
"Ini pernikahan Felisa, kan?" tanya Arsa kepada resepsionis saat memasuki lobby.
"Iya, tuan. Apakah Anda punya hadiah untuk mempelai? Berapa yang akan Anda berikan kepada pasangan itu? Siapa nama Anda? " Tanya pria yang bertugas menuliskan nama di kartu hadiah itu.
"Saya akan memberikan lima ratus ribu, dan nama saya Arsa Kenandra." Arsa melemparkan lima ratus ribu semaunya. Meski Arsa kini sudah menjadi orang yang kaya raya, ia tak perlu memberi terlalu banyak uang kepada Felisa.
"Hei Arsa, apakah benar itu kamu? " Ditanya oleh suara yang bersumber dari belakangnya, Arsa pun menoleh. Dan ketika dia menoleh, dia melihat seorang pemuda dengan rambut ikal. Pemuda itu mengenakan setelan biru muda dan terlihat modis.
"Dan ini benar-benar kamu? " Arsa bertanya kembali.
"Namaku Willy, dan akulah yang merebut Felisa darimu saat itu. Apa kamu tidak ingat aku? " Kata pria itu sambil tersenyum.
"Willy?" Arsa menatap pria itu dengan dingin karena teringat akan hal yang menyakitkan itu. Arsa membuat Felisa jatuh cinta padanya selama tiga bulan, lalu pria bernama Willy ini mengambil gadis itu darinya. Dia kembali ingat bagaimana dia ingin berbicara baik-baik dengan pria ini, tapi akhirnya dia malah dipukuli. Dia sangat marah saat itu. Tapi tidak.bisa berbuat apa-apa.
Willy melirik lima ratus ribu di atas meja, lalu tersenyum pada Arsa.
__ADS_1
"Arsa, kamu baru saja memberi lima ratus ribu ini? Tidakkah menurutmu itu terlalu sedikit? " kata Willy seolah-oleh menghina dan meremehkan. Willy juga melihat baju Arsa dari atas ke bawah lalu menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Kalau kamu tidak punya uang, katakan saja dengan lantang. Kamu tidak perlu memberi tahu aku alasanmu." kata Willy kembali. Setelah itu, Willy berjalan ke tempat pria yang tadi menulis hadiah itu. Willy memberikan tiga juta rupiah.
"Letakkan di sana dan tulis namaku dengan jelas." kata Willy kepada juru tulis tadi. Dan saat iya telah selesai meletakkan segepok uang di atas meja, dengan kepala terangkat tinggi dan dada membusung, terlihat sangat sombong dengan wajah seperti itu. Seolah-olah hanya dia yang mempu memberikan uang hadiah sebanyak itu.
"Hei Arsa, kita semua adalah teman lama, ayo kita masuk bersama! " Willy berkata dengan bangga. Dia menatap Arsa seolah-olah durinya lebih unggul.
"Aku tidak perlu masuk bersamamu, aku bisa sendiri." Balas Arsa lalu langsung menuju ke lokasi di mana pernikahan itu di gelar. Sedangkan Willy menatap Arsa dari belakang dan tersenyum sinis. Dia tersenyum menghina.
"Dulu dia sampah, dan sekarang dia masih sampah. Lucu sekali rasanya. Apa dia tidak malu datang ke pesta pernikahan dengan pakaian lusuh seperti itu." Usai berbicara, Willy pun masuk ke dalam.
"Hei Arsa, kamu datang juga akhirnya, aku pikir kamu tidak akan bisa datang." Felisa menatap Arsa dengan heran.
"Aku masih harus datang dan memberi penghormatan kepada masa mudaku." Arsa berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
"Felisa, siapa laki-laki ini? Kamu belum mengenalkannya padaku." Mempelai laki-laki mengerutkan kening sambil bertanya.
"Oh, ini cinta pertamaku waktu SMP, namanya Arsa." Felisa dengan jujur memperkenalkan.
"Kamu bilang dia adalah cinta pertamamu? Felisa, aku sangat kasihan padamu, kamu tidak punya penglihatan yang baik saat itu. Kamu memilih seseorang yang begitu rendahan?" kata mempelai pria sambil tersenyum. Arsa juga tersenyum dan berkata.
"Felisa, aku yakin penglihatanmu sekarang semakin buruk. Bagaimana mungkin kamu mau menjadi istri dari seorang lelaki yang terlihat seperti babi?" balas Arsa tak mau kalah. Mempelai laki-laki itu berkata dengan sangat tidak sopan pada dirinya, tentu saja Arsa harus terbiasa dengan semuanya. Membiasakan diri membalas dengan tegas.
"Siapa yang kamu bilang babi?" Mempelai laki-laki langsung marah ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Arsa.
"Siapa yang aku bicarakan, bukankah aku baru saja mengatakan di depanmu? Kamu fikir siapa yang aku bilang babi? " Arsa mencibir dengan nada dingin.
"Sialan, apakah kamu sedang cari mati? " Mempelai laki-laki itu tampak marah. "Sayangku, tenanglah! Hari ini adalah hari bahagia kita. Akan sangat buruk dan hancur kalau kita membuat masalah." Felisa menarik mempelai pria. Dan hal Ini bisa mempengaruhi pengantin pria. Dia menjadi tenang setelah mendengar ucapan Felisa. Tapi sesaat kemudian, dia menatap Arsa dan berkata dengan suara dingin,
"Jika ini bukan hari pernikahanku, dan kamu berani bicara seperti ini padaku, aku bersumpah akan membuat hidupmu sengsara." kata mempelai pria.
__ADS_1
"Arsa, suamiku punya pabrik dengan aset puluhan Milyar. Kamu tidak boleh menyinggung suamiku. Kamu harus meminta maaf kepada suamiku. Dan karena kamu adalah pria pertama yang aku cintai, aku akan meminta suamiku untuk memaafkanmu." kata Felisa setelah apa yang di katakan oleh suaminya.
"Kamu bilang aku harus minta harus maaf padanya? Ya ampun, aku rasa aku tidak akan pernah bisa melakukan itu. Dia tidak pantas untuk membuatku mengatakan kata maaf. Seharusnya, dia yang mmeinta maaf kepadaku." Kata Arsa sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya terus menerus. Setelah berbicara, Arsa langsung berjalan ke area perjamuan bagian dalam.