Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Seberkas Cahaya Harapan


__ADS_3

"Sekarang saya sudah sampai pada titik ini, izinkan saya meluruskan hal ini. Saya saat ini adalah Pimpinan Atau CEO Kendi Grup Cabang Kota Surabaya,” kata Arsa dengan tenang.


Semua orang kembali terkejut dengab perkataan Arsa Kenandra.


"Tidak heran semua orang memanggilnya Tuan Arsa. Dia adalah CEO Kendi! " Banyak mantan siswa yang tiba-tiba menyadari hal itu.


"Tidak! Bukan hanya itu. Jabatan Pimpinan Kendi Grub cabang Kota Surabaya memang bagus, tapi tidak cukup untuk membuat Tuan Toni dan yang lainnya merendahkan diri di hadapan kamu!" Kata seorang teman sekelas laki-laki Arsa. Varo mau tidak mau mengangguk, mengetahui bahwa identitas Pimpinan Kendi Grub Cabang Kota Surabaya mungkin membuat orang seperti Tuan Toni memperlakukan Arsa dengan sopan, namun tidak cukup untuk bersujud padanya! Pasti Ada perbedaan kasta antar mereka.


Arsa tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh teman-teman SMA nya itu.


"Apa yang kamu katakan itu benar. Aku juga mempunyai identitas yang mereka semua takuti. Aku adalah cucu kandung Andi Sudiryo." kata Arsa dengan nafas dinginnya. Siapa Andi Sudiryo? Yah, dia adalah orang terkaya di Surabaya. Bukan hanya di Surabaya, tapi juga di tiga provinsi di Indonesia. Arsa Kenandra adalah cucu dari orang terkaya. Mereka benar-benar tak menyangka, Kalau mereka adalah mantan teman sekelas dengan cucu orang terkaya. Kali ini, tidak ada yang mempertanyakan perihal Arsa lagi. Pada saat yang sama, mereka pada akhirnya mengerti, mengapa Tuan Toni pun harus merendahkan diri. Mereka semua mengerti bahwa orang yang sebenarnya ingin dijilat di antara mereka bukanlah Varo, melainkan Arsa. Tepatnya, sumber keuangan Varo sama sekali tidak sebanding dengan Arsa.

__ADS_1


Ketika Varo mendengar ini, dia menjatuhkan diri dan duduk di atas sofa dengan keras, dan terlihat sangat putus asa.


"Ya ampun, Arsa adalah cucu Andi Sudiryo." Gumam Varo dalam hati. Iya tidak dapat membayangkan kalau dia pernah menindas Arsa. Jika Arsa ingin membalas dendam, mampukah dia menanggung semua akibatnya?


"Arsa, ijinkan aku menuangkan minuman untukmu." Roni dan Febrian berkata. ketika mereka mengetahui identitas Arsa yang sebenarnya, mereka ketakutan, tidak bisa di pungkiri, kaki mereka juga ikut gemetar saking takutnya.


"Baiklah, semua orang tidak akan tinggal diam saja. Kalian semua boleh membuka anggur dengan santai di atas meja, dan semuanya bisa bersulang dengan aku!" kata Arsa dengan santai.


"Arsa, sebelumnya, aku masih terlalu muda, jadi aku melakukan banyak hal yang menyinggung perasaanmu. Aku ingin bersulang untukmu sebagai sebuah pertemanan kita. Aku ingin bersulang denganmu sebagai tanda permintaan maaf." Varo mengangkat cangkirnya sambil berkata.


"Tunggu! " Arsa melambaikan tangannya. Kemudian, Arsa menoleh ke pelayan.

__ADS_1


"Pergilah dan ambil bir! " kata Arsa seolah memerintah. Pelayan yang di perintahnya itu segera melakukannya tanpa menunggu apa-apa lagi. Dan tak lama kemudian, sebotol bir dibawakan oleh pelayan tadi.


"Kamu tidak bisa minum Lafite '82 ini Varo. Karena apa? Karena kamu benar-benar tidak pantas untuk mendapatkannya! Dan bir Ini lebih cocok untuk kamu. Karena sangat sesuai dengan nilai diri kamu. " kata Arsa sambil meletakkan bir di atas meja. Wajah Varo memerah. Dia merasakan penghinaan yang nyata dari Arsa, teman SMA nya. Tapi dia tidak berani mengatakan apa pun.


"Sedangkan untuk memintaku memaafkanmu, aku hanya bisa memberitahumu kalau kamu bermain dengan sangat rapi." Arsa tersenyum dingin.


"Ya Arsa. Bagaimana mungkin Varo dan anjing peliharaannya itu menindas kita di sekolah menengah atas dulu. Jadi, jangan lupa akan apa yang telah mereka lakukan. Mereka tidak akan pernah bisa dimaafkan! " Riki berkata dengan marah. Riki juga diintimidasi saat di SMA dulu. Di mana apa yang di lakukan oleh Varo dan gengnya meninggalkan bayangan psikologis yang besar baginya, dan juga berdampak besar pada hidupnya. Hanya saja Riki tidak memiliki kemampuan untuk membalas dendam. Tapi sekarang Arsa sudah kuat, Riki telah melihat seberkas cahaya harapan untuk membalas dendam kepada orang yang sudah merusak mentalnya.


Di sisi lain, wajah Varo berubah menjadi gelap ketika dia mendengar kata-kata Riki. Roni yang berada di belakang Varo menunjuk ke arah Riki dan berteriak.


"Riki, kamu ingin mati, bukan? " kata Roni dengan emosi.

__ADS_1


"Roni, menurutku, kamulah yang ingin mati. Di saat sudah seperti ini juga, kamu masih berani bersikap bossy! " Arsa memandang Roni dengan murung karena tidak suka sambil berkata.


__ADS_2