
Di dalam Gedung Kendi Grub cabang Surabaya. Arsa Kenandra sedang berdiskusi dengan Fendi, sang general manager. Mereka sedang berunding untuk segera merobohkan Panti Asuhan Kasih bunda karena sudah mendapat persetujuan dari pihak panti asuhan. Setelah memberi tahu General Manager perusahaan, si Fendi. Secara langsung, Fendi mengatakan bahwa Arsa adalah orang yang baik. Fendi mengatakan kalau lokasi tanah di mana panti asuhan ini berada sangat lah bagus. Jika dikembangkan sebagai rumah dengan distrik sekolah, rumah itu benar-benar akan diminati. keuntungan kalau misalnya proyek ini benar-benar di realisasikan, pasti akan menghasilkan 300 hingga 500 juta rupiah. Fendi berkata kalau dia sudah menyukai tanah itu sebelumnya. Tapi, karena bangunan di atasnya itu adalah panti asuhan, dia tidak tega melakukannya.
"Saya tidak berani berpikir untuk bisa mendapatkannya tuan." kata Fendi. Arsa tentu saja merasa sangat senang, setelah iya mengambil alih perusahaan Kendi cabang Kota Surabaya, keuntungan yang diperoleh di tahun itu dapat meningkat secara signifikan. Hal Ini juga merupakan sebuah demonstrasi kemampuannya, yang juga dapat menunjukkan kepada kakeknya, bahwa dia telah hidup sesuai dengan harapannya ketika dia menyerahkan perusahaan kepada dirinya.
Untuk panti asuhan yang baru, Fendi mengatakan dia mengenal seorang pemilik panti asuhan yang tidak terpakai. Arsa meminta Fendi untuk segera menghubunginya. Panti asuhan ini dibangun sekitar 2 tahun yang lalu. Setelah dibangun, tidak digunakan karena beberapa alasan, sehingga ditinggalkan begitu saja di sana.
Pemilik panti asuhan itu mengatakan kalau mereka perlu membayar sekitar satu milyar. Bangunan itu sudah sangat besar dan modern. Dan fasilitasnya sudah sangat lengkap. Karena belum pernah ada orang yang tinggal di dalamnya, panti asuhan tersebut benar-benar masih baru. Kalau ada panti asuhan yang sudah jadi, tentu itu adalah suatu hal yang terbaik, agar anak-anak bisa langsung pindah. Toh, bangunan utama Panti Asuhan Kasih bunda sudah dihancurkan hari ini oleh Wasis, lalu, di mana mereka harus menempatkan anak-anak? Ini adalah masalah sejak awal.
Pihak dari panti asuhan baru itu ingin menjual sejak lama, tapi tidak ada sama sekali seorang pembeli yang mau menawarnya. Oleh karena itu, Fendi merasa cocok dan berhasil membelinya hanya dengan harga 700 juta.
Di Panti Asuhan Kasih bunda. Aprilia berjalan cepat ke Panti Asuhan Kasih bunda.
__ADS_1
"Aprilia, dia ke sini." Ketika Devina melihat Aprilia, dia langsung menyapanya dengan senyuman.
"Aku sangat senang melihat kamu baik-baik saja dan panti asuhan ini masih ada." Aprilia tersenyum merasa lega.
"Bukan hanya kita yang selamat dan panti asuhan yang masih ada, tapi sebelum Wasis Adiguna pergi, dia bisa di kalahkan oleh kita. Hingga akhirnya, dia harus memberikan kompensasi sebesar lima ratus juta." Devina berkata dengan gembira.
"Apa? Wasis Adiguna kehilangan lima ratus juta? Ada apa, Devina? Tolong ceritakan padaku apa yang terjadi." Aprilia tampak penasaran. Dia ingin tahu kejadian apa yang membuat Wasis Adiguna pergi dan kehilangan uang sebanyak itu.
"Apakah yang melakukan semua ini dia lagi? Jadi dia melakukan bantuan besar lagi ke Panti Asuhan Kasih bunda?" kata Aprilia terkejut.
"Iyaa. Dia adalah orang yang sangat dermawan. Seseorang yang menyumbangkan uang dengan nominal terbesar dari Panti Asuhan Kasih bunda kita! " Kata Devina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, siapa namanya? Siapa dia?" tanya Aprilia, ingin tahu siapa pria dermawan dan baik hati ini.
"Nama lengkapnya adalah Arsa Kenandra." Di tengah kalimat Devina, ponselnya tiba-tiba berdering. Devina mengeluarkan ponselnya dan melihat kalau panggilan itu adalah dari Arsa.
"Aprilia, sang dermawan menelepon aku. aku akan menerima panggilan ini dulu." Kata Devina. Devina mengangkat telepon.
"Devina, Saya sedang dalam perjalanan ke panti asuhan saat ini. Saya akan segera datang ke Panti Asuhan Kasih bunda. Saya punya kabar baik. Nanti aku akan memberi tahu kamu secara langsung nanti. " Suara Arsa terdengar dari seberang telepon.
"Apakah tuan segera datang? Baiklah! Baiklah! " Devina mengangguk dengan gembira. Setelah menutup telepon, dia berkata,
"Aprilia, pria yang baik hati itu sedang dalam perjalanan ke sini. Bukannya kamu benar-benar ingin mengenal dan melihatnya? Kamu akan segera melihatnya nanti," kata Devina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Benarkah? Ayo kita menunggu dia di depan pintu untuk menemuinya. Aku harus berterima kasih padanya dengan baik! Aku harus berterima kasih padanya atas semua yang telah dia lakukan untuk Panti Asuhan Kasih bunda." kata Aprilia sambil tersenyum.