
"Wasis Adiguna, lagi lagi kamu berulah dan menyengsarakan yang lemah. Ini adalah saatnya mencari cara untuk membunuh kamu!" Arsa menyipitkan mata dan bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah memikirkan apa yang telah terjadi pada keluarga Adit, Arsa pun mengeluarkan satu lembar cek dan menulis di atas cek itu senilai lima ratus juta rupiah.
"Om Budi, aku cucu Andi Sudiryo, dan aku belum memberitahumu. Aku benar-benar minta maaf, tapi sekarang toko kecil keluarga om Budi sudah hancur. Tutup saja toko itu dan ambil cek ini. Lima ratus juta ini. Saat Om sudah keluar dari rumah sakit, ambillah uang untuk membuka supermarket besar atau apa pun atau om mau melakukan sesuatu yang lain." Arsa menyerahkan cek itu kepada Om Budi. Arsa sudah lama ingin membalas budi Adit dan ayahnya. tetapi Arsa tahu bahwa ayah dan anak itu tidak akan pernah mau menerima uangnya tanpa alasan. Arsa berpikir akan membantu mereka saat mereka membutuhkannya.
Kali ini, toko mereka hancur dan Om Budi terluka. Sudah waktunya Arsa membantu mereka.
"Lima ratus juta?! Arsa, aku tidak mau ini!" Om Budi sangat terkejut dengan angka tersebut. Bagi Om Budi, lima ratus juta adalah angka yang sangat besar.
"Om Budi, waktu aku miskin, Om dan Aditlah yanh biasa meminjamkan uang kepadaku. Om dan Adit dengan murah hati mau membantuku dengan uang itu. Dan yang tahu hanya aku dan Om saja." Arsa tampak serius.
__ADS_1
"Tapi aku tidak meminjamkanmu uang sebanyak itu! " Om Budi mengembalikan cek itu.
"Semakin banyak uang yang keluar dariku, maka itu adalah hatiku." Arsa kembali menyerahkan cek itu kepada Om Budi.
"Arsa, kamu sudah membantuku membiayai operasi dan rawat inap. Terima kasih banyak, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima uangmu." Om Budi menggelengkan kepalanya dan masih menolak untuk menerima cek tersebut.
"Om Budi, kamu baru saja melihat semuanya, apa aku masih berbohong tentang uang milyaran rupiah itu, dan jumlah yang tertulis dalam cek ini bukan apa-apa. Jika kamu tidak menerimanya, aku akan sangat sedih." Arsa berpura-pura tidak bahagia. Setelah itu, Arsa meletakkan cek itu ke tangan Om Budi.
"Baiklah, aku ambil cek ini." Om Budi memahami permintaan Arsa dan mengatakan itu. Kali ini dia tidak mengatakan tidak. Melihat cek di tangannya, Om Budi menangis.
"Adit, jaga baik-baik ayahmu di rumah sakit. Aku akan menyelesaikan masalah ini, serahkan padaku, biar aku yang menyelesaikannya." Arsa menepuk pundak Adit.
__ADS_1
"Arsa, utamakan keselamatanmu. Aku tunggu kabar baikmu! "kata Adit.
Om Budi juga mau tidak mau berkata, "Arsa, tidak masalah jika kamu tidak membalas dendam pada mereka. Semuanya akan baik-baik saja!" Dan Arsa Hanya menjawab dengan senyuman. Setelah itu, iya pun pamit undur diri.
Setelah keluar dari rumah sakit, Arsa masuk ke dalam mobil bisnis Perushaaan.
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit, Arsa berpikir bagaimana caranya untuk membunuh Wasis Adiguna. Hal Itu sangat mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Dengan kekuatan Arsa yang kini ada di tangannya, dia bisa membalikkan pasukan Kota Jombanh, dan juga bisa memanggil Tiger menuruni Gunung pagerukir. Dia bisa mengumpulkan kekuatan nyata di tangannya untuk menyerang Wasis Adiguna, seperti yang dia lakukan terhadap Tomi Sucipto. Dia merasa yakin. Namun, dengan serangan sekuat itu, korbannya pasti tidak akan sedikit. Lagipula, pengawal Wasis juga cukup banyak. Dan yang diketahui Arsa, sejak berselisih dengan Wasis Adiguna, dia tidak hanya memperkuat keamanan vila tersebut tetapi juga menambah banyak pasukan keamanan pada vila tersebut untuk mencegah Arsa menemukan jalan masuk.
Terakhir kali dia menyerang Tomi Sucipto, Arsa keluar dari permainan, dia bisa menguasai rumah Tomi. Dia melakukan serangan diam-diam untuk mengintensifkan serangan balik dari musuh, tetapi masih juga kalah banyak. Sekarang, jika dia akan menyerang Wasis, terutama di rumahnya dengan persaingan yang berat, korbannya pasti jauh lebih besar daripada menyerang Tomi Sucipto.
Sejujurnya, hati Arsa tidak ingin ada satupun anak buahnya yang mati, apalagi harus menanggung akibat dari jatuhnya korban jiwa yang besar. Sementara Arsa ingin membalas dendam, dia tidak berkepala dingin. Saat itu, pintu terbuka dan Hudoyo duduk bersama co-Driver.
__ADS_1
"Arsa, apakah kamu berpikir untuk menyelesaikan masalah dengan Wasis Adiguna? " Hudoyo bertanya. Arsa mengangguk.
"Iya... Wasis Adiguna harus mati. Dia sudah banyak neresahkan orang kecil." jawab Arsa.