
"Identitas dan latar belakangnya pasti sangat kaya. Apakah dia akan membela tim basket kampus kita." suara itu terdengar begitu mengelu-elukan.
"Apa yang terjadi hari ini benar-benar membuat frustrasi. Jika dia bisa berdiri di sana untuk kita, itu akan sangat bagus." Para mahasiswa yang menonton pertandingan mengharapkan Arsa berdiri untuk kampus mereka.
"Arsaaa...!" Di dalam lapangan basket, terdengar suara seseorang memanggil namanya. Ketika para pemain universitas melihat kalau Arsa datang, mereka memanggil juga memangil. Arsa mengangguk lalu dia melangkah maju dan menepuk pundak Adit.
"Ndut, tenanglah. Meskipun dia mendapat pukulan darimu, dia akan baik-baik saja. Dan Universitas Surabaya malah akan kehilangan harga diri." kata Arsa dengan tenang.
"Tapi Arsa, mereka mempermalukan kami." Adit menjawab sambil mengertakkan gigi, dia sangat tidak rela melepaskan apa yang terjadi.
"Sebagai mahasiswa Universitas Surabaya, saya juga tidak bisa mentolerir orang lain menginjak-injak nama universitas kita." kata Arsa dengan mata menyipit. Kapten tim lawan yang bernama Adesta itu. Tinggi nya terlihat hampir 1,9 meter, sedangkan Arsa hanya 1,7 meter. Arsa terlihat sangat kecil ketika dia berdiri di depannya. Adesta memiliki aura alami dengan keunggulan tinggi badannya. Namun, Arsa tidak rendah hati atau sombong dan dia tidak terlihat kewalahan oleh auranya.
"Hei kak, siapa kamu?" Adesta menatap Arsa.
"Tidak masalah dan tidak penting untukmu siapa aku. Aku hanya ingin memberi tahu kamu, kalau aku tidak akan tinggal diam jika kita bertemu lagi di waktu yang akan datang. Kita memang kalah hari ini, tapi tolong hormati lawanmu. Karena mereka lebih tua darimu." Arsa tampak sangat tenang dalam berkata.
"Apa yang kamu bicarakan? Kamu ingin dihormati? Kita menang karena kekuatan dan kemampuan kita!" Adesta menunjukkan jari tengahnya kepada Arsa, wajahnya penuh dendam.
__ADS_1
Saat Arsa melihat jari tengah Adesta, ekspresinya menjadi lebih suram.
" Teman-teman, jika Universitas Surabaya tidak ingin menghormati taruhan yang kita katakan di awal tadi, kita pergi sekarang ! " Adesta melambaikan tangannya, belasan dari pemain yang datang bersamanya keluar dari stadion dengan kepala terangkat tinggi. Tapi mahasiswa Universitas Surabaya mengepung lapangan dengan marah dan menolak memberi jalan bagi mereka.
" Mahasiswa universitas Surabaya yang terhormat, beri jalan bagi mereka. Jangan biarkan orang lain mengatakan bahwa universitas Surabaya tidak mampu menerima kekalahan kita." kata Arsa. Ketika Arsa mengucapkan kata- kata tersebut, seluruh mahasiswa segera memberi jalan untuk Adesta dan teman-temannya.
"Oh, aku pikir Arsa akan membela kampus kita, tapi ternyata tidak." kata seorang mahasiswa yang menjadi penonton.
"Iya, aku juga berpikir kaya gitu." Banyak penonton yang terlihat kecewa. Ketika mereka melihat Arsa berjalan di dalam lapangan, mereka mengira kalau Arsa akan memberi pelajaran kepada Adesta dan teman-temannya. Tapi dia tidak melakukannya.
Setelah mereka pergi, para mahasiswa yang menonton pertandingan juga bubar.
"Ayo. Ayo pikirkan jalan keluar dari semua ini. Kampus kita dipermalukan hari ini." sahut yang lain. Di lapangan basket, anggota tim basket Universitas Surabaya masih berdiri di tempat yang sama.
"Arsa, apa yang terjadi hari ini sangat menjengkelkan, haruskah aku melupakannya? Aku benar-benar tidak bisa melepaskan apa yang mereka lakukan pada kita." Adit menggertakkan giginya. Anggota tim bola basket lainnya yang masih berada di lapangan juga berbicara satu demi satu sambil mengertakkan gigi karena geram.
"Jika kita tidak membiarkan dia pergi lebih awal dan memukulinya, mereka akan mengunggah videonya di Internet . Mereka akan menyebarkan desas-desus kalau kita kalah dalam permainan, kita membalas dengan mengalahkan lawan dengan memukulinya. Jika hal itu sampai terjadi, reputasi Universitas Surabaya benar-benar akan ternoda." Arsa menggelengkan kepalanya. Arsa bukanlah orang yang impulsif dan sembarangan dalam bertindak. Dia tahu bagaimana mengendalikan dirin dan dia juga tahu bahwa dia perlu berpikir dengan hati-hati di setiap situasi.
__ADS_1
"Ya, kita mengerti. " Adit dan semua anggota tim itu mengangguk.
"Meskipun kita membiarkan mereka pergi, hal itu tidak berarti kalau apa yang terjadi sebelumnya akan dilupakan begitu saja. Selain itu, aku pasti akan menemukan tempat untuk semua anggota tim bola basket Universitas Surabaya." Arsa Kenandra berkata dengan serius, nada bicaranyanya menjadi dingin. Para pemain lain yang hadir juga memandang Arsa dengan penasaran.
"Arsa, apa yang akan kamu lakukan? " Adit pun bertanya dengan penasaran. Bagi mereka, kalau mereka ingin mengandalkan kemampuan mereka sendiri untuk menemukan tempat dan mengembalikan harga diri, hal itu jelas tidak mungkin. Jadi mereka hanya bisa menaruh satu-satunya harapan pada Arsa. Meskipun para pemain ini tidak mengetahui identitas dan latar belakang Arsa, mereka tahu kalau Arsa itu orang yang mempunyai pengaruh yang kuat karena dia cukup mampu untuk memiliki Lamborghini, sebuah mobil mewah yang hanya di miliki oleh dirinya di Universitas itu.
Mendengar apa yang di katakan oleh teman-teman se Universitasnya, Arsa melihat ke lapangan basket dan berkata,
"Karena kita kalah dalam basket hari ini, tentu saja kita harus mencari pengganti untuk bermain. Besok, kita akan pergi ke sekolah mereka, beri mereka kehormatan dan tantang mereka!" kata Arsa dengan serius
"Tapi Arsa, Adesta itu terlalu bagus dalam bermain, kita tidak bisa mengalahkannya sama sekali." Adit berkata dengan khawatir.
"Iya! Bahkan jika kita menantang mereka, kita tetap akan kalah." Para pemain di tempat itu juga mengangguk.
"Itu memang tidak mudah, tapi jika dia sehebat itu, maka aku akan menemukan seseorang yang lebih baik dan lebih hebat darinya," kata Arsa enteng.
"Siapa yang akan kamu cari?" Adit dan semua orang memandang Arsa dengan bingung.
__ADS_1
"Saya akan menemukan tim hebat dari Pemain Basket Nasional," kata Arsa.
"Pemain Basket Nasional?" Si gendut dan semua orang terkejut.