Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Saran Dari Hudoyo


__ADS_3

"Iya... Wasis Adiguna harus mati. Dia sudah banyak neresahkan orang kecil." jawab Arsa.


"Arsa, kenapa kamu tidak biarkan aku menyelinap masuk ke rumahnya saja. Aku akan membunuhnya." kata Hudoyo. Arsa telah memikirkan hal ini sebelumnya, namun Hudoyo tidak di bayar untuk berteman dengan Arsa. Dia hanya diperintahkan untuk melindunginya, jadi dia tidak akan membantu Arsa untuk membunuh Wasis Adiguna. Namun sekarang keadaannya sudah berbeda, ia mengakui Arsa sebagai sahabat sekaligus kakaknya. Dia tentu saja bersedia membantu Arsa.


"Tidak. Menurutku terlalu berisiko kalau kamu melakukan ini sendirian. Lagi pula, yang akan kita serang ini adalah rumah Wasis Adiguna. Keamanannya sangat ketat, dan tangan-tangan berat siap di perintahkan. Terakhir kali, bukankah kita melihat kalau Wasis Adiguna punya sebuah pistol." Arsa menggelengkan kepalanya.


Terakhir kali menyerang Tomi Sucipto, Arsa menyadari bahwa dia tidak boleh membiarkan Hudoyo berusaha sendiri. Memang benar Arsa hanya menunggu di luar, tapi iya benar-benar takut terjadi apa-apa pada Hudoyo. Dan pasa saat itu pula, Arsa sampai keringat dingin memikirkan keselamatan pengawal sekaligus sahabat dan saudaranya itu. Saat Itu adalah situasi yang sangat menyedihkan dan menakutkan bagi Arsa. Dan Tidak ada cara lain untuk Hudoyo selain melakukannya, tapi sekarang berbeda. Selain itu, tidak ada pengawal yang kuat di rumah Tomi Sucipto pada saat itu. Tapi sekarang, di dalam dan di luar rumah Wasis Adiguna, vila itu dilindungi oleh pasukan elit Wasis Bahayanya pasti jauh lebih tinggi dari yang terakhir.


"Arsa, aku setidaknya 50% yakin akan kemampuanku." kata Hudoyo.


"Hanya 50 persen keyakinanmu untuk berhasil? Kalau begitu aku tidak bisa membiarkanmu mempertaruhkan nyawamu." Arsa menggelengkan kepalanya.


Di mata Arsa, kehidupan Hudoyo jauh lebih penting daripada kehidupan Wasis.

__ADS_1


"Arsa, ada satu hal lagi yang ingin kulaporkan padamu, dan tepatnya, aku punya saran! " kata Hudoyo.


"Saran apa?" Arsa memandang Hudoyo.


"Aku pikir kamu dapat membentuk sebuah tim pasukan elit dengan jumlah orang yang tidak banyak. Jumlahnya setidaknya sepuluh orang, tapi setiap orang harus memiliki seribu orang sebagai pasukan yang kuat, memiliki ketrampilan yang sangat bagus, dan kemampuan tempur yang sangat kuat!" kata Hudoyo.


Dia melanjutkan, "Tim pasukan elit ini akan didedikasikan untuk tugas-tugas sulit, seperti membunuh Wasis Adiguna. Jika ada tim seperti itu yang dikirim langsung ke rumah Wasis Adiguna, aku pikir akan lebih mudah untuk menyingkirkannya!" kata Hudoyo menyampaikan sarannya.


"Saran kamu benar-benar sangat bagus!" Mata Arsa berbinar. Jika Tim pasukan elit itu terealisadi, makan akan seperti pasukan khusus di ketentaraan, yang tidak memiliki banyak orang, tetapi mereka semua adalah pasukan elit pilihan, yang berdedikasi untuk tugas-tugas sulit. Jika Arsa membentuk tim elit seperti itu, tim tersebut akan sangat kuat sehingga cukup seperti Tiger dan Hudoyo. Jika dia memiliki tim elit di tangannya, maka hal itu sama seperti memiliki kartu as di tangannya, iya bisa memegang kendali karena memiliki ujung yang tajam yang bisa menghunus musuh! Tidak peduli musuh apa yang akan dia hadapi di masa depan, ujung tombank yang tajam ini akan sangat membantu Arsa. Arsa tersenyum pahit.


"Arsa, bagimu, tidak ada yang sulit di dunia ini. Yang ada hanyalah rasa takut terhadap orang-orang yang berhati hati. Selama kamu bersedia mengeluarkan tenaga dan uang untuk merealisasikannya, aku yakin tim ini pasti bisa di bentuk dengan mudah."vkata Hudoyo.


"Ya. Aku harus membentuk tim pasukan elit ini meskipun sulit!" Arsa menatap tajam ke depan. Kalau begitu iya akan mengangkat Hudoyo menjadi kaptennya. Arsa bertekad untuk mendapatkan keuntungan dari sebuah tim pasukan elit yang kuat. Dia harus menemukan cara untuk membentuk tim seperti itu!

__ADS_1


"Arsa, aku akan menghubungi beberapa teman lama dan aku juga berpikir untuk membantumu menemukan para pasukan elit ini," kata Hudoyo. Arsa mengangguk.


"Kalau begitu, aku akan merepotkanmu, Hudoyo." kata Arsa.


"Tapi itu mungkin belum cukup, Arsa. Sejauh yang aku tahu, sepuluh hari lagi, akan terjadi pertarungan bawah tanah yang besar di negara ini. Para pejuang bawah tanah terkemuka di Indonesia akan berkumpul, dan bahkan beberapa pejuang asing," kata Hudoyo.


Hudoyo melanjutkan, "Kita bisa mencoba peruntungan di sana. Mungkin kita bisa merekrut beberapa orang kuat!"


"Setelah sepuluh hari? Baiklah!" Arsa mengangguk. Jika diberi kesempatan merekrut elite, Arsa tentu tidak akan melewatkannya.


Pada pertarungan Kota Surabaya terakhir, Arsa mendapat seseorang yang sangat kuat seperti Tiger.


"Arsa, karena kamu tidak akan membiarkan aku membunuh Wasis Adiguna sendirian, saranku adalah menggunakan pasukan ini untuk membunuh Wasis Adiguna setelah kamu membentuknya," kata Hudoyo.

__ADS_1


"Yah, aku akan memikirkannya dan membiarkan Wasis Adiguna hidup beberapa hari lagi." Arsa mengangguk. Arsa sangat ingin membunuh Wasis sekarang, namun serangan yang kuat dapat menyebabkan banyak nyawa anak buahnya melayang. Dan Itu adalah sesuatu hal yang tidak boleh terjadi. Jadi, saran dari Hudoyo sangat bagus.


Fendi, General Manager perusahaan, menelepon Arsa, yang mengatakan bahwa iya harus ke perusahaan. Jadi, Arsa dan Hudoyo di antarkan oleh seorang sopir langsung mengantar ke perusahaan. Jika bukan karena keluarga Adit, Arsa pasti sudah pergi ke perusahaan hari ini. Akhirnya, Arsa pun langsung berangkat ke perusahaan.


__ADS_2