia tetap melakukannya.


Anggota tim Adesta berteriak dan bersiul kegirangan. Mereka bahkan memberi isyarat penghinaan kepada tim Univrersitas.


Ketika Adit melihat situasi yang seperti ini, mereka semua merasa marah, tapi mereka tidak berdaya dan tak bisa melakukan apa-apa. Lagi pula, mereka yang berada di belakang kejadian ini.


"Stop! " Saat itu juga, Arsa menyerukan timeout untuk Adit dan timnya. Ada dua kesempatan untuk memanggil timeout dalam permainan, yang tidak boleh disia-siakan dengan begitu saja. Arsa ingin menggunakan waktu tunggu untuk memberi mereka sedikit waktu. Adit dan timnya kembali mendekat ke Arsa. Setelah tim basket universitas keluar dari lapangan. Mereka berdiskusi.


"Arsa, jika mereka tidak datang, aku khawatir kita akan kalah hari ini." Adit berkata dengan nada khawatir.


"Iya Arsa, bagaimana ini." Anggota tim baslet yang lainnya juga terlihat khawatir. Arsa melihat ke sisi yang berlawanan. Adesta, yang berada di seberang lapangan, tersenyum dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Arsa. Tampilan puas di wajahnya terlihat jelas.

__ADS_1


Saat itu, hampir 4.000 mahasiswa yang menonton juga ribut. Mereka meratap. Merasa khawatir dengan keadaan tim basket kampus. Suasana di tempat duduk masing-masing penonton sangat mencekam! Bahkan hati Arsa menjadi sangat cemas, karena Arsa tahu kalau Tim Handal tidak datang, mereka akan dipermalukan lagi!


Pada saat yang bersamaan, sebuah bus melaju ke sisi Stadion kampus, selanjutnya, kerumunan penonton mendengar bus membunyikan klaksonnya.


"Dari mana datangnya bus itu? "


"Iya, kenapa ada bus yang datang ke sini? " Para mahasiswa menatap bus itu dengan ragu. Bus yang muncul secara tiba-tiba menarik perhatian semua orang yang hadir di sana. Orang-orang itu sangat penasaran. Bus yang mereka lihat itu akhirnya berhenti di sisi stadion. Pintu bus pun terbuka. Semua orang yang ada di sana menatap bus dengan seksama. Mereka semua bertanya-tanya siapa yang akan turun dari bus.


Saat itu, sesok seorang bertubuh jangkung turun dari bus.


"Pria itu agak mirip dengan Ardi Kusuma dari Tim Handal, salah satu tim dari pemain Basket Nasional! " Di antara para mahasiswa, seseorang mengenali siapa orang yang turun dari bus yang baru datang tadi.


"Lihat, lihat Semuanya! Lihat baju yang dia kenakan! " seru seorang mahasiswa yang berada di kursi penonton. Mereka melihat lebih dekat apa yang dikenakan Ardi Kusuma. Ternyata dia memakai seragam tim basket Universitas Kota Surabaya.


"Waah, bagaimana dia bisa datang ke Universitas kota Surabaya ini dan mengenakan seragam basket kampus kita? " Seruan salah satu mahasiswa itu menyebar ke mana-mana. Semua orang berseru, dia adalah pemain utama dari tim Nasional, Tim Handal yang bermartabat. Dan dia tiba-tiba muncul di kampus mereka.


Saat itu juga, orang kedua juga turun dari bus, orang ini sangat tinggi, dia seperti Jenderal perang.

__ADS_1


" Luis Aganta? Dia nggota Tim Handal. Benar, dia Luis Aganta. Astaga, itu adalah anggota Tim Handal yang lain." Seseorang mengenali lagi pakaian yang dikenakannya saat dia berjalan turun.


"Baju yang dia pakai juga seragam basket Universitas Kota Surabaya!"


"Julius! Ini Julius!" Saat itu, orang ketiga turun dari bus. Dan dia adalah Julius. Salah satu pemain basket Nasional yang menjadi idola Adit.


"Ini bukan mimpi kan? " Saat Julius turun dari bus, seluruh penonton bersorak dan berteriak sampai ke titik yang ekstrim. Meskipun banyak orang yang hadir dan tidak tahu banyak tentang bola basket, mereka juga tahu banyak tentang orang yang bernama Julius itu.


"Astaga, bahkan Julius juga ada di sini dan dia memakai seragam kampus kita! Siapa yang bisa memberitahuku apa yang terjadi? Apa yang terjadi sebenarnya?" kata seorang penonton yang tak lain adalah mahasiawa universitas itu sendiri.


Anggota Tim Handal terus berjalan menuruni bus. Di sisi lain,


"Wow! itu Ardi Kusuma, Luis Aganta dan Julius! Tim Handal akhirnya datang!" Adit melompat kegirangan.


"Tim Handal benar-benar ada di sini!" Semua anggota tim Adit bersemangat dan mereka berteriak lagi dan lagi tanpa berhenti.


"Mereka akhirnya datang." gumam teman se tim Adit. Bagi mereka, melihat idola mereka hanyalah salah satu hal nomor 2. Karena yang lebih penting, mereka adalah penyelamat tim basket Universitas Surabaya. Arsa pun menunjukkan senyumnya setelah melihat para pemain dari Tim Handal.

__ADS_1


__ADS_2