Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Hampir kehilangan Harapan


__ADS_3

Wasis Adiguna melangkah maju dan berkata dengan suara dinginnya,


"Aku, Pimpinan Kejora Grup, di awal-awal tadi aku sudah berbaik hati dan bersungguh-sungguh, lalu memberi kalian seratus juta sebagai kompensasi, tapi kamu malah tidak mau setuju dan berani menggunakan kekerasan terhadap orang yang menjadi pesuruh kejora Grup. Hari ini, aku berniat untuk merobohkan Panti Asuhan Kasih Bunda ini!" Wasis melambaikan tangannya.


"Lakukan untukku!" Suara Wasis terdengar ke telinga seluruh orang yang berada di sana. Setelah sepuluh ekskavator siap beroperasi, mereka langsung memulai dan perlahan berjalan menuju ke gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda.


Terdengar suara yang sangat keras, gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda langsung didorong dan ambruk seketika ke tanah oleh dua ekskavator.


"Kamu bajingan Wasis! Hentikan ! " Bu Kartini meraung histeris dan bergegas berjalan ke arah Wasis Adiguna pada saat yang sama.


"Matilah saja kamu wanita tua ! Bugh bugh! " Dengan Segera, setelah Bu Kartini bergegas mendekat ke Wasis, Wasis langsung menendang perut Bu Kartini, sehingga wanita berambut putih itu jatuh ke tanah.


"Bu Kartini! " Dengan gemetar dan Ketakutan, Devina bergegas dan mencoba menolong Bu Kartini. Bu Kartini pun berusaha pergi bersama Devina sekuat sisa tenaganya.


"Bagaimana dengan anak-anak Dev? " kata Bu Kartini mengkhawatirkan semua keluarga besar panti Asuhan Kasih Bunda.


"Ibu tenang saja, tadi saya lihat kalau Arif membawa pergi anak-anak. Mereka sudah aman. " Kata Devina.

__ADS_1


Saat ini, Arif, pemuda yang tadi berusaha keras mengumpulkan anak-anak, telah keluar dari panti asuhan dengan lebih dari seratus anak.


"Ibu, Kak Devina! " Semua anak berlari ke arah Devina dan Bu Kartini. Sebagian besar anak-anak itu masih kecil, dan tentu saja ketakutan dengan pemandangan seperti itu.


"Bu Kartini, Kak Devina, semuanya sudah keluar. Aku sudah memeriksanya tadi. Tidak ada yang tertinggal." kata Arif . Ketika Devina dan Bu Kartini mendengar ini, mereka menghela napas lega. Setidaknya anak-anak aman dan tidak kurang satupun.


Mereka semua berbalik dan melihat ke Panti Asuhan Kasih Bunda. Saat ini, sepuluh ekskavator telah memasuki panti asuhan Kasih Bunda. Mereka melihat kalau semua ekskavator itu langsung di arahkan ke gedung. Sebagian besar bangunan panti asuhan berlantai tiga Itu sangat mudah dibongkar hanya dengan sekali dorongan.


"Panti Asuhan Kasih Bunda sudah berakhir." Bu Kartini melihat ke panti asuhan dengan putus asa, dan wajahnya terlihat basah oleh air mata.


Saat itu juga, deru mobil sport yang menggema tiba-tiba terdengar, sangat tajam dan melengking. Beberapa orang di tempat itu memutar mata mereka ke sumber suara satu demi satu. Sebuah mobil mewah, bermerk Lamborghini berwarna hijau itu sedang melaju menuju Panti Asuhan Kasih Bunda.


Arsa menjulurkan kepalanya keluar dari mobil dan berteriak,


"Kalau pekerjaan kalian ini atas dasar perintah Wasis Adiguna, hidupmu saat ini adalah milikmu. Jika kalian tidak takut mati, tetaplah di ditu. Tapi, jika kalian masih sayang nyawa, minggirlah untukku!" Dengan itu, Arsa menarik kepalanya ke dalam mobil kembali dan menginjak pedal gas mobil. Dengan deru mesin yang terdengar menggema, Lamborghini itu langsung melesat ke arah dinding manusia yang di bentuk oleh anak buah Wasis. Kecepatan mobil sport itu semakin cepat dan semakin cepat, tanpa berniat melambat sama sekali!


"Apa yang dia lakukan!"

__ADS_1


"Minggir!" Orang-orang yang memblokir jalan berubah ekspresi wajah mereka karena ketakutan. Pada saat yang sama, mereka mundur satu demi satu untuk memberi jalan bagi Arsa. melihat situasi yang seperti ini, jika mereka tidak menyingkir, mereka pasti akan mati tertabrak.


Setelah tembok manusia itu berhasil di singkirkan, Arsa yang mengemudikan Lamborghini itu melaju ke gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda dan kemudian berhenti.


Pintu terbuka, lalu Arsa dan Hudoyo keluar dari mobil. Ketika Arsa melihat para ekskavator mulai menghancurkan panti asuhan Kasih Bunda, wajah Arsa menjadi gelap.


"Tuan Arsa! " Devina membantu Bu Kartini untuk berjalan mendekat ke Arsa.


"Bu Kartini, ada apa denganmu? " Arsa melihat Bu Kartini mengusap noda darah di sudut mulutnya dan terlihat sangat pucat.


" Bu Kartini ditendang perutnya oleh Wasis Adiguna, orang itu tidak berperasaan sama sekali." kata Devina.


"Dasar Binatang! Mereka bahkan melakukan kekerasa pada wanita tua yang sudah berambut putih!" Wajah Arsa menjadi lebih gelap.


"Tuan Arsa, saya baik-baik saja. Tolong selamatkan Panti Asuhan Kasih Bunda." Bu Kartini memohon pada Arsa.


"Jangan khawatir. Aku pasti akan mengurus masalah ini sampai akhir." Arsa mengangguk.

__ADS_1


Arsa berbalik dan menatap Wasis.


"Wasis Adiguna, apakah kamu tidak memiliki rasa kemanusiaan ketika kamu menghancurkan panti asuhan ini? Apakah Kamu memang terlahir sebagai orang bangsat? " Arsa menatap Wasis dengan tatapan dingin.


__ADS_2