Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Kendi Square


__ADS_3

Nayra merasa jauh lebih nyaman ketika mendengar Arsa mengatakan kalau iya akan membantunya. 


"Hmm, Anu, anak tuan Shemi Group ngajak aku makan siang sama dia. Katanya mau bicara tentang bisnis, tapi dia..." Nayra berhenti berbicara karena merasa ragu lagi. 


"Tapi yang sebenarnya dia inginkan adalah menginginkan sebuah hubungan yang romantis denganmu, kan, bukan hubungan pekerjaan?" kata Arsa sambil tersenyum.  Mendengar penjelasan Nayra, Arsa sudah bisa menebak. 


"Iya." Nayra menjawab dengan suara yang. 


"Benar seperti itu?" Arsa pun mengangguk. 


"Jadi, aku ingin meminta kamu untuk berpura-pura menjadi pacar aku, dan kita akan menemui anak tuan Shemi bersama. Kalau dia lihat aku udah punya pacar, dia tidak akan bisa mengejar-ngejarku lagi," kata Nayra menjelaskan. 

__ADS_1


"Dengan semua hal ini, bisa ngga kamu bantu aku? Nanti makan siang jam 12:30 hari ini." Suara manis Nayra terdengar merdu di seberang telepon. 


"Tidak masalah, aku akan membantumu. Kirimkan saja alamat restorannya," jawab Arsa secara langsung. Bagi Arsa, membantu Nayra dalam hal ini sangatlah mudah. Nayra pernah pernah membantu dirinya dalam keadaan terdesak, dan bantuan yang di inginkan oleh Nayra hanyalah tindakan kecil yang tentu saja bukan masalah besar. 


Tak lama setelah menutup telepon, Arsa menerima kiriman alamat dari Nayra. Makan siang di hotdeologi Restoran lantai 1 Kendi Square. Kendi Square adalah sebuah tempat umum terkenal di Kota Surabaya. Tidak mengherankan jika laki-laki yang mengajak Nayra memilih tempat tersebut. Karena tempatnya memang indah. Selain itu, pemiliknya adalah Kendi grub juga. Pemilik semua toko di sana juga adalah Kendi Grup. Jika seseorang ingin punya toko di sana, mereka harus menyewa kepada kendi Grup. Dan hal ini juga merupakan salah satu keuntungan besar bagi kendi Grup. 


Arsa mengemudikan Lamborghininya ke Kendi Square pada pukul 11:30.  Sebagai tempat paling diminati di kota Surabaya, Kendi Square selalu ramai dan tidak pernah sepi dari kunjungan orang-orang. Saat Lamborghini Daniel milik Arsa lewat, langsung saja menarik perhatian publik. Ada beberapa orang yang bahkan mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil foto. 


Setelah Arsa memarkir Lamborghininya, dia langsung berjalan menuju lift. Dia tadi langsung mendapat telepon dari Nayra tepat ketika menghentikan mobilnya. Nayra memberi tahu Arsa kalau dia sudah datang ke tempat yang di janjikan dan sedang menunggu dirinya di restoran. Tak jauh dari situ, sebuah BMW 8 datang dan melaju dengan sangat kencang. Dalam hitungan detik, Suara klakson mobil terdengar, sangat memekakkan telinga. Arsa pun merasa heran dengan kelakuan pemilik mobil itu. Bunyi klakson yang melengking itu sudah sangat jelas ditujukan kepada dirinya. Jalan menuju tempat parkir tidaklah lebar. Dan mobil BMW itu masih melaju kencang sekali.


"Kenapa sih dia mencet klakson seperti itu?" gumam Arsa. Melihat kedatangan BMW 8 yang melaju dengan cepat itu, Arsa lebih memilih untuk minggir. Bagaimanapun juga, hidup Arsa sangat penting. Kalau misalnya dia tertabrak, Arsa lebih memilih berada di rumah sakit ketimbang pemilik mobil yang ugal-ugalan itu. Tapi tidak menutup kemungkinan dia akan menuntut pengemudinya juga. 

__ADS_1


Di antara suara klakson yang terus berbunyi, BMW seri 8 itu melaju ke arah Arsa. Kaca spion mobil itu sedikit menyenggol dada Arsa. Wajah Arsa pun langsung berubah menjadi pucat, Arsa benar-benar mengumpat kali ini. Dia tidak sempat untuk mundur, dan mobil itu hampir menabraknya. Setelah kejadian itu, laju mobil itu juga tidak melambat.  Arsa merasa marah memikirkan hal ini. Dan saat itu pula, BMW itu berhenti tepat di depannya. 


Seseorang yang mengendarai mobil tersebut menurunkan kaca jendela dan langsung menatap ke arah Arsa. Arsa pun melihat dengan saksama seorang pemuda dengan rambut ikal yang duduk di kursi kemudi. 


"Hei, kamu ingin mati di sini? Apa kamu tidak tahu gimana caranya minggir? Kalau sampai kamu menggores BMW ku sedikit saja, apa kamu mampu untuk memperbaikinya? "Pria berambut ikal itu berteriak pada Arsa dengan suara lantang dan galak. 


"Kalau sampai kamu menabrak aku, hidupmu tidak akan pernah tenang!" Arsa berkata sambil menyipitkan mata dan langsung kembali menatap pemilik BMW itu. Arsa benar-benar sangat marah dan tidak terima saat memikirkan kalau misalnya dirinya tertabrak, sehingga dia tidak punya pilihan selain mundur. Pemilik BMW itu hampir menabraknya dengan laju mobil yang begitu kencang. Dia bahkan tidak meminta maaf, tapi dengan beraninya malah menyalahkan Arsa. Kalau hal ini terjadi saat Arsa belum siapa-siapa,  mungkin Arsa akan takut dengan pengemudi mobil semacam ini, tetapi sekarang Arsa tidak takut sama sekali.


Begitu kalimat dari mulut Arsa terucap, pria berambut ikal itu juga marah. 


"Kamu itu hanya orang miskin rendahan! Jangan berani-beraninya bicara seperti itu padaku. Atau aku akan membunuhmu! "Pemuda berambut ikal itu berteriak sambil membuka pintu mobil, seolah-olah dia sedang terburu-buru untuk menghajar Arsa. 

__ADS_1


"Kamu mau bunuh aku? Lebih baik kamu lihat mobilmu itu." Arsa tersenyum dingin. Pria berambut ikal yang hendak bergegas ke depan ke arah Arsa itu menoleh ke samping dan melihat mobilnya melaju ke depan. Ternyata tadi ia buru-buru turun dari mobil hingga lupa mengaktifkan rem tangan yang mengakibatkan mobil tidak bisa diam di tempat. BMW itu melaju dan menabrak sebuah mobil di tempat parkir. 


__ADS_2