Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Berlutut


__ADS_3

"Dia tidak akan berlutut! " Hudoyo meraih lengan Arsa Kenandra.


"Ya, dia tidak boleh berlutut! "Fendi juga berkata. Saat itu, dua suara keras terdengar, dan Hudoyo serta Fendi masing-masing tertembak di kaki. Arsa merasa ada sesuatu yang menusuk hatinya. Ada orang lain yang mau berkorban untuknya. Bahkan, mereka tidak ada hubungan darah dan hubungnnya dengan masalah ini.


"Aku akan membuatmu mengerti segalanya!" Rafa Winston berkata dengan kejam setelah iya menembak kaki Hudoyo dan Fendi.


"Rafa Winston! Dasar bajingan!" teriak Arsa. Fendi menjerit kesakitan, ia langsung terjatuh ke tanah dan darah langsung mengotori celana Fendi. Sedangkan Hudoyo baik-baik saja. Setelah dia tertembak, dia masih bisa berdiri dan menahan rasa sakit tanpa menangis, namun ada juga darah yang merembes keluar. Arsa Kenandra melihat Rafa Winston menembak. Kemarahan yang tak ada habisnya muncul di mata Arsa Kenandra. Pada saat itu, Arsa Kenandra ingin sekali menguliti Rafa Winston sampai ke tulangnya, dan memotongnya menjadi ribuan bagian! Bahkan Arsa Kenandra berpikir, kalau dia seharusnya tidak berbelas kasihan tadi malam dan seharusnya membunuh Rafa Winston secara langsung tadi malam. Dia seharusnya tidak peduli seberapa serius konsekuensinya, dia harus mempertimbangkannya bahkan dengan mengorbankan nyawanya!


"Tiga." teriak Rafa.


"Dua."


"Arsa Kenandra. Tak ada gunanya memarahiku. Satu-satunya cara agar kau bisa menyelamatkan mereka berdua adalah dengan berlutut dan memohon ampun."


" Kalau tidak, aku akan menembak mereka satu per satu. Yang aku tembak bukan kaki mereka lagi, tapi kepala mereka! Aku menghitung mundur hingga tiga detik terakhir, dan segera setelah tiga detik itu berakhir, aku akan tembak kepala mereka berdua!" Rafa Winston berkata sambil tersenyum muram.


"Satu." Saat Rafa Winston menghitung hingga detik terakhir, dia mengambil senjatanya dan mencoba menembak Hudoyo dan Fendi.


"Arsa, jangan." teriak Hudoyo.


"Hentikan! Oke aku akan berlutut! Selama kamu membiarkan mereka selamat " kata Arsa Kenandra dengan gigi terkatup.


"Tuan Arsa, jangan! " ucap Fendi sambil meringis kesakitan.


"Baiklah, dan sekarang berlututlah." Rafa Winston memasang wajah mengerikan saat mengatakan itu.


Arsa Kenandra pun akhirnya berlutut!


"Arsa jangan Berlutut, Tuan jangan berlutut! " Hudoyo dan Fendi berteriak berulang kali. Arsa Kenandra tidak pernah berlutut kepada orang lain seumur hidupnya. Bahkan ketika dia diintimidasi saat iya masih miskin, dia tidak pernah berlutut. Namun saat ini, Arsa Kenandra mau berlutut kepada orang lain. Arsa Kenandra tidak berlutut pada Rafa Winston, Arsa Kenandra berlutut untuk menyelamatkan Hudoyo dan Fendi.


Ketika Rafa Winston melihat Arsa Kenandra berlutut, dia langsung menunjukkan senyuman garang.


"Aku harus mendokumentasikannya! kalian terus todongkan senjata ke mereka bertiga, dan siapa yang berani bergerak, kalian harus menembak mereka sampai mati!" kata Rafa Winston.


"Baik komandan" lebih dari sepuluh pria bersetelan militer di sebelahnya Rafa menanggapi, dan mereka terus menodongkan senjatanya ke arah trio Arsa Kenandra.


Rafa Winston mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam. Rafa Winston mengeluarkan seteguk air ludah.


"Arsa Kenandra, kalau kamu ingin mereka berdua hidup, jadi turunkanlah wajahmu ke tanah dan jilatlah ludahku ! " Rafa Winston menyeringai muram sambil memegang ponselnya. Rafa Winston berkata dengan bangga. Rafa Winston melakukan ini, sudah jelas karena dia ingin mempermalukan Arsa Kenandra!


"Jangan melangkah terlalu jauh. Aku sudah berlutut seperti yang kamu katakan! " Wajah Arsa Kenandra semakin jelek.

__ADS_1


"Terserah padaku dong apa yang aku katakan! Kamu harus melakukan apa yang aku katakan! Jika kamu tidak melakukannya, aku akan membunuh dua orang di belakangmu ini dengan segera!" kata Rafa Winston.


"Kamu." Arsa Kenandra gemetar karena amarah. Jika hanya ada Arsa Kenandra dan Rafa Winston di sana, Arsa Kenandra pasti akan melawan Rafa Winston itu, bahkan jika dia mati, dia akan mati dengan tidak kehilangan harga diri! Tapi, Arsa Kenandra harus memikirkan Hudoyo dan Fendi.


"Hentikan! " Saat itu, suara keras yang berasal tak jauh dari tempat Arsa Kenandra terdengar. Dan suara tersebut adalah suara Andi Sudiryo.


"Kakek." Arsa Kenandra dan Rafa Winston mendengar dan melihat ke arah sumber suara, dan kakek Arsa Kenandra-lah yang terlihat. Di belakang Andi Sudiryo, ada hampir seratus pria berpakaian Militer, semuanya membawa senapan tipe 95 di tangan mereka. Saat Arsa Kenandra melihat Andi Sudiryo, matanya berbinar. Melihat Kakeknya muncul di saat seperti itu seperti melihat fajar yang sedang terbit.


Andi Sudiryo memimpin orang-orang itu layaknya seorang komandan, melangkah bagaikan meteor untuk berjalan di depan Arsa Kenandra.


"Arsa, kamu baik-baik saja?" kata Andi Sudiryo sambil mengangkat Arsa Kenandra supaya berdiri.


"Saya tidak terluka. hanya saja Hudoyo dan manajer umum perusahaan itu tertembak kaki mereka." kata Arsa Kenandra.


"Arsa kamu pasti menyalahkan kakek karena kakek datang terlambat. Kamu pasti menderita karena ulahnya. Sekarang, biarkan kakek yang menangani sisa masalah ini untuk kamu." Andi Sudiryo menepuk bahu Arsa Kenandra sambil berkata.


Kemudian, Andi Sudiryo berbalik dan berkata kepada seorang pria paruh baya di belakangnya.


"Umar Said, aku akan merepotkanmu! " kata Andi Suidryo.


"Andi, itu adalah tugas yang harus aku lakukan! " kata Umar Said sambil tersenyum. Umar Said juga mengenakan seragam militer. Arsa Kenandra melirik kerah bajunya dan ternyata dia adalah seorang kolonel.


Kemudian, Umar Said melambai kepada seratus orang di belakangnya.


"Rafa Winston, kamu beraninya membawa mobil tank itu. Seharusnya kamu tahu betul seberapa serius kejahatanmu ini kan? Segera turunkan senjatamu. Angkat tanganmu dan menyerah, kalau tidak kami akan menembak untuk melumpuhkanmu." Umar Said berteriak pada Rafa Winston.


"Sialan." Rafa Winston mengomel dengan marah, mengaum bagaikan emlsi bagaiakan api tersiap Bensin. Dia tahu bahwa orang-orang yang dibawa Andi Sudiryo adalah dari fraksi saingan Keluarga Winston pada bulan lalu. Identitasnya sebagai Keluarga Winston tidak ada gunanya di depan orang-orang ini.


"Atas perintahku, aktifkan pelurunya!" Umar Said berkata. Seratus orang itu dengan rapi menarik pelatuk senapan untuk mengaktifkan peluru.


"Aku menyerah!" Rafa Winston buru-buru meletakkan pistolnya ke tanah dan mengangkat tangannya.


Lebih dari sepuluh orang yang dibawa oleh Rafa Winston juga satu demi satu menancapkan senjatanya ke tanah.


"Tangkap orang-orang ini!" Umar Said melambai, Rafa Winston dan lebih dari sepuluh orang yang di bawanya, Langsung ditahan. Saat penangkapan Rafa Winston, Arsa langsung datang ke Hudoyo dan Fendi.


"Arsa, ikut aku!" kata Hudoyo yang perlahan berjalan bersama Fendi.


"Hudoyo, Fendi, tunggu. Aku akan menelepon ambulans." Arsa Kenandra mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ambulans.


"Tuan Arsa, saya hanya tertembak di kaki. Saya tidak akan mati." Fendi berkata sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tidak ada yang serius dengan lukaku. Aku lega sekali melihat Rafa Winston tertangkap." Hudoyo tersenyum dan berkata


Kemudian, setelah itu, Andi Sudiryo mendatangi Arsa Kenandra dan menggandeng tangan Cucu nya. Andi Sudiryo menarik Arsa Kenandra ke arah Rafa Winston. Saat itu, Rafa Winston sedang ditahan oleh dua pria berbaju militer.


"Rafa Winston, kamu benar-benar berani... Kamu bisa melakukan hal semacam ini. Aku pikir kamu harus tahu betapa buruknya akibat dari apa yang telah kamu lakukan. Kali ini, The Winston Family pasti sudah cukup kesulitan untuk bisa mempertahankamu!" Nada bicara Andi Sudiryo sangat dingin saat iya sudah berada di dekat Rafa Winston.


"Ah, hahh" wajah Rafa Winston membiru, dan tentu saja dia tahu betapa serius konsekuensinya jika keluarganya tidak bisa melakukan sesuatu pun dari apa yang dilakukan putra Sulung Winston hari ini. Hal itu Cukup untuk membuatnya merasa khawatir. Dan tentu saja, itu bukan hal yang paling penting, yang terpenting adalah dia harus membayar mahal atas kelakuannya. Bahkan Dia belum bisa membalaskan dendam pada Arsa Kenandra!


Arsa Kenandra yang matanya merah juga memandang Rafa Winston dengan wajah galak.


"Terima ini!" Arsa Kenandra meludah langsung ke wajah Rafa Winston.


"Bajingan! Jangan berani-beraninya ya kamu meludah padaku! " Rafa Winston melihat air ludah di wajahnya. Dia dengan marah melepaskan diri dari dua orang yang menahannya, dan kemudian bergegas mendekat untuk menghajar Arsa Kenandra.


Di sebelah Rafa Winston, Umar Said langsung menempelkan senapan ke dada Rafa Winston. Rafa Winston kembali menjadi pucat. Dia hanya bisa menurunkan kepalan tangannya melihat itu.


"Rafa Winston, kamu masih ingin memukulku lagi? Tadi aku berada dalam belas kasihanmu, aku berada dalam belas kasihanmu tapi kamu bersikap tak sewajarnya. Satu hal yang harus kamu ingat, sekarang kamu adalah seorang yang lemah dan tak berdaya, mengertikah kamu? " Arsa Kenandra berkata dengan kejam. Ketika Rafa Winston mendengar kata-kata Arsa Kenandra, dia mengepalkan tinjunya dengan marah.


"Arsa, apa yang ingin kamu lakukan padanya? " Tanya Andi Sudiryo.


"Suruh dia berlutut dan akui kesalahannya kek!" Arsa Kenandra memicingkan matanya.


"Brengsek, kamu ingin aku berlutut?” Mata Rafa Winston terbuka lebar. Pada saat itu, dia menodongkan pistol ke Umar Said dari Rafa Winston dan berkata.


"Berlututlah, apa kau tidak mendengarku? Lakukan sekarang juga! " perintah Arsa.


"Siapa kamu? Aku adalah putra sulung Keluarga Winston. Beraninya kamu memerintahku melakukan hal serendah itu? " Rafa Winston meraung dengan wajah mengerikan.


"Kalau Ayah Keluarga Winston atau pamanmu ada di sini, aku tidak akan berani, tapi sayang sekali mereka tidak ada di sini. Aku bisa bilang, aku menembakmu jika kamu menolak untuk menyerah." Umar Said pun mencibir.


"Kamu." Wajah Rafa Winston menjadi pucat.


"Apa? "


"Kamu tidak akan percaya padaku? Kalau begitu cobalah!" kata Umar Said sambil menarik baut dan memasukkan peluru. Rafa Winston menjadi pucat, dan dia tahu itu bukan peluru biasa.


Setidaknya pada adegan itu, saat ini, dia tidak bisa bersaing dengan Andi Sudiryo dan Umar Said.


"Baiklah, aku akan berlutut! " Rafa Winston hanya bisa mengertakkan gigi dan berlutut di tanah. Baru saja Arsa Kenandra berlutut di hadapannya. Namun, kini Rafa Winston ganti berlutut di hadapan Arsa Kenandra.


"Rafa, ingat dengan jelas semua kejadian hari ini, ingat semua kalau ini adalah hutang. Sekarang kamu berlutut tapi dalam keadaan terpaksa. Saya jamin, setelah kamu mempermalukan aku hari ini, di masa depan, aku akan membuat kamu membayarnya seribu kali lipat, Seribu kali lipat. " Arsa Kenandra memandang Rafa Winston yang sedang berlutut dan berkata dengan dingin. Arsa Kenandra pasti akan mengingat peristiwa ini seumur hidupnya! Dirinya diam-diam bersumpah dalam hati, kalau ia akan menghancurkan Keluarga Winston, dan menginjak-injak harga diri Rafa Winston di masa depan.

__ADS_1


Pesan Author.


"Ada beberapa hal yang mungkin harus kita hadapi dengan Diam. Agar keadaan tidak semakin panas."


__ADS_2