Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Masa lalu sang Pengawal


__ADS_3

"Hudoyo, aku di sini mengundang kamu untuk minum bersamaku, cepatlah ke sini! " Arsa berkata sambil memaksa Hudoyo untuk duduk.


"Ayo, aku akan menuangkan anggur untukmu! " Arsa berinisiatif untuk menuangkan wine yang paling enak untuk Hudoyo. Setelah itu, Arsa mengambil gelas wine dan berkata dengan serius.


"Hari ini kamu telah menyelamatkan hidupku, dan karena hal itu, membuat kamu sendiri terluka. Aku menghormatimu untuk keberhasilanmu menyelamatkanku hari ini." kata Arsa. Setelah berbicara, Arsa Kenandra langsung mengangkat gelas yang di pegangnya dan meminumnya. 


Setelah berfikir sejenak, Hudoyo akhirnya memilih untuk mengambil gelas anggur yang telah di sediakan. Meminum minuman dalam gelas itu dengan secepat kilat, hanya dalam satu tegukan, benda cair di dalam gelas itu sudah habis. 


"Kamu benar-benar mengagumkan." Arsa melihat Hudoyo yang selesai minum, tiba-tiba saja, dalam hati Arsa ada rasa kagum yang besar. Iya tersenyum bahagia. Setelah itu, Arsa kembali menuangkan anggur yang terbaik di bar terebur untuk Hudoyo. Dia juga menyemangati pengawalnyanya lagi.  Setelah tiga kali minum, Arsa kembali duduk. 


Saat itu, jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tepat di saat bar sudah mulai ramai, musik metal di bar tersebut terdengar sangat memekakkan telinga.  Hudoyo melirik ke arah Arsa, dan kemudian berkata,


"Sejujurnya Tuan Muda, saya pribadi tidak terbiasa dengan tempat seperti ini, saya juga tidak suka tempat seperti ini." Arsa terkejut mendengar penuturan dari Hudoyo. Sesaat kemudian, iya tersenyum. 


"Benarkah? Kalau begitu kita sama." Sambil berbicara, Arsa juga melirik ke arah Hudoyo. Setelahnya, iya menoleh, mengamati tempat di sekitarnya.


Di lantai dansa bar tersebut, banyak pria dan wanita muda yang berpakaian setengah telanjang. Mereka semua menari di lantai bar. Banyak di antara mereka yang bersikap bar-bar juga.

__ADS_1


Setelah menatap ke arah lantai di mana para pemuda pemudi itu berada, Arsa kembali melihat ke arah Hudoyo dan tersenyum. 


"Hudoyo, bolehkah Aku mengajukan pertanyaan yang bersifat pribadi?" tanya Arsa.


"Tuan Muda, tanyakan saja apa yang ingin anda tanyakan." Hudoyo menjawab dengan serius. 


"Apakah kamu masih jomblo?" Arsa baru saja selesai mengatakan ini, tapi dia juga tidak bisa menahan tangannya untuk menutup mulut dan tertawa. 


"Tuan Muda, anda..." Kata Hudoyo di saat mendengar pertanyaan Arsa, wajahnya memerah. Dia tidak menyangka Arsa akan menanyakan pertanyaan ini.


"Astaga, Aku tidak berharap kamu malu dan wajahmu memerah Hudoyo." Arsa menutup mulutnya dan tersenyum. Arsa merasa kalau dia bisa menemukan sisi lain dari Hudoyo yang selalu diam itu.


"Oke, jangan pura-pura lagi. Toh, aku sudah tahu, kamu pasti masih jomblo kan? tidak ada yang memalukan, lagi pula aku juga." kata Arsa sambil tersenyum. 


"Jadi, apa yang Anda katakan itu serius Tuan Muda? " Hudoyo tampak sedikit terkejut.


"Hudoyo, sepertinya kamu baru saja mengakuinya," kata Arsa sambil tersenyum. 

__ADS_1


"Tuan Muda, jangan mengolok-olok saya." Hudoyo berkata sambil tersenyum. Melihat senyum Hudoyo,  Arsa terkejut. Arsa bersumpah dalam hati, kalau ini adalah pertama kalinya dia melihat seorang Hudoyo tertawa. Kakeknya saja mungkin belum pernah melihat Hudoyo tertawa. Arsa tersenyum dan melanjutkan pertanyaannya.


"Hudoyo, apakah kamu ingin Aku mencari satu wanita untuk kamu? Aku akan Membantumu supaya kamu tidak jomblo lagi. Aku juga akan membantumu menghilangkan kesepian dalam hatimu." kata Arsa.


"Tuan Muda, saya... Saya benar-benar tidak tertarik, bisakah anda berhenti membicarakan masalah ini." Hudoyo merentangkan tangannya dengan canggung. 


"Baiklah, Aku akan membiarkan kamu menikmati kesendirianmu lagi. Ayo kita minum lagi." Arsa mengangkat gelas wine di atas meja. Hudoyo juga mengambil gelas dan mendekatkan dengan gelas dengan Arsa. Arsa membicarakan hal ini dengan tujuan supaya Hudoyo bisa lebih dekat dan terbuka kepadanya.


"Hudoyo, terakhir kali kakek mengatakan, kalau kamu bertugas di pasukan khusus. Kemudian, kamu pindah ke pasukan bawah tanah. Bisakah kamu ceritakan tentang pengalamanmu selama ini? " tanya Arsa ingin tahu. Tentang Hudoyo, kesan Arsa tentang lelaki di depannya itu begitu kuat dan misterius. Dan Arsa ingin mengetahui pengalaman Hudoyo. Tentu saja, dengan karakter Hudoyo yang begitu pendiam, Arsa tidak yakin, apakah dia akan mengatakan pada dirinya tentang apa yang di tanyakan tadi.


Hudoyo terdiam sesaat, lalu mendongak dan berkata. 


"Saya adalah seorang yatim piatu ketika masih kecil. Saya dibesarkan di panti asuhan. Karena saya begitu pendiam, saya tidak punya teman sejak masih kecil juga. Prestasi akademik saya juga tidak bagus. Hanya pemilik panti asuhan yang baik kepadaku. Dan saat itu, saya punya cita-cita untuk menjadi seorang tentara." kata Hudoyo memulai ceritanya.


"Yatim piatu?" Arsa terkejut. Arsa terkejut tidak hanya kalau Hudoyo itu adalah seorang yatim piatu, tapi lebih terkejut lagi kalau ternyata, Hudoyo bersedia mengatakan tentang hidupnya sendiri di masa lalu. Hudoyo pun melanjutkan kembali.


"Kemudian, dengan bantuan pimpinan Panti Asuhan, saya berhasil mendaftar di militer. Saya bergabung dalam pasukan khusus yang terkuat di dunia militer saat itu. Hingga akhirnya, pasukan itu menjadi kelompok elit di pasukan khusus, kita selalu bisa menyelesaikan misi tempur yang tidak mudah berkali-kali." 

__ADS_1


"Setelah tiga tahun bekerja, selama liburan, saya kembali dengan niat ingin menemui pimpinan panti asuhan. Tapi ternyata panti asuhan tersebut sudah hancur dibongkar dan rata dengan tanah. Saya mendengar, kalau pimpinan panti terluka saat mencegah pembongkaran itu, tapi tetap dia tidak bisa menyelamatkan panti asuhan tersebut. Bahkan sampai sekarang, saya tidak melihatnya sama sekali." Ketika Hudoyo mengatakan hal ini, tinjunya membuat meja di depannya berderit, dan matanya berkilat karena marah. Hudoyo yang marah terlihat sangat mengerikan. 


"Hudoyo, tenanglah. Amarahmu itu bisa membunuh seseorang." kata Arsa yang mungkin bisa membayangkan, kalau Hudoyo yang marah sangat mungkin untuk membunuh orang yang telah menyakiti pimpinan panti suhan itu. Karena pimpinan panti asuhan adalah satu-satunya orang yang di miliki oleh Hudoyo.


__ADS_2