
Setelah keluar dari perusahaan, Arsa tiba-tiba saja mendapat inspirasi. Dia punya ide baru di benaknya.
"Hudoyo, Keluar!" Teriak Arsa. Beberapa detik kemudian, sosok seorang laki-laki muncul di depan Arsa. Dia adalah satu-satunya pengawal yang diam-diam melindungi Arsa selama ini atas perintah dari kakeknya.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk anda tuan muda?" Hudoyo bertanya dengan suara serak dan pelan.
"Doyo, kamu baik-baik sajakan?" tanya Arsa.
"Setidaknya, di daerah Surabaya ini, saya tidak punya lawan yang seimbang tuan. Jadi, saya baik-baik saja." Jawab Hudoyo dengan tenang.
"Bagus kalau begitu." Kata Arsa. Hudoyo pun mengangguk.
"Hudoyo, sekarang kamu adalah pengawalku kan?" Tanya Arsa. Hudoyo mengangguk lagi.
"Kalau begitu, aku ingin kamu membunuh Wasis Adiguna dari Kejora Grup. Bisakah kamu membuktikan kekuatan yang kamu miliki itu kepadaku?" Kata Arsa.
"Maaf Tuan, tetapi tugas saya adalah melindungi Anda. Tuan besar mengatakan kepada saya, kalau hidup anda sedang terancam dan dalam bahaya, saya bisa melakukannya." Kata Hudoyo, dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Saat Arsa mendengar kata-kata itu, dia terdiam.
"Wah, aku rasa kamu tidak punya kekuatan seperti yang kamu katakan, iya kan?" Arsa mencoba untuk memprovokasi lelaki di depannya itu.
__ADS_1
"Terserah anda mau berfikir bagaimana tuan muda." Jawab Hudoyo, Setelah mengatakan ini, dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Arsa.
"Hei! Hei... Kenapa kamu pergi? Bukankah kamu bilang kamu adalah pengawalku?" Arsa mencoba memanggil. Iya berfikir kalau akan sangat mudah menyelesaikan masalah kalau saja Hudoyo mau melakukan apa yang di suruhnya. Tapi malah pengawalnya itu menolak karena itu bukan tugasnya.
Namun sesaat kemudian iya tersadar. Iya tidak mungkin menyuruh Hudoyo melakukan hal seperti itu sendirian. Iya pun tak bisa berkata apa-apa. Hal ini juga akan membahayakan nyawa Hudoyo. Akhirnya, Arsa pun melangkah pergi, meninggalkan perusahaan dan langsung ke kampus. Sepanjang perjalanan menuju ke kampus, Arsa terus memikirkan cara bagaimana iya bisa melumpuhkan kecurangan Kejora grub tanpa meminta bantuan kepada kakeknya.
Wasis adiguna, pimpinan Kejora Group. Dia adalah pemimpin sekelompok pasukan bawah tanah di Kota Surabaya. wasis adalah pesaing bisnis terkuat untuk kendi grup cabang Surabaya yang dipimpin oleh Arsa.
"Bagaimana kalau aku juga membentuk pasukan bawah tanah sendiri. Dengan begitu, aku bisa menghancurkan pasukan Wasis. Setelah itu aku akan menyatukan mereka. Kekuatan bawah tanah ini akan menjadi suatu kelompok terkuat di Surabaya." gumam Arsa berangan-angan. Jika hal ini bisa di lakukan, maka akan menjadi sebuah hal yang sangat menantang. Arsa pun tersenyum.
Beberapa saat kemudian, Arsa telah sampai di kampus. saat akan memasuki gerbang, ponselnya berdering. Arsa melihat jika yang menghubungi dirinya adalah Fendi. Iya pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo.." Kata Arsa.
"Wah, bagus sekali! " Kata Arsa yang mendengar berita itu. Dia hanya menghela nafas panjang karena merasa lega. Meskipun Arsa belum bisa mendapatkan keuntungan yang banyak dengan harga jual yang iya putuskan tadi, setidaknya mereka tidak akan rugi. Untuk masalah ini, perlahan mulai bisa di atasi. Dan Arsa akan melakukan yang terbaik lagi.
Gedung perusahaan Kejora Grup.
Meskipun badai telah berlalu untuk sementara, perseteruan antara Arsa dan Kejora Grub belum sepenuhnya bisa diselesaikan. Di kantor pimpinan Kejora grub di lantai paling atas. Wasis dengan kepalanya gundulnya, menyalakan satu batang rokok dan bersandar di kursi kebesarannya. Dan yanv sedang berdiri di sampingnya adalah penasehat perusahaan sekaligus assistand Wasis.
__ADS_1
"Tuan Wasis, saluran telepon Kendi Group pasti berdering tanpa henti untuk saat ini. Saya yakin Kendi Group pasti kesulitan menyelesaikan masalah pembatalan dan pengembalian dana dari begitu banyak pembeli," kata seorang yang berdiri di samping Wasis. Dia tampak sangat berbahagia atas kekacauan yang berhasil di buatnya.
"Kali ini, aku ingin tahu bagaimana Kendi Grup bisa menghadapi masalah ini!" Kata Wasis juga tersenyum penuh kemenangan.
"Apa lagi yang bisa saya lakukan tuan? Saya yakin saya hanya akan kehilangan uang yang tidak seberapa. Untuk pembangunan real estate ini, Kendi Grup harus membayar lebih dari 100 miliar Tuan." Lelaki bernama Seno itu tersenyum aneh.
"Seno, strategimu sangat bagus. Jangan khawatir, aku tidak akan meragukan lagi kemampuanmu," kata Wasis sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan Wasis! Terima kasih," Kata Seno mengangguk lagi dengan perasaan gembira.
Di Saat itu juga, seorang lelaki berbadan kurus bergegas masuk, berlari dan berteriak.
"Tuan Wasis, ada berita buruk! Semuanya telah berubah, tidak seperti yang kita rencanakan sebelumnya" kata lelaki kurus tadi dengan nafas tak karu-karuan.
"Cepat katakan padaku, ada apa!" Kata Wasis sambil mengerutkan keningnya karena ingin tahu.
"Tuan, Kendi Group menjual unit perumahan dengan diskon 30%, dan mereka yang menuntut pengembalian Dana akhirnya tergoda diskon 30% itu. Mereka semua membatalkan permintaan pengembalian dana. Saat ini keadaan di kendi grub sudah kembali tenang. Kendi Group tidak mendapatkan banyak keuntungan dengan adanya diskon 30% ini, tapi mereka juga tidak rugi banyak." Kata pria kurus itu. Wasis pun langsung berdiri dengan kaget dan ekspresi di wajahnya tidak bisa di artikan.
"Apa!" Teriak Wasis.
__ADS_1
"Sialan! Kenapa para pembeli yang bajingan ini mudah goyah sekali! mereka memberikan diskon 30% dan mengumumkan kepada pembeli?" Wasis bertanya. Iya tidak bisa menahan sumpah serapahnya.
"Beraninya mereka memberikan diskon 30%, Diskon itu sangat tinggi untuk mereka semua yang sudah kita bodohi? Ide siapa ini?" Kata Wasis dengan marah membanting rokoknya ke tanah. Wasis tidak menyangka kalau strategi mereka yang telah direncanakan sejak lama berhasil di gagalkan oleh Kendi grub dengan cara ini.