
Para bos di tempat kejadian menarik nafas lagi setelah mendengar harganya. Meskipun mereka telah bersiap setelah putaran terakhir penawaran, detak jantung mereka masih akan bertambah dengan cepat setelah mendengar angka 770 Milyar yang mengerikan itu.
"Saya tambah jadi 850 milyar."kata Arsa. Iya masih tersenyum. Di liriknya Wasis, lelaki tua itu semakin bersemangat.
"900 milyar." kata Wasis tanpa memikirkan apapun. Dia tersenyum bangga saat mengatakannya.
"900 milyar? " Bahkan di negara ini pun, tidak ada tanah dengan harga segitu dengan luar yang sama. Harga sebesar itu cukup untuk menjadi harga tanah sebuah pulau. Banyak dari bos yang hadir di sana mengetahui kalau harga tanah itu kurang dari 900 Milyar. Arsa hanya bisa membalas tatapan pembawa acara ke panggung dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Tuan Wasis menawar 900 milyar. Sembilan ratus milyar untuk pertama kalinya." Pembawa acara di atas panggung menyerukan. Suaranya terdengar serak dan wajahnya memerah. Orang ini telah menjadi pembawa acara dalam menyelenggarakan acara lelang. Tapi dia tidak pernah menemui harga tanah yang begitu mengerikan seperti ini. 900 milyar.
"900 milyar untuk kedua kalinya! Apakah ada orang yang menawar dengan lebih tinggi dari sembilan ratus milyar? " Pembawa acara berteriak sambil melihat ke arah Arsa. Dia juga mengatakan hal ini kepada pimpinan Kendi Grub. Lagipula, hanya Arsa yang bisa terus menawar. Arsa berpikir sejenak, lalu berkata,
"Tidak ada yang lebih tinggi dari sembilan ratus juta." Setelah berbicara seperti itu, Arsa langsung kembali duduk.
Tuan Wasis yang masih tersenyum melihat Arsa duduk. Sudut matanya terasa berkedut. Senyumnya langaung menghilanh.
__ADS_1
"Hei, kamu... Kamu! Jangan duduk! " seru tuan Wasis dengan cepat ke arah Arsa.
"Kenapa? Haruskah saya menawar lebih dari sembilan ratus milyar untuk membeli tanah itu? Saya tidak akan marah kalau anda mau mendapatkannya." Arsa menjawab dengan pelan. Usai berbicara, Arsa langsung menutup matanya dan bersandar di kursi. Dan di saat tuan Wasis melihat Arsa yang menutup matanya, dia tiba-tiba merasa panik.
"Hei! Hei! Jangan lakukan itu! Kamu harus tetap menawar! Menawarlah lagi! Aku pasti tidak akan menaikkan harganya!" teriak tuan Wasis dengan cemas.
"Bodoh amat." Arsa menjawab tanpa memandang ke arah Wasis. Iya langsung menutup matanya, tersenyum, dan menggelengkan kepalanya.
"Sembilan ratus juta untuk ketiga kalinya! Tidak ada yang menaikkan harga, maka saya akan mengetuk palu ini!" Tuan rumah di atas panggung mengangkat palu lelang di tangannya, dia bersiap untuk menjatuhkan palu.
"Maaf tuan Wasis, sesuai dengan aturan lelang, kesepakatan tidak dapat di tarik kembali." Kata pembawa acara. Setelah mengatakan itu, pembawa acara menjatuhkan palu.
"Pada saat ini, harga tanah ini adalah sembilan ratus milyar, yang dibeli oleh tuan Wasis." kata pembawa acara. Saat palu lelang jatuh, wajah tuan Wasis memucat dan tiba-tiba saja iya pingsan.
"Tuan Wasis... Tuan Wasis bangun! " Saat melihat Wasis pingsan, dengan cepat Seno melangkah maju untuk membantu tuannya itu, dan kemudian Seno mencubit lengan tuan Wasis yang sudah tak sadarkan diri. Hal Itu menyebabkan kegemparan di antara para hadirin yang ada di sana. Semua orang tidak menyangka kalau tuan Wasis akan pingsan karena amarahnya sendiri.
__ADS_1
Semua orang tidak menyangka, yang awalnya Wasis hanya ingin menantang Arsa, tapi dia malah memasukkan dirinya lagi ke dalam perangkap musuh.
"Tuan Arsa, Anda benar - benar membuat tuan Wasis pingsan." kata Fendi sambil tertawa.
"Dia tidak akan marah kan setelah ini? " tanya Fendi dengan snagat bersemangat.
"Yah, hal ini tidak melanggar hukum kan? " Arsa merentangkan tangannya.
"Tentu saja tidak tuan muda" jawab Fendi masih dengan tawanya.
"Tuan, saya tidak menyangka Anda akan mengulangi trik yang sama dan menipu dia lagi, dan kali ini bahkan lebih kejam, dengan total 900 milyar!" kata Fendi dengan senyum yang belum pudar dari bibirnya.
"Aku juga sangat tidak tahu harus berbuat apa sebelumnya. Dia bersikeras membalas dendam padaku. Dan anehnya, dia membiarkan aku membodohinya kembali karena misinya yang menggebu. Apa yang bisa aku lakukan selain meladeninya? " Arsa menaikkan kedua bahunya dan mengangkat tangan. Di awal tadi, Arsa memang berencana untuk mendapatkan tanah ini. Tapi tepat saat Wasis menawar dengan harga 900 Milyar, Arsa kembal memikirkannya dengan hati-hati. Karena menurutnya tidak masuk akal, dia pun berfikir untuk membatalkannya. Lagi pula, tujuan memperoleh tanah ini adalah untuk membangun gedung untuk menghasilkan uang. Dan dengan menghabiskan dana sebesar 900 Milyar, adalah sebuah awal kerugian besar. Selain itu, masih ada biaya lain juga untuk bisa mendapatkan keuntungan lagi. Waktu dan tenaga bukanlah hal yang mudah juga. Itu pun kalau pembangunan lancar dan penjualan mulus seprti yang di harapkan. Kalau tidak, ya mungkin hanya akan mendapatkan kerugian.
"Jadi kenapa aku harus repot-repot berebut tanah dengannya? Apakah karena hal itu supaya kita di wah kan sama orang lain? Aku tidak butuh itu. Yang aku butuhkan adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya. Ini lah akhirnya mengapa aku memutuskan untuk mengalah saja. Membiarkan Wasis masuk dalam lubang yang sama." kata Arsa menjelaskan kepada Fendi. Dan menurut Arsa, ini lah yang terbaik.
__ADS_1