Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Tidak menyangka


__ADS_3

"Ada lebih dari 400 tanggapan terhadap video di postingan itu, dan jumlahnya terus meningkat dengan pesat. Aku khawatir kalau seluruh mahasiswa di kampus akan semakin banyak yang tahu." Kata teman sekamar William.


"Diam... Diam! " William membentak temannya. Saat ini, mata William terlihat memerah, dia merasa kepalanya akan meledak karena amarah.


"Kalau seluruh mahasiswa mengetahuinya, lalu bagaimana aku bisa menghadapi semua ini?" William merasa seperti akan gila.


" Bajingan... Ini semua pasti rencana Arsa Dan Talita! Pasti semua ini ada hubungannya dengan mereka! Karena mereka telah menghancurkanku seperti ini, maka aku akan membalas mu lebih dari ini" William meraung marah. Seakan hidupnya telah berakhir.


Di gerbang Universitas Kota Surabaya.


"Arsa, kamu sudah di sini" Talita berdiri dan menunggu Arsa dengan sabar. Dia segera melambaikan tangannya dan tersenyum. Senyum manis saat melihat Arsa berjalan ke arahnya.


"Kamu ke sininya cepat sekali," kata Arsa sambil berjalan ke arah Talita. Mereka berjanji untuk bertemu pada jam 6:30 malam, dan saat itu baru pukul 6:20. Untung saja tadi Arsa kepikiran jika dirinya harus sudah ada di tempat itu sepuluh menit lebih awal. Arsa malah tidak menyangka jika Talita malah lebih cepat datangnya daripada dirinya.


"Aku takut kamu akan lama nunggu aku. Jadi aku berangkat lebih lebih dulu." kata Talita sambil tersenyum. Setelah mendengar ucapan Talita, Arsa tidak dapat menahan diri untuk berkata meskipun awalnya, sesaat iya tertegun. Kata-kata dari Talita mengejutkan dirinyanya.


"Talita, sangat jarang gadis sepertimu yang mau memperhatikan para lelaki." Arsa tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata. Dulu ketika Arsa masih menjalin hubungan dengan Mila, Arsa lah yang selalu datang lebih dulu setiap kali mereka berkencan. Sedangkan Mila selalu datang terlambat. Terkadang Arsa harus menunggu lebih dari setengah jam. Mila juga mengatakan wajar jika perempuan terlambat setengah jam, dan sudah seharusnya laki-laki harus menunggu. Saat Arsa teringat akan hal itu saat ini, iya jadi berfikir jika Mila tidak sebanding dengan Talita. Talita saja merasa takut membuat Arsa menunggu lama. Sungguh wanita ini sangat perhatian.


Talita merasa tersipu saat mendengar Arsa berkata kalau dirinya perhatian.


"Ayo, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi masakanmu." kata Arsa sambil tersenyum .


Talita sudah biasa naik bus saat pulang, yang merupakan alat transportasi yang paling ekonomis. Sementara Arsa hanya mengikuti Talita berjalan menuju ke halte bus. Arsa pun dulu juga terbiasa pulang dengan bus karena dia tumbuh besar sebagai orang miskin. Baginya, hal itu adalah kebiasaan.


Saat sudah berada di dalam bis. tiba-tiba Talita mengulurkan tangannya, menarik lengan baju Arsa, sambil tersenyum, Talita berbisik pada Arsa.


"Arsa, postingan siaran langsung tentang William di halaman web kampus tidak ada hubungannya denganmu kan? " Talita bertanya. Talita tahu tentang taruhan antara Arsa dan William. Siapa pun yang kalah harus makan kotoran di tengah-tengah halaman kampus. Tapi ini malah di lakukan secara live. Talita tak mengerti dengan kejadian ini.


Hingga postingan Live tersebut tiba-tiba muncul di halaman web kampus. Yang menurut Talita, William tidak mungkin melakukannya secara sukarela.


"Setau aku, William adalah orang sombong. Dan ia juga menggunakan segala macam cara untuk menjatuhkan orang yang berani melawannya." Kata Talita dengan penasaran.

__ADS_1


"Lalu, siapa yang memaksa William untuk menepati janjinya dan menyiarkan secara Live di web kampus? Ngga mungkin kamu kan? " Talita mengulangi pertanyaannya lagi karena penasaran.


"Apa kamu melihatnya juga? " tersenyum.


"Saya tidak ingin menonton video seperti itu. Saya takut kalau nantinya tidak bisa makan karena terus terbayang-bayang. Tapi video ini menjadi viral di kampus. Tentu saja aku tahu." kata Talita.


"Aku sangat penasaran, apa yang kamu lakukan untuk membuat William benar-benar menepati janjinya, bahkan dia melakukan siaran langsung seperti ini? Pasti sangat sulit kan? " Tanya Talita karena iya ingin tahu, iya sangat penasaran.


"Bukan apa-apa. Tapi aku hanya ingin merahasiakan hal ini. Aku akan memberitahu kamu kalau waktunyabsudah tepat." Arsa pun tersenyum saat mengatakan itu kepada Talita. Iya belum mau mengungkapkan identitas aslinya kepada wanita di sampingnya itu, jadi Arsa tidak bisa menceritakan bagaimana dia bisa membuat William menepati janjinya.


"Baiklah, tapi aku ikut senang akhirnya William melakukan hal itu." Kata Talita dengan sedikit kecewa. Namun iya masih tetap tersenyum. Ada rasa puas di saat melihat video tentang William.


Alasan kenapa Arsa tidak ingin mengungkapkan identitasnya adalah sangat sederhana. Arsa takut jika Talita mengetahui identitas aslinya, wanita itu akan menjauhkan diri darinya. Dan yang lebih penting lagi, Arsa ingin berteman dengan Talita sebagai Arsa yang dulu. Dalam keadaan seperti itu, persahabatan yang terjalin karena ketulusan. Bukan di dasari dengan hal yang lain. Sementara Talita tidak mengatakan apa-apa setelah ia bertanya tadi. Tapi ia merasa jika Arsa mempunyai sebuah rahasia besar.


Bus yang ditumpangi oleh Arsa dan Talita berjalan dengan sangat lambat, sehingga membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk menempuh perjalanan sampai ke rumah Talita. Rumah Talita berada di lingkungan perumahan adat jaea. Rumah adat jawa tahun 90-an. Setelah turun dari bus tadi, mereka berdua berjalan menuju ke rumah Talita yang tidak jauh dari sana. Sambil berjalan, Talita dan Arsa saling mengobrol.


"Arsa, aku seharusnya mengajak kamu makan malam di restoran. Apakah kamu keberatan aku meminta kamu untuk datang ke rumah dan aku hidangkan masakan rumahan? " tanya Talita. Bukannya Talita tidak mau mengajak Arsa ke restoran. Tapi karena dia tidak punya uang dan tidak mampu pergi ke restoran.


"Kenapa aku harus keberatan? Aku lebih suka mencoba masakanmu daripada makan di restoran. Kalau kamu memasak sendiri untukku, kamu akan lebih menunjukkan ketulusan di hatimu. Iya kan? " Arsa pun tersenyum saat mengatakan ini.


Di saat yang bersamaan, Talita dan Arsa sedang berdiri di halaman. Tiba-tiba saja pintu rumah tetangga Talita terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dengan satu kantong plastik sampah di tangannya. Kelihatannya ibu-ibu itu mau membuang sampah.


"Hei Talita, kenapa kamu mengajak pulang orang asing? " Wanita paruh baya tersebut berkata sambil melirik Arsa dari atas ke bawah.


"Selamat malam bu Mia, ini dia teman sekelasku." Jawab Talita.


"Teman sekelasmu? Kenapa penampilannya sangat tidak meyakinkan sebagai seorang mahasiswa? Kamu itu seleranya rendahan sekali. Apa yang kamu ajak pulang ini seorang lelaki hidung belang? " Ucap Wanita bernama bu Mia tersebut tanpa berfikir terlebih dahulu. Sedangkan Talita yang mendengar kata-kata seperti itu dari tetangganya pun merasa sangat terhina. Arsa pun juga merasa terkejut dengan ucapan wanita paruh baya itu.


"Bu Mia, kenapa Anda bisa memfitnah aku seperti itu? Aku bukan orang seperti itu? " jawab Talita dengan wajah sedihnya.


Saat Bu Emi menyebut dirinya pria hidung belang, Arsa masih bisa bersabar. Tapi yang di ucapkan oleh wanita itu, secara tidak langsung juga menyebut Talita sebagai seorang pelacur. Hal tersebut membuat Arsa merasa terhina juga.

__ADS_1


"Jangan beralasan... Aku tahu kamu selalu menjadi langganan pria yang seperti itu untuk menghasilkan uang. Aku sangat tahu bagaimana hidupmu." kata wanita paruh baya tersebut. wanita itu terlihat masih cantik. Tapi dari nada bicaranya yang aneh, Menunjukkan jika hatinya benar-benar busuk.


"Bu Mia, anda kenapa harus berkata seperti itu? " Talita semakin Sedih ketika mendengar ucapan ini. Matanya berubah sedikit merah seolah-olah ia akan menangis. Dan Arsa yang melihat hal ini pun sudah tidak bisa lagi melihat Talita dihina seperti itu oleh tetangganya.


"Orang macam apa Anda ini? ak2u merasa Kalau Anda ini hanyalah Tetangga. Apa yang anda ketahui tentang hidup Talita. Apakah menurutmu akan baik-baik saja kalau kamu memfitnah seseorang? " Arsa merasa jika wanita di depannya tersebut benar-benar keterlaluan.


"Beraninya kamu berbicara dengan nada tinggi seperti itu kepadaku. Tahukah kamu siapa anakku?" wanita paruh baya itu merasa tidak terima Arsa berkata. Ia pun menatap ke arah Arsa dengan tatapan seolah menantang.


"Aku tidak peduli siapa anakmu. leb2ih baik sekarang tinggalkan kita. Kalau tidak, anda akan tahu akibatnya karena anda telah menghina, memfitnah dan merendahkan orang lain." kata Arsa dengan sedikit emosi.


"Kamu itu, baju aja lusuh kaya gini masih di pakai saja. Kamu tidak mampu membeli baju baru? Hal ini benar-benar lucu, sama seperti kamu." ucap wanita tersebut sambil menunjuk ke arah Talita.


"Dan kamu... Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu kepadaku."Wanita bernama Mia tersebut menatap Arsa dari atas sampai bawah dengan kedua tangan menyilang di dada. Karena di lihat dari penampilannya, baju Arsa yang terlihat lusuh itu menandakan jika Arsa adalah orang miskin. Jadi bu Mia sama sekali tidak mengindahkan perkataan Arsa.


"Arsa sudah... Jangan berdebat dengan dia." Talita menarik lengan Arsa. Meskipun Talita sudah di hina, iya selalu menerima semuanya selama bertahun-tahun daripada harus berdebat yang tidak penting. Talita selalu menahan emosinya. Tidak penting menanggapi tetangga bermulut ember layaknya orang gila seperti bu Mia itu. Jika saja Talita tidak menarik lengan Arsa, sudah pasti Arsa akan menampar pipi wanita tua tak tahu diri itu.


Talita... Kamu ini seumuran dengan Vera kan. Tapi kamu benar-benar tidak sebanding dengan anakku. Vera saja sudah menjadi manager, terus kamu masih kaya gini aja." Bu Mia masih belum mau berhenti sampai di situ. Iya masoh menatap Arsa dan talita dengan angkuhnya.


"Apa yang kamu fikirkan tentang dirimu sendiri. Masa depanmu apa ya masih akan tetap suram seperti saat ini." Kata Bu Mia dengan nada menghina. Wanita paruh baya itu snagat jelas memamerkan keberhasilan anaknya kepada Talita. Iya tidak ragu untuk mengejek dan menghina Talita.


"Maaf Bu Mia. Aku ada suatu hal yang harus di selesaikan. Permisi." Kata Talita. Dia segera mengeluarkan kunci dan langsung membuka pintu. Iya tidak ingin bertengkar dengan tetangganya yang memiliki mulut licin itu.


Tiba-tiba saja ada seseorang lagi yang muncul dari pintu rumah bu Mia. Arsa menatap dengan jelas wanita muda tersebut. Wanita dengan make up tebal, sepatu hak tinggi serta baju yang terbuka.


"Anakku. Kamu datang. Kamu mau berangkat kerja ya? " Kata bu Mia. bertanya kepada anaknya. Anaknya yang mendengar pertanyaan itu mengangguk tersenyum. Sudah pasti jika wanita muda yang keluar dari rumah itu adalah anak dari bu Mia. Seorang brnama Vera yang baru saja dibicarakan oleh bu Mia. Ketika dia melihat Arsa dan Talita, dia terdiam sejenak, lalu tersenyum.


"Hei Talita, apa kamu mengajak pulang pacarmu? " tanya Vera dengan nada menghina.


"Pacar macam apa dia? Lebih terlihat seperti lelaki hidung belang sih." Kata bu Mia dengan jahat. Dan di saat Vera mendengar apa yang dikatakan ibunya, dia langsung menutup mulutnya dan tertawa.


"Bu, jangan bicara bicara sembarangan. Pakaiannya saja sangat lusuh, aku sangat yakin kalau dia tidak punya uang untuk membayar pelacur. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi sugar daddy? Mungkin dia hanya ingin mendapatkan gratisan atas nama cinta." Kata Vera juga ikut menghina.

__ADS_1


"Kamu benar nak. Apa yang kamu katakan itu benar." Bu Mia pun mengangguk.


"Talita, karena kita sudah berteman dari dulu, maka izinkan aku untuk memberi kamu saran. Jangan memilih pria miskin sebagai pacar. Kamu tidak akan punya masa depan." Vera berkata sambil menatap Talita dan terdengar dari ucapannya sebagai hinaan.


__ADS_2