
"Jangan pergi!" Saat Arsa Kenandra sudah berbalik untuk pergi, sepasang tangan dengan gelang giok memeluknya dari belakang. Pada saat ini juga, efek obat sudah ada di kepala mereka, dan ketika bensin bertemu dengan kobaran api, mereka akan menyala dan langsung berkobar. Tata krama sudah tak di hiraukan lagi karena api nafsu yang begitu menggebu.
Setelah satu setengah jam berlalu, keduanya telah menyelesaikan pergulatan sengit itu. Keduanya tertidur dalam keadaan mengantuk yang sudah tak bisa di kendalikan lagi.
Tiga jam kemudian.
Ini adalah pertama kalinya Arsa melakukan hal seperti ini kepada seorang wanita. Dengan kepala berat, Arsa mengakui, perasaan dalam hatinya terasa luar biasa.
"Ah, apa yang terjadi?" Diiringi dengan teriakan pelan, Arsa terbangun. Dia duduk dari tempat tidur dengan perasaan teramat kaget. Saat menoleh ke samping, ternyata wanita yang tadi bersamanya juga perlahan mengerjabkan matanya mencoba untuk bangun. Sudah bisa di pastikan, Rita juga pasti berteriak histeris.
Di saat yang bersamaan, Rita segera menutupi dirinya yang polos dengan selimut, lalu menatap Arsa seperti seorang kanibal.
"Kamu bajingan! Kamu... Apa yang kamu lakukan padaku!" teriak Rita kesal.
"Rita, kamu yang tadi terus teriak dan kamu juga yang memulai sebelumnya. Jangan bilang kamu sudah lupa dengan apa yang baru saja terjadi," kata Arsa tak berdaya. Meskipun pengaruh obat itu baru saja hilang efeknya, bayangan akan pergulatan panas waktu itu masih ada di dalam fikiran keduanya.
__ADS_1
"Bajingan! Bajingan! Bajingan! " Rita mengepalkan kedua tangannya lalu memukuli bahu Arsa dengan begitu geram.
"Kok aku yang bajingan, aku ingin pergi tadi. Aku sudah mencoba untuk tidak ingin menyentuhmu. Aku sudah berusaha untuk menahan efek obat itu." kata Arsa. Iya juga tak mau di salahkan. Setelah terdiam beberapa saat, Arsa melanjutkan.
"waktu itu. Kamulah yang terlebih dahulu memelukku dan tidak membiarkan aku pergi." Kata Arsa tak berdaya lagi.
"Selain itu, sebotol anggur yang kita minum jelas di beri sesuatu, dan orang yang memberikan obat itu sudah jelas adalah papamu. Percuma kamu menyalahkan aku, aku juga korban di sini!" kata Arsa. Setelah itu, iya membuka selimut dan melihatnya. Ada noda darah berwarna merah di sprei, yang membuktikan kalau Rita juga baru pertama kali melakukan hal ini.
"Rita, apa pun alasannya, sekarang begini saja, aku hanya bisa bilang, kalau aku akan bertanggung jawab kepadamu." Arsa tiba-tiba menunjukkan keseriusannya. Meskipun Arsa tahu kalau mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa. Tapi bagaimanapun juga, karena semuanya sudah terjadi, Arsa hanya bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Rita. Setelah selesai berbicara, ia berniat untuk memeluk Rita.
"Pergilah! Siapa yang meminta tanggung jawab kepadamu! Dan tanggung jawab apa yang bisa kamu lakukan? " Rita ingin menyuruh Arsa pergi saja, dan dia tidak membiarkan Arsa menahannya.
"Oke kalau memang itu maumu." kata Arsa lagi.
"Omong kosong! Aku tidak peduli kamu mau bertanggung jawab atau tidak." kata Rita dengan mata merah, terlihat sangat memelas.
__ADS_1
"Pakai bajumu dan pergilah!" Rita menunjuk ke pintu dengan nada memerintah. Arsa berdiri dan segera mengenakan pakaiannya, sementara Rita menutup matanya dan tidak ingin melihat.
"Aku sudah selesai, buka matamu," kata Arsa dengan nada getir. Arsa memikirkan semua yang telah terjadi. dia merasa gila pada kejadian atas kebodohan dirinya sendiri. Dan sekarang dia melihat dirinya tak lebih dari seorang bajingan.
"Keluar!" Rita membuka matanya, tapi tangannya langsung menunjuk ke luar pintu dan berkata dengan nada tegas.
"Rita, kamu benar-benar tidak mau menganggapku tanggung jawabku atas dirimu? Apa kamu merasa aku tidak bisa bertanggung jawab atas dirimu." Arsa tampak serius. Meskipun sebelumnya Arsa tidak terlalu menyukai Rita sejak pertama kali keduanya bertemu, tapi Arsa bukanlah orang yang tidak bertanggung jawab.
"Kamu tidak bisa bertanggung jawab apapun. Sekarang Keluar... Keluar! Keluar!" teriak Rita dengan panik. Arsa benar-benar ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi, tapi Rita menolak itu mentah-mentah. Apa lagi yang bisa Arsa lakukan? Akhirnya, Arsa pun menuruti keinginan Rita dan segera keluar dari kamar itu.
Setelah turun, Arsa berbalik dan berjalan keluar ruangan setelah melihat ke belakang. Di belakangnya terdengar teriakan Rita. Begitu sampai di bawah, iya melihat Endrow yang sedang duduk di sofa.
"Tuan Arsa, Anda sudah turun? Di mana anak perempuan saya? " Endrow yang melihat Arsa turun segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Arsa.
"Dia masih di atas," jawab Arsa santai. Setelah itu, Arsa menatap Endrow dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Tuan Endrow, kamu sangat kejam sekali, Rita ini putrimu sendiri, kamu benar-benar telah menipu anakmu sendiri. kamu benar-benar menjerumuskannya." kata Arsa dengan nada dingin. Bagi Endrow, mungkin tidak ada gunanya untuk mengharapkan tuan muda lain. Karena Arsa ini adalah cucu dari Andi Sudiryo, orang terkaya di Surabaya, dan dengan kejadian ini, dia merasa hal itu sangat berharga meskipun harus mengorbankan putrinya sendiri. Endrow pun buru-buru menjawab.
"Tuan Arsa, putri saya adalah anak yang baik, dan Ini pasti adalah pertama kalinya dia melakukan hal ini. Anda harus bertanggung jawab padanya!" kata Endrow.