Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Dendam Masa SMP


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


"Atma sangat efisien dan cekatan. Dalam waktu kurang dari tiga menit, dia membawa pemilik hotel dan lebih dari 10 satpam datang ke tempat itu.


"Tuan Arsa, yang ini adalah Yuan Julio, pemilik Sinar Hotel." kata Atma sambil tersenyum. Dan pemilik memberi hormat kepada Arsa.


"Tuan Yuan , saya tidak suka berkelahi. Minta satpam Anda untuk memukuli orang ini untuk saya. Apakah tidak masalah? Jangan terlalu kejam, selama dia masih bernafas. Aku biarkan satpam anda berbuat terserah yang mereka mau." Arsa menunjuk pria yang berlutut itu, si Willy. Setelah mendengar kata-kata ini, sudut mata semua orang berkedut hebat. Dan yang ada hanya nada suara Arsa yang terdengar geram. Sedangkan Willy yang mendengar apa yang Arsa katakan, matanya menjadi membulat merasa ketakutan.


"Baik tuan, saya siap melaksanakan perintah anda dengan sebaik mungkin." Yuan mengangguk berulang-ulang kali. Setelah itu, si bos Yuan langsung memerintahkan kepada para security.


"Pukul dia seperti yang tuan Arsa katakan, selama dia masih bernafas, jangan ragu-ragu untuk bertindak." kata Yuan sambil berusaha menarik diri untuk mencari muka ke Arsa. Setelah perintah itu, hampir 17 satpam menyerbu dan menghajar Willy.


"Tolong aku! Tolong aku! Arsa, tolong maafkan aku! " kata Willy yang terus memohon. Willy yang dipukul berulang kali berteriak dan memohon belas kasihan. Para tamu yang hadir dalam pesta pernikahan dan melihat adegan ini merasa ketakutan. Tapi tidak ada yang berani berbicara, apalagi usil. Atau bahkan menolong Willy.


Dan mereka yang pernah menyinggung ataupun memprovokasi Arsa sebelumnya, sekarang gemetar ketakutan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir banyaknya hadirin untuk berbicara kembali dengan CEO Kendi Grup.

__ADS_1


Arsa memandang Willy yang tergeletak di atas lantai. Wajahnya garang, tidak menunjukkan rasa belas kasihan sama sekali. Karena Arsa masih merasa belum membalaskan semua yang di lakukan Willy dulu, dia terdiam, terlihat memikirkan sesuatu. Akhirnya, satu hal terlintas dalam benaknya. Sesuatu yang tidak akan pernah Arsa lupakan sejak hari di mana Willy menyakitinya.


Dulu, willy memanggil teman-teman satu gengnya untuk memukulinya secara brutal. Padahal, Arsa sudah memelas dan memohon untuk di kasihani. Tapi Willy dengan geram melakukan hal keji di usianya yang masih sangat bocah.


Praktik yang di lakukan oleh Willy dulu, kini akan di terapkan oleh Arsa. Kira-kira sepuluh menit kemudian. Arsa masih ingat, karena Willy merebut pacar serta memukuli dirinya, dia mengalami gangguan mental. Butuh lebih dari satu tahun baginya untuk pulih ke keadaan semula. Bukan hanya itu, nilainya juga menurun drastis akibat kejadian itu. Padahal, saat itu dia hanya ingin memastikan kebenaran dan ingin bicara baik-baik. Tapi Willy malah melukai hati dan menghancurkan mentalnya.


Sejak saat itu, Arsa tidak mampu membuqng rasa dendam di hatinya. Tapi, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Tapi sekarang, di moment pernikahan sang mantan yang menjadi sumber masalah itu, Arsa memberikan balasan kembali.


"Hentikan sekarang juga! " Arsa melambaikan tangannya. Belasan penjaga keamanan berhenti setelah mendengar instruksi ini. Arsa berjalan ke arah Willy yang sudah tak punya daya lagi. Saat ini, Willy terbaring di atas lantai dan terlihat sekarat, wajahnya memar tak berbentuk lagi, seperti anjing yang akan mati, merasa sangat terhina.


"Willy, apakah kamu masih ingat bagaimana kamu menginjak wajah ku saat itu setelah kamu menyuruh beberapa orang memukuli aku? Tahukah kamu, jauh di lubuk hati dan pikiranku, aku berkata pada diri sendiri. Jika suatu hari nanti, aku akan membalas dendam padamu. Dan aku akan membuat kamu mengalami hal yang sama persis dengan yang aku rasakan hari itu? Aku telah menunggu hari ini sangat lama." kata Arsa dengan geram. Sepuluh tahun yang lalu, kejadian serupa di alami oleh Arsa yang belum tahu apa-apa. Arsa sendiri tidak menyangka akan bisa membalas dendam sepuluh tahun kemudian. Mungkin ini bisa di jadikan kata-kata. 'Belum terlambat bagi seorang pria untuk membalaskan dendamnya!'


Willy yang terinjak di atas lantai terbatuk beberapa kali, setelah itu, iya memuntahkan darah, wajahnya putih sepucat salju. Adapun dalam hati Willy saat ini, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


"Aku akan memberimu saran. Jangan tinggal di Kota Surabaya setelah kamu sembuh nanti. Kalau tidak, aku akan menemuimu dan membuangmu ke tempat yang jauh sekali." Setelah Arsa mengatakan kalimat ini, dia berbalik dan mengabaikan Willy.


"Tuan Atma, tuan Yuan. Pernikahan ini tidak akan saya hadiri hingga selesai. Saya akan pergi dulu. Kalian kembalilah ke aktivitas masing-masing dalam pesta ini. Lanjutkan perayaannya." Arsa berkata dengan tenang. Ketika Atma dan tuan Yuan mendengar kata-kata Arsa, mereka langsung menutup mulut karena gembira. Sungguh keuntungan yang luar biasa bisa membuat Pimpinan Kendi berutang budi kepada mereka. Dan mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk bisa melakukan hal seperti ini lagi.


"Kami akan mengantar Anda keluar tuan Arsa." Kata tuan Atma dan tuan Yuan secara serempak. Mereka pun mendampingi Arsa keluar. Dua orang itu sangat menggunakan kesopanan saat berkata dan bersikap kepada Arsa.


"Kalian berdua, saya akan mengantarkannya juga." tiba-tiba Felisa berseru.


"Suamiku, biar saya mengantarkan tuan Arsa pergi juga." Kata Felisa lagi kepada mempelai pria. Usai berbicara, Felisa pun segera menyusul. Tuan Atma dan Tuan Yuan mengantarkan Arsa sampai ke Lamborghininya. Setelah Arsa selesai mengucapkan terima kasih, dia membuka pintu mobil dan langsung masuk.


Saat Arsa masuk ke dalam mobil dan hendak menutup pintu, Felisa berlari mendekat ke Arsa.


"Arsa, tunggu sebentar!" Felisa memanggil Arsa.


"Apa yang kamu inginkan lagi?" Arsa menatap Felisa dengan tenang.

__ADS_1


"Arsa, kamu adalah cinta pertamaku, sebenarnya... Kamu selalu ada di hatiku selama ini, bisakah kamu memberiku kesempatan lagi, kurasa kita bisa mulai lagi semua ini dari awal." Felisa menggigit bibirnya dan berkata.


"Ya Tuhan. Felisa... Apa kamu tidak malu pada dirimu sendiri? Maafkan aku, tapi kamu tidak pantas untukku!" Arsa mengeluarkan kata-kata itu dan langsung menutup pintu mobilnya. Dengan deru mesin yang mulai menyala, Lamborghini itu pun pergi meninggalkan Felisa. Dan hanya menyisakan debu dan Asap di sana. Felisa menatap siluet Lamborghini yang baru saja pergi, matanya berbinar tapi rumit di artikan. Ada banyak hal yang tak bisa di jelaskan dari tatapan nya. Sepuluh tahun yang lalu, Felisa tidak pernah bermimpi, kalau cinta pertamanya yang telah hilang dari hati itu akan datang dengan keadaan yang berbeda. Karena dia hanya melihat ke bawah. Dia tidak percaya kalau Arsa akan mendaki naik ke puncak dan mencapai ketinggian yang tak terhingga. Hingga dia tidak bisa menggapai.


__ADS_2