
"Kamu! " Revan benar-benar kesal memandang Arsa yang berada di depannya. Iya tak segan untuk memulai pertengkaran dengan Arsa. Sedangkan Arsa sudah bersiap dengan Garpu yang ada di tangannya. Bersiap-siap jika sewaktu-waktu Revano membabi buta. Arsa berniat akan menusukkan garpu tersebut. Tidak peduli status pemuda di depannya itu adalah seorang anak dari Shemi grub. Jika dia berani melawan Arsa, berarti Arsa tidak akan diam saja.
Melihat Arsa yang memegang garpu di tangannya, wajah Revano berubah drastis. Di saat yang bersamaan, dia menelan ludah dengan susah payah dan terlihat sedikit ketakutan. Revano bisa melakukan apa saja karena dia kaya, jadi dia bisa menggertak orang lain sesuka hatinya. Tapi kalau untuk berkelahi, kemampuannya benar-benar tidak memadai. Dia sangat takut kalau saja Arsa akan menusuknya dengan garpu yang di pegangnya.
"Revan, apa yang kamu lakukan, dia adalah pacarku." kata Naira.
"Apa? Naira, apa benar yang kamu katakan tadi? Sejak kapan kamu punya pacar? " tanya Revano tampak terkejut.
"He'em. Bukan urusanmu sejak kapan, yang pasti ini adalah urusan pribadiku, dan aku rasa tidak ada hubungannya denganmu." kata Naira dengan nada dingin.
__ADS_1
"Tidak masalah katamu? Nai, aku sangat menyukaimu." Revano berkata dengan nada tajam. Dan di saat yang bersamaan, Revano benar-benar mengibarkan bendera permusuhan dengan Arsa.
"Revan, kita berada di sini untuk membicarakan masalah bisnis. Bukan yang lain." kata Naira dengan tegas. Mendegar apa yang di katakan oleh Naira, Revano menutup mulutnya rapat-rapat. Iya langsung duduk di seberang meja di kursi yang terletak di depan Arsa dan Naira. Sedangkan wanita pujaan hatinya itu duduk berdekatan dengan orang yang di bencinya. Dia merasa cemburu karena Arsa bisa duduk di dekat Naira. Mimpinya harus berakhir ketika menatap orang di depannya itu.
Revan berfikir kalau dirinya adalah lelaki dengan status sosial lebih tinggi dari dari Arsa. Dia merasa sangat yakin dengan apa ada di dalam fikirannya tersebut. Di lihat dari cara berpakaian saja, Revano sudah paham kalau Arsa adalah lelaki miskin, bajunya saja terlihat murahan. Revan sudah lama mengejar Naira dan berusaha untuk mendapatkan cintanya. Tapi tiba-tiba saja, bocah miskin di depannya itu berhasil menarik hati Naira. Hingga tak ada kesempatan lagi untuknya. Semua yang ada di benaknya itu benar-benar mengganggu pikirannya.
"Nay, apakah kamu tidak berfikir kalau kamu itu harus mendapatkan orang yang layak untuk dirimu. Contohnya seperti aku, bukan malah berkencan dengan lelaki miskin seperti dia." Kata Revano seolah menghina Arsa.
'Siapa dia? Dari penampilannya, dia terlihat seperti orang miskin." kata Revano dengan nada menghina.
__ADS_1
"Permisi, mau pesan apa? " tanya seorang pelayan yang baru saja datang dengan senyum ramah di bibirnya.
"Hei, kenapa kamu tidak memesan makanan? " Tanya Revano sambil menatap ke arah Arsa sambil tersenyum. Revano menyimpulkan kalau anak miskin seperti Arsa itu pasti belum pernah masuk ke restoran barat kelas atas seperti ini. Jadi dia berpikir kalau Arsa tidak akan memesan apa-apa. Tujuannya hanya satu, menganggap Arsa bodoh dan untuk menghina serta mempermalukannya.
"Jus cheri, kaviar dengan saus putih dan tiga porsi steak fillet medium well." kata Arsa dengan pelan. Arsa yang dulunya adalah orang miskin, tentu saja dia belum pernah memakan kaviar, bahkan iya juga belum pernah masuk ke restoran barat. Tapi menurutnya semua ini bukanlah masalah. Arsa yang dulu suka membaca novel, mendapatkan informasi ini dari novel yang di bacanya. Begitu kalimat Arsa terucap, pelayan di sana merasa sangat terkejut. Dan juga wajah Revano menegang dalam sekejab. Dia tidak menyangka Arsa akan dengan mudah memesan paket paling mahal dan paling mewah itu.
"Apa kamu tahu berapa harga dari makanan yang kamu makan tadi, bego." kata Revano dengan menggertakkan giginya. Dia sekarang menyadari, dia yang meminta Arsa untuk memesan makanan, jadi dialah yang harus membayarnya.
"Tentu saja aku tahu. Dan kamu mau bilang kamu kamu tidak mampu untuk membayarnya kan? Kalau kamu ngga mampu ngga apa-apa, aku bisa membayarnya sendiri, dan juga makanan yang akan kamu makan nanti." kata Arsa sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu pikir aku miskin, kalau hanya segitu kecil buat aku. Mbak sudah ya, itu saja." Kata Revano dengan geram. Meskipun dia merasa tidak enak hati. Tapi demi menyelamatkan harga dirinya, iya harus bersikap sebaik mungkin. Meskipun setelah membayar makanan ini dia tidak akan punya uang lagi. Di depan Naira, iya harus terlihat kalau uang bukanlah masalah besar. Arsa tersenyum dingin memandang ke arah Revano.
Niat Revan pertama kali meminta Arsa untuk memesan hanya untuk mempermalukan lelaki yang di anggapnya miskin itu. Tapi kenyataan berkata lain, Arsa ternyata mengetahui tentang makanan yang mahal. Hingga rencananya itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Di saat yang bersamaan pula, Naira melihat kekecewaan yang begitu besar dari ekspresi Revano. Dia tidak bisa menahan tawa karena sikap Revan yang begitu angkuh. Revan benar-benar menutup mulutnya rapat-rapat. Dia memutuskan untuk mengerjai Arsa lagi. Dia harus membalaskan sakit hatinya kepada Arsa dan memastikan Arsa mendapatkan balasan yang setimpal.