Pewaris Tak Terlihat

Pewaris Tak Terlihat
Strata sosial.


__ADS_3

"Semuanya sudah siap. Selamat menikmati. " setelah mengucapkan hal tersebut, Vera pun bersiap untuk pergi dari ruangan tersebut. Ia berkata dengan senyum yang dipaksakan saat mempersilahkan Arsa dan Talita untuk menikmati hidangannya. Dia harus menggigit lidahnya agar rasa kesalnya itu tidak diketahui.


"Tunggu dulu, jangan pergi." Arsa menghentikan langkah Vera.


"Apa ada yang lain yang anda butuhkan? " Vera pun menoleh untuk melihat ke arah Arsa.


"Kamu duduklah di sini dan minumlah bersamaku. "Arsa Melambaikan tangannya dengan pelan. Mendengar apa yang diperintahkan oleh Arsa, Vera pun mengerutkan keningnya karena heran.


"Apa yang kamu katakan? Kamu ingin aku menemanimu? Maaf. Aku adalah manajer disinj dan bukan salah satu pelayan! Jika kamu mau, aku bisa memanggil satu pelayan untukmu." jawab Vera.


"Bermimpilah." Kata Zara dengan kesal di hatinya. 


"Tidak, aku ingin kamu menjadi pelayan untik kali ini." Arsa tersenyum sambil menatap ke arah Lain.

__ADS_1


"Sayangnya, kamu tidak berhak menolak apa yang aku minta. Kalau kamu menolak, aku akan memanggil atasanmu." Arsa mencoba mengancam Vera.


"Lakukan saja kalau kamu ingin melakukan. Kamu pikir aku takut sama kamu? Aku Bukan Pelayan di tempat ini. Kalaupun kamu memanggil Bos tidak akan ada gunanya. " Vera pun akhirnya bisa membantah dengan status jabatan yang dimilikinya. Saat ia sudah selesai mengatakan semuanya, dia langsung pergi. Lagi Vira, sangat memalukan untuk minum bersama Arsa dan Talita. Kalau hal itu sampai terjadi, Talita akan menertawakan dirinya karena menjadi pelayan mereka. Jadi pada dasarnya, Vera hanya ingin menghindari penghinaan dengan cara apapun.


"Jangan khawatir, Aku pastikan kalau kamu akan sangat menyukainya." Arsa pun tersenyum dingin di belakang Vera yang ingin meninggalkan tempat itu.


"Bajingan, aku tidak menyangka kalau dia ingin aku menjadi pelayan. "Setelah berjalan sedikit menjauh dari arah dan Talita Iya Pun mengepalkan tinjunya sambil berkata.


"Kita lihat saja nanti. Kamu bisa bangga pada dirimu sendiri saat ini. Tapi nanti Saat kamu check out dan kamu melihat tagihan yang sangat mahal Aku ingin tahu apa yang bisa kamu lakukan. " karena kesal, biarpun mengatakan itu untuk sedikit membuat hatinya merasa lebih baik.


"Arsa, lupakan saja rencanamu tadi. Aku merasa puas karena sudah bisa melihat kamu membuat Vera merasa tidak sombong lagi." Pada Talita tampak serius. Yang Talita tahu, orang yang bisa membuka usaha bar seperti ini pasti orang yang sangat kaya. Talita merasa takut kalau saja keadaan semakin tidak terkendali. Dan bahkan bisa menyakiti Arsa sendiri.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. " kata Arsa sambil tersenyum. Setelahnya Arsa menuangkan sebuah anggur merah ke gelasnya.

__ADS_1


"Talita, ini anggur merah yang terbaik, ayo kita coba." Kata Arsa kepada Talita yang duduk di sampingnya.


Sekitar lima menit kemudian, seorang pria paruh baya berperut buncit muncul di depan Martin Arsa. 


"Selamat malam tuan. Nama saya Ali Fernando. Saya pemilik bar ini. Apa yang bisa saya bantu?" tanya Ali. Saat Ali mendengar sebuah keributan, iya tidak berminat untuk datang. Karena hal seperti ini sering terjadi. Tapi, setelah iya mendengar pelayan mengatakan kalau tamu tersebut memesan anggur lebih dari 6 juta, dia langsung mau keluar intuk melihat tamunya dengan mata kepalanya sendiri.


Arsa menyesap anggurnya lalu berkata dengan pelan.


"Tuan Ali, saya ingin Vera, manajer bar Anda datang untuk minum bersama ku." Kata Arsa.


"Tuan, Vera adalah manajer, bukan pelayan. Jika Anda ingin seseorang menemani Anda, saya dapat membantu Anda menemukan beberapa pelayan yang lebih baik dari Vera. Bagaimana kalau begitu? " Kata Arsa sambil tersenyum .


Arsa meletakkan gelasnya lalu mengeluarkan kartu ATM dan meletakkannya di atas meja, iya berkata dengan pelan.

__ADS_1


"Tidak... Saya ingin dia yang menemani kita minum anggur." kata Arsa.


"Kartu VIP Mentari bank!" Gumam Ali. Iya langsung mengenali kartu bank yang baru saja di letakkan Arsa tadi. Setelah melihat kartu ini, Ali terkejut, dan caranya memandang Arsa pun juga berubah menjadi sangat hormat. Karena dia tahu kalau ingin memiliki kartu ini, nasabah harus menyetor setidaknya 1 milyar dalam 1 bulan. Dan ada batasan jumlah kartu yang dikeluarkan. Jika nasabah bank ingin mendapatkan kartu ini, tidak hanya uang yang dibutuhkan, tapi juga status. Ali belum bisa mendapatkan kartu ini. Dengan kata lain, hanya karena Arsa mengeluarkan kartu ini, dia bisa menilai bagaimana finansial dan status Arsa. Ali merasa takut karena status Arsa berada di atasnya. Dan kartu itu juga menunjukkan kalau Arsa adalah sang bos. Ali tidak boleh menyinggung perasaannya. 


__ADS_2